Review Film Puss in Boots: The Last Wish (2022): Ringan, Tapi Kelam di Dalam

Film Puss in Boots: The Last Wish membawa kembali penonton dalam dunia animasi DreamWorks serta nostalgia dengan beberapa karakter di semesta Shrek. Tampil lebih dewasa, tapi tetap menyenangkan sebagai tontonan bersama keluarga yang penuh tawa sekaligus pesan mendalam tentang kehidupan.

Sinopsis film Puss in Boots: The Lash Wish

Puss in Boots (Antonio Banderas) dianggap sebagai legenda melawan raksasa batu yang menyerang sebuah desa. Walaupun ia menang, ia akhirnya mati karena kecerobohannya sendiri. Ia lalu bangun dan menyadari bahwa ia hanya menyisakan satu dari sembilan nyawa yang dimilikinya.

Perrito dan Puss
via DreamWorks

Setelah bertarung dengan Wolf (Wagner Moura) yang berhasil menyudutkannya, ia lalu menghilang. Ia melarikan diri dan tinggal di sebuah rumah penampungan kucing dimana ia bertemu dengan Perrito (Harvey Guillen).

Goldilocks (Florence Pugh) dan keluarga beruang datang untuk menyewa Puss mencuri peta yang mengarah pada bintang ajaib yang bisa mengabulkan permintaan. Tak mengindahkan Goldilocks, ia bergerak sendiri mencuri peta tersebut untuk menemukan bintang ajaib untuk mendapatkan kembali sembilan nyawa yang ia miliki.

Animasi yang lebih cerah

Mengambil premis dan cerita yang terasa segar, film ini dibuat lebih besar dibandingkan sebelumnya. Jokes yang bisa dinikmati semua umur dengan pesan haru, berganti-ganti dari komedi hingga drama yang membuat plot berjalan sangat dinamis.

Dibuat ringan, plot hadir dengan formula sama, di mana pengembangannya tak begitu jauh berbeda dengan permainan video game atau animasi anak-anak lainnya. Puss dan kelompoknya berlomba dengan karakter lainnya menemukan bintang harapan menelusuri hutan yang gelap.

karakter film Puss in Boots: The Last Wish
via DreamWorks

Sebagai pembeda di film pertama, The Last Wish menghadirkan desain animasi yang sama sekali baru. Gaya kartun dan garis yang lebih tegas membuat kesan komedi dan komikal semakin terasa, menjadikan film ini sebagai salah satu tontonan keluarga yang menyenangkan.

Bukan hanya itu, keseluruhan gaya animasi terasa mengagumkan. Sama seperti film Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018), The Last Wish berpindah-pindah dari gambar dengan frame rate 12 dan 24, tergantung dengan kepercayaan diri Puss.

Ketika Puss pertama kali melawan raksasa dari batu, animasi bergerak dengan cepat dan dinamis. Menandakan kepercayaan diri Puss yang meningkat. Tapi ketika ia berhadapan dengan Wolf, animasi melambat. Ia bagaikan kehilangan kepercayaan dirinya dan menyadari bahwa ia bisa dikalahkan.

Puss in Boots dan Wolf
via DreamWorks

Selain itu, kesamaan lainnya terdapat pada banyaknya palet warna cerah serta teknik warna seperti lukisan bisa ditemui di sepanjang film. Bukan hanya untuk memanjakan mata, tapi hal tersebut memberikan tampilan layaknya dongeng untuk menunjang penceritaan dan nuansa yang dibangun.

Cerita kompleks dan gelap

Si kucing yang tak takut mati ini langsung populer pertama kali sejak kemunculannya pada film Shrek 2 (2007). Jika film pertama menceritakan tentang latar belakang Puss sebelum bertemu dengan Shrek, sekuel film ini menggali lebih dalam tentang karakter Puss yang selama ini ia sembunyikan.

Mungkin kelebihan film ini dibandingkan edisi perdana adalah bagaimana Joel Crawford sebagai sutradara menggabungkan berbagai aspek yang sering ditemukan pada sekuel: karakter yang lebih banyak, cerita yang lebih mendalam, serta menggali lebih jauh tentang karakter utama.

Puss in Boots
via DreamWorks

Yang paling kentara tentu saja premis unik yang dibawakan pada film ini: seekor kucing tanpa rasa takut akan kematian karena memiliki sembilan nyawa, kini hanya menyisakan satu nyawa saja. Pertentangan antara ketakutan akan kematian dengan ego sebagai seorang legenda terasa sangat menarik.

Cerita dan pendalaman karakter semakin berisi karena penonton akan menemukan bahwa sang karakter utama tak sesempurna kelihatannya. Puss yang penuh kekurangan membuat karakternya semakin manusiawi, dan menjadikan perjuangan sepanjang film terasa semakin relatable.

Bahkan bisa dibilang film ini merupakan salah satu karya DreamWorks Animation yang cukup gelap dan lebih dewasa. Mengingat tema tentang menghadapi kematian, pengkhianatan, serta mengakui kebenaran yang pahit tak banyak ditemukan dalam film animasi.

Tentu dengan tema dan pesan yang sangat mendalam, film ini dimainkan melalui cerita yang sangat ringan. Jangan lupa, film ini ditujukan untuk semua umur. Sehingga kepiawaian Crawford memadukan berbagai unsur pendukung untuk menjadikan film ini terasa sangat ringan patut diacungi jempol.

Goldilock dan Puss
via DreamWorks

Selain Antonio Banderas yang tampil memukau, nama-nama besar lainnya pun memberikan warna tersendiri. Tapi dua nama, Florence Pugh dan John Mulaney hadir dengan suara yang khas dan susah dipisahkan dari kepribadian mereka.

Penuh tawa dan didukung dengan animasi menawan, film Puss in Boots: The Last Wish membawa penonton kembali pada petualangan ke negeri dongeng. Kali ini dengan kisah yang lebih kompleks dan gelap tentang kehidupan dan kematian, namun tetap dibuat ringan. Menjadikannya salah satu calon film animasi terbaik tahun ini.

Genre: Animasi

Sutradara: Jowl Crawford

Penulis Naskah: Tommy Swerdlow, Paul Wisher

Pengisi Suara: Antonio Banderas, Harvey Guillén, Florence Pugh

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 853

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *