Review Film Warkop DKI Reborn 3 (2019): Penuh Tawa Tapi Hambar Terasa

Tak ada yang bisa menggantikan sang legenda!

cover film Warkop DKI Reborn 3

Akhirnya, Warkop DKI kembali dengan pemeran baru (lagi) dalam film Warkop DKI Reborn 3. Seperti pendahulunya, masih tetap menghadirkan kelucuan yang sama – bahkan mungkin lebih banyak – dibandingkan dua pendahulunya. Sayangnya, cerita yang kurang padat dan tidak kuat masih menjadi penghalang untuk melestarikan cerita dari sebuah grup komedian legendaris yang biasanya nyaman dinikmati ini.

Sama seperti film Warkop DKI lainnya, cerita dibuat berdasarkan satu plot asli dengan beberapa sketsa yang disajikan dari awal hingga akhir. Hasil karya Rako Prijanto selaku sutradara dan penulis bersama Anggoro Saroto mengisahkan tentang tiga sahabat Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), dan Indro (Randhy Danistha) yang bekerja sebagai penyiar di salah satu radio.

Warkop DKI di padang pasir menaiki onta
via Falcon Pictures

Ketiganya menarik perhatian Komandan Cok (Indro Warkop), seorang pimpinan badan intelejen. Dia  ingin merekrut ketiganya sebagai agen rahasia untuk menyelesaikan kasus pencucian uang di dalam industri perfilman Indonesia. Dan cerita pun berkembang hingga mereka mengenal pemilik rumah produksi Amir Muka (Ganindra Bimo) serta aktris terkenal Inka (Salshabillla Adriani).

Namun ketika berusaha untuk menyelesaikan kasus tersebut, ketiganya tiba-tiba terdapar di sebuah gurun pasir di Maroko. Cerita pun berlanjut hingga mereka menyelamatkan Aisyah (Aurora Ribeiro), anak dari seorang kepala desa di Maroko. Lalu bagaimana dengan tugas rahasia yang diberikan oleh Komandan Cok?

Cerita dan sketsa khas Warkop DKI

Layaknya film Warkop lainnya, ada banyak cerita sampingan atau sektsa yang bertujuan sekadar untuk komedi atau pelengkap cerita. Film Warkop DKI Reborn 3 menghadirkan satu jalan cerita utama dengan beberapa sketsa pendamping yang dipasangkan untuk menjaring tawa. Ya, masih mengandalkan pola yang sama.

dua pemeran utama film Warkop DKI Reborn 3

Hanya saja, meskipun mengambil genre komedi, tetap saja ada banyak hal yang mengganjal dari awal hingga akhir. Plot yang mengambil esensi dari film lain serta jalan cerita yang mudah ditebak bisa diabaikan. Sayangnya, alur yang melompat-lompat dan tak beraturan menunjukkan lemahnya cerita yang diberikan.

Transisi dari satu tempat ke tempat lain serta plot terkesan dipaksakan. Beberapa adegan bahkan menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Alur yang paling membingungkan adalah ketika ketiganya terdampar ke Maroko: tak disangka dan penuh pertanyaan. Layaknya membagi film menjadi dua bagian, part A dan part B.

awal mula film Warkop DKI Reborn 3
via Falcon Pictures

Sama seperti Wakrop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dan 2, rangkaian ketiga pun dibagi menjadi dua bagian. Namun cliffhanger (plot mengejutkan di akhir yang membuat penasaran untuk cerita selanjutnya) malah membuat bertanya-tanya. Semoga di film kedua, plot dan jalan cerita dibuat lebih padu dibandingkan yang pertama.

Mengkritik dalam tawa

Salah satu kekuatan dalam setiap film Warkop DKI adalah kedekatannya dengan masyarakat. Walaupun mengambil sudut pandang yang berbeda-beda, namun mereka mengambil garis merah yang sama: merepresentasikan masalah yang terjadi di masyarakat pada waktu itu. Dan untuk hal ini, Rako dan Anggoro sang penulis naskah terlihat kesulitan menyajikannya.

Adipati Dolken sebagai Indro
via Falcon Pictures

Untuk urusan menghadirkan tawa bagi penonton, tak ada yang salah dengan film ini. Trio Aliando, Adipati, dan Randhy tampil menghadirkan karakter yang cukup menawan. Kudos untuk Aliando dan Adipati yang sangat berhasil merepresentasikan karakter Dono dan Kasino bersama gerak gerik hingga cara bicaranya.

Semua film Warkop DKI selalu identik dengan kritikan pada sebagian besar tema yang dihadirkan. Bahkan dibalik semua kekonyolan dan kelucuan yang diberikan oleh Warkop DKI di masa lalu, semuanya memiliki kritikan tersendiri terhadap masyarakat, bahkan penguasa.

Berbagai sindiran terhadap masyarakat, terlebih industri perfilman bisa dirasakan. Kelucuan pun bisa didapatkan dari perjalanan trio Warkop yang ingin masuk ke dunia perfilman Tanah Air dengan referensi terhadap film-film box office Indonesia. Seperti Ada Apa Dengan Cinta, Pengabdi Setan, bahkan Ayat-Ayat Cinta.

Aliando Syarief sebagai Dono
via Falcon Pictures

Namun sayangnya, hanya sedikit kritikan yang bisa ditangkap dari beberapa jokes yang ada di dalam film ini. Sebagian sindiran hanya sekedar untuk memberikan tawa, that’s it. Apa memang film ini hanya digunakan untuk lucu-lucuan saja? Belum lagi beberapa jokes seksis yang mungkin mengganggu, mengingat film ini ditujukan untuk usia 13 tahun ke atas.

Perlukah reboot pemeran?

Sebelumnya, reboot pertama menggandeng Abimana, Vino, dan Tora Sudiro sebagai reinkarnasi dari karakter Dono, Kasino, dan Indro meskipun Pakde Indro yang notabene sebagai anggota asli terakhir yang masih hidup turut serta dalam semua film reboot-nya. Dan kali ini, Aliando, Adipati, serta Randhy menjadi bagian dari keluarga besar Warkop.

pemeran utama film Warkop DKI Reborn 3
via Falcon Pictures

Setidaknya, semua pemeran yang pernah menjadi Dono Kasino Indro, baik pada masa Abimana maupun hingga Aliando saat ini, berhasil menghidupkan kembali karakter yang sudah ditinggal pergi pemilik aslinya. Masalah sebenarnya adalah cerita yang masih dangkal. Walaupun bisa dilihat betapa besar budget dan skala film ini dibandingkan versi aslinya.

Dan menjadi pengganti bukanlah hal yang mudah. Tak sedikit penonton yang akan membandingkan dengan personil asli. Inilah yang membuat ekspektasi bertambah dengan harapan kembalinya kejayaan Warkop DKI. Ini pastinya juga berdampak pada keinginan untuk mendapatkan cerita dan komedi yang sama, bahkan lebih ketika disandingkan dengan film orisinilnya.

Di awal film, Indro sendiri menyebutkan (secara eksplisit) bahwa pergantian pemeran yang dilakukan adalah untuk melestarikan karakter yang ada di dalam film. Tapi dibandingkan mengulang nostalgia masa lalu, memperkenalkan kelompok baru yang lebih menyatu dengan kondisi dan generasi saat ini sepertinya ide yang lebih baik.

trio Dono Kasino Indro di gurun pasir
via Falcon Pictures

Kesuksesan Warkop DKI tercipta karena cerita yang diberikan sesuai dengan kondisi pada saat itu. Sehingga membuat film mereka melekat dan menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Namun sangat sulit untuk mengulang kembali legenda Warkop DKI dalam film baru dengan pemeran yang baru kecuali tanpa representasi serta cerita yang menarik untuk disaksikan.

Secara keseluruhan, penulisan cerita yang terlihat malas dan tak beraturan seakan menjadi penghambat keseruan menimati kelucuan yang disajikan. Namun keinginan melestarikan Warkop DKI bisa terbayar lunas bersama cerita baru dan pemeran yang lebih muda. Tetapi sekali lagi, tidak ada yang bisa menggantikan orisinalitas yang dimiliki oleh pemeran aslinya. 

Rating: 5/10

Genre: Komedi

Sutradara: Rako Prijanto

Penulis: Anggoro SarontoRako Prijanto

Pemeran: Aliando SyariefAdipati DolkenRandhy Danistha

Review
  • 5/10
    Review Film - 5/10
5/10

Summary

Secara keseluruhan, penulisan cerita yang terlihat malas dan tak beraturan seakan menjadi penghambat keseruan menimati kelucuan yang disajikan. Namun keinginan melestarikan Warkop DKI bisa terbayar lunas bersama cerita baru dan pemeran yang lebih muda. Tetapi sekali lagi, tidak ada yang bisa menggantikan orisinalitas yang dimiliki oleh pemeran aslinya. 

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.