Animasinya Mirip Merah Putih One For All, Film Niu Lai Awalnya Dibully Malah Meledak di Box Office

Sebuah film animasi dari China dengan judul Niu Lai mendadak jadi bahan perbincangan ramai di Twitter dan berbagai forum internasional. Bukan karena kualitasnya yang memukau, tapi animasinya dianggap begitu buruk sampai disebut “lebih parah dari AI”. Dianggap mirip Merah Putih One for All (2025), film yang awalnya dirisak ini malah jadi viral.

Sinopsis Niu Lai

Niu Lai (牛来) adalah film animasi China yang disutradarai Xin Yumeng dan ditulis oleh Sun Lifang. Film ini diproduksi oleh Dalian Jingyuan Culture Film and Television Media, sebuah perusahaan yang uniknya dulu bergerak di bidang jasa dekorasi interior dan eksterior sejak didirikan pada 2016.

Dilansir dari laman resminya, ceritanya dimulai dari seekor burung yang melintasi gurun dan bertemu dengan seekor anak sapi bernama Niu Lai yang baru lahir. Mendengar lagu pengantar tidur si anak sapi, sang burung pun tertidur. Di dalam mimpinya, ia menyaksikan bagaimana si anak sapi tumbuh besar.

poster film Niu Lai
via Wikipedia

Di dalam mimpi burung tersebut, si anak sapi mengalami rasa cinta, keberanian, pengorbanan, hingga akhirnya menjadi pejuang yang siap menghadapi kematian. Film ini menggambarkan kelahiran, tumbuh besar, tanggung jawab, dan kematian dipadatkan dalam satu masa tidur dan satu perjalanan panjang.

Hanya ada 4 karakter di dalam film dan diisi suaranya oleh Xin Yumeng dan Sun Lifang. Praktis, hanya dua orang ini yang terlibat dalam proses pengembangan dari awal hingga akhir. Film berdurasi 86 menit ini resmi mengantongi sertifikasi sensor resmi pemerintah China (“Dragon Stamp”) dan tayang di bioskop China mulai 5 Agustus 2026.

Dianggap lebih jelek dari AI

Budget-nya hanya 100.000 yuan (sekitar Rp264 juta), Karena dikembangkan oleh dua orang, proses produksinya memakan waktu lima tahun. Tanpa promo dan trailer, film ini meraup 7.169 yuan (sekitar Rp16 juta) dari 236 penonton dalam 9 hari pertama penayangannya. Data ini disebut Maoyan Pro sebagai rekor box office terendah untuk animasi China sepanjang 2026.

Netizen China menyebut animasi CGI yang sederhana dan cenderung kaku membuat film ini jadi viral dan bahan olok-olok di Weibo. Media Dexerto melaporkan sejumlah penonton di X bahkan menyebut animasinya “lebih buruk dari yang dihasilkan AI”.

kreator film Niu Lai
via Resetera

Namun pandangan berbeda mulai berdatangan. Dexerto mengutip bahwa beberapa akun X mengungkapkan penghargaan mereka karena meskipun ini terlihat buruk, namun animasi buatan manusia jauh lebih baik ketimbang animasi mulus buatan AI.

Fenomena ini bahkan memicu gelombang ulasan ironis di kolom review singkat Douban. Sejumlah warganet ramai-ramai memberi bintang lima disertai komentar sarkastik seperti menyebutnya “tonggak sejarah animasi China” atau becandaan bahwa film ini “baru akan dipahami sepuluh tahun lagi”.

Viral dan jadi box office

Gelombang cibiran ini berbalik menjadi dorongan promosi tak terduga. Akun X Shanghai Daily melaporkan bahwa setelah viral karena animasinya yang kasar, proyeksi pendapatan Niu Lai melonjak drastis hingga mencapai 5,98 juta yuan (sekitar Rp15,8 miliar). Media LatestLY turut mencatat bahwa pada 15 Agustus saja, film ini berhasil meraup 46 ribu yuan hanya dalam satu hari.

adegan di film Niu Lai
via Resetera

Sejumlah penonton dilaporkan sengaja datang ke bioskop khusus untuk menyaksikan sendiri seperti apa film yang jadi bahan perbincangan ini. Apalagi salah satu detail yang ikut menyebar di X adalah fakta bahwa lagu penutup film ini dinyanyikan langsung oleh ibu kandung sang sutradara, Xin Yumeng.

Terlepas dari kritik pedas soal kualitas visualnya, narasi yang berkembang di media sosial perlahan bergeser. Tong Bingxue menulis di X bahwa banyak orang merasa di era AI seperti sekarang, pembuat film yang tetap bertahan dengan animasi “buatan tangan” dan usaha yang tulus terasa jauh lebih jujur dan bermakna dibanding produksi yang mulus tapi terasa hampa.

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 914

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *