Kisah klasik Oedipus Sang Raja sangat terkenal dengan intrik ayah-anaknya yang haru dan kontroversial, bahkan seorang psikoanalis ternama – Sigmund Freud – sampai melakukan penelitian tersendiri yang menghasilkan sebuah konsep pada psikologi perkembangan yang bernama Oedipus Complex. Dalam konsep tersebut, dinyatakan bahwa anak laki-laki akan selalu menganggap sosok ayahnya sebagai saingan untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu, atau bahkan menganggap saingan secara seksual. Konsep ini diamini oleh Orhan Pamuk, seorang penulis peraih penghargaan Nobel Sastra pada tahun 2006, melalui novelnya yang berjudul The Red-Haired Woman.
Novel ini terbit dalam bahasa negara asalnya – Turki – pada tahun 2016 yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Bentang Pustaka pada tahun yang sama. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda bernama Cem, anak yang hidup tanpa sosok ayah sejak kecil dikarenakan ayahnya yang terlibat pemberontakan politik. Cem kemudian mengisi waktu senggangnya dengan bekerja pada Mahmut sebagai asisten penggali sumur di desa kecil Öngören di mana ia kemudia jatuh hati pada perempuan berambut merah yang usianya hampir mendekati usia ibunya.
Secara struktur, novel ini dibagi menjadi 2 bab utama dan 1 bab penutup/epilog. Bab pertama berjalan dengan tempo yang lambat dan mendeskripsikan detail kegiatan Cem dan Mahmut menggali sumur dan juga detail obsesi Cem pada gadis berambut merah tersebut. Sedangkan bab ke-dua memiliki tempo yang lebih cepat dan hanya menyorot hal-hal terpenting dalam kehidupan Cem dewasa yang sudah sukses dengan usaha properti bersama istrinya yang bernama Ayse. Dan bab epilog adalah bab penutup yang akan mengungkap kekosongan-kekosongan kisah dalam narasi pada bab 1 dan bab 2.
Pola permainan tempo cerita yang digunakan dalam novel ini sangat baik terutama saat tempo lambat di bab 1 yang sangat berguna untuk membangun dasar emosi pembaca dan juga pondasi konflik yang kuat. Seperti yang sudah dinyatakan di atas, bahwa novel ini mengamini mitologi Oedipus dan merekonstruksi ulang dan menarasikan ulang dengan latar daerah Turki dan hubungan tokoh yang lebih rumit. Orhan Pamuk juga menyertakan dongeng persia tentang Rostam – Sohrab yang juga merupakan hubungan rumit antara ayah-anak yang berakhir tragis.
Secara penarasian, novel The Red-Haired Woman ini menggunakan sudut pandang orang pertama dan dengan gaya narasi yang tenang, bahkan untuk situasi yang mengejutkan pun masih dinarasikan dengan tenang. Hal ini membuat pembaca kesal sendiri karena pembaca akan sangat terkejut pada beberapa fakta namun penarasiannya tetap dilakukan dengan tenang. Pada bagian ini, novel ini sangat mampu mempermainkan emosi dan psikologi pembaca.
Novel ini bukanlah novel yang memiliki plot twist dan sebagainya, sebaliknya, penyelesaian konflik dari novel ini mungkin cenderung bisa ditebak. Namun, agaknya memang bukan kejutan-kejutan plot itu yang ingin si penulis sampaikan pada pembaca melalui novel ini, melainkan isu hubungan ayah-anak yang rumit dan kuat tersebut. Novel ini juga menyampaikan kegelisahan Orhan Pamuk akan identitas warga Turki yang berada di perbatasan Asia dan Eropa, antara tradisional dan kebarat-baratan. Kebimbangan identitas ini disampaikan dengan cara yang baik dan mampu membuat pembaca juga akan berfikir perkara identitasnya – termasuk pembaca di Indonesia yang masih galau dengan identitas yang antara tradisional dan kebarat-baratan ini.
The Red-Haired Woman memiliki beberapa tokoh yang mampu berperan sebagai Oedipus dan juga dalam beberapa waktu akan berperan sebagai sosok Laius. Rekonstruksi kisah ini dilakukan dengan tokoh yang berganti-ganti seiring berjalannya narasi. Dan novel ini juga adalah penggambaran dari ungkapan terkenal “Sejarah pasti terulang”. Novel ini sangat patut untuk ada di dalam koleksi kamu karena buku ini membaca isu klasik yang ternyata masih bisa dinikmati dengan gaya penyampaian baru.
Penulis: Orhan Pamuk
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal halaman: 357
Kisaran harga: Rp. 65.000,-
Penghargaan Penulis: Nobel Kesusastraan tahun 2006