REVIEW

Review Godzilla Minus Zero (2026): Visual dan Suaranya Menggelegar, Minusnya Apa?

5 / 5

Reviewed by

poster film Godzilla Minus Zero 2026

Godzilla Minus Zero jadi karya terbaru Takashi Yamazaki dalam melanjutkan perjuangan masyarakat Jepang menghadapi Godzilla dan monster baru, Ghidorah, paska kekalahan mereka di Perang Dunia II. Dengan kaiju yang lebih banyak dan kehancuran demi kehancuran diperlihatkan, film ini memanjakan mata secara visual.

Sinopsis Godzilla Minus Zero

Dua tahun setelah serangan Godzilla yang meluluhlantakkan Jepang, sosok monster baru muncul secara tiba-tiba mengejutkan warga. Dikenal dengan nama Ghidorah, Kenji Noda (Hidetaka Yoshioka) yang kini menjabat sebagai kepala biro bencana mencari cara untuk melenyapkannya.

Sementara itu, Koichi Shikishima (Ryuunosuka Kamiki) dan Noriko (Minami Hamabe) menjalani kehidupan mereka bersama anak, Akiko (Sae Nagatani). Koichi kembali dipanggil untuk menjadi relawan yang akan menerbangkan pesawat untuk membunuh Ghidorah.

Dua rencana yang melibatkan bom buatan prajurit Amerika dan plan B dari meteorologist Makoto (Masami Nagasawa) gagal total. Di tengah keributan, berita teranyar mengungkapkan bahwa Godzilla muncul di sebuah perairan.

Scoring dan visualnya menggelegar

Takashi Yamazaki masih menjadi sutradara sekaligus penulis dalam sekuel dari film pemenang Oscar untuk Best Visual Effect pada tahun 2024 silam. Dan tentu saja, kelanjutan kisah Godzilla masih menunjukkan kualitas visualnya yang mencengangkan.

Kini mendapatkan titel sebagai film Jepang pertama yang dibuat khusus untuk layar IMAX, film ini seakan-akan diperuntukkan bagi pengemar sinema. Dari awal sampai akhir, adegan-adegan yang dibawakan memanjakan mata.

Godzilla di film Godzilla Minus Zero
via Toho

Selain visualnya, musik dan scoring dari Naoki Sato membuat sekuel ini tambah menggelegar. Raungan Godzilla dan Ghidorah serta ledakannya benar-benar memekakkan. Siap-siap saja headset bagi kamu yang memang tak terbiasa dengan suara intensitas tinggi selama lebih dari dua jam.

Minus Zero memang bukan untuk anak-anak. Selain suaranya yang jauh melebihi rasa normal film pada umumnya, ada banyak adegan sadis yang tersaji. Mulai dari manusia terpanggang akibat bom nuklir, hingga detail pertarungan antar monster yang tercabik-cabik dan berdarah-darah.

Momen kemunculan Godzilla dan kaiju lainnya menampilkan lebih banyak adegan rumah-rumah berhancuran. Termasuk adegan dimana rumah dan isinya (ibu dan bayinya) terbang di udara karena kekuatan Ghidorah. Menjadikannya lebih brutal dan ngeri ketimbang sebelumnya.

Cerita tak sesolid pendahulunya

Minus Zero melanjutkan cerita kemunculan kembali Godzilla, dua tahun setelah kaiju legendaris ini muncul di Godzilla Minus One (2023). Berlatar 1949, film ini masih memperlihatkan Jepang yang masih berusaha bangkit akibat kekalahan mereka.

Drama dan temanya masih sama. Tentang penduduk Jepang yang harus bertahan hidup paska perang. Film ini fokus ke gimana cara mereka bersatu melawan musuh yang jauh lebih besar dan beringas ketimbang sebelumnya.

Masami Nagasawa sebagai Makoto dan Hidetaka Yoshioka sebagai Kenji Noda
via Toho

Yang paling menyentuh dalam iterasi kali ini yaitu bagaimana Yamazaki memperlihatkan anak-anak yang menjadi yatim piatu akibat orang tua mereka meninggal akibat serangan Godzilla. Sebuah homage yang menunjukkan kondisi masyarakat Jepang paska Perang Dunia II.

Memang ceritanya punya pace yang lambat di pertengahan. Sebuah pertaruhan yang terjadi akibat bagian aksinya yang terlalu kuat. Masih tetap menarik, tapi ada perasaan bahwa film ini tidak menampilkan pertaruhan yang tinggi ketimbang pendahulunya.

Pasalnya di film pertama, semua orang bisa mati. Meski sekuel ini punya body count yang tinggi, tapi ada perasaan bahwa karakternya pasti tidak apa-apa. Bisa dibilang plot armor walaupun tak sejelas Ultraman atau Kamen Rider.

adegan di film Godzilla Minus Zero 2026
via Toho

Lembaran dramanya mungkin masih belum bisa mengalahkan film pertamanya yang solid dan berimbang dalam berbagai aspek. Walaupun kisah akhirnya terkesan terlalu tiba-tiba, tapi masih berterima sebagai penutup yang pas untuk sekuelnya.

Baik dari segi visual, sound, dan pengalaman sinematik yang ditawarkan membuat Godzilla Minus Zero jadi satu dari sedikit film yang ditujukan untuk ditonton di bioskop. Tak sempurna, tapi menegaskan bahwa film khusus ini punya daya tariknya tersendiri bagi penggemar sinema.

GENRE

AKTOR

SUTRADARA

TANGGAL RILIS

RATING

Facebook
X Platform
LinkedIn
WhatsApp
Threads

About Reviewer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *