Film Enola Holmes 3 sebenarnya dipenuhi dengan tema dan pesan yang menarik tentang kolonialisme dan masalah wanita pada umumnya. Namun cerita dengan plot yang formulatif hingga hampir ke taraf membosankan membuat triquel ini seakan kehilangan pesonanya.
Sinopsis film Enola Holmes 3
Enola (Millie Bobby Brown) menerima lamaran Tewkesburry (Louis Partridge) walaupun hati kecilnya masih belum sepenuhnya setuju. Pernikahan mereka akhirnya akan berlangsung di Malta sebagai penghormatan atas kematian ayah Tewkesburry yang meninggal ketika bertugas di sana.
Enola mengajak Sherlock Holmes (Henry Cavill) untuk menghadiri pernikahan sebagai walinya. Sherlock pada dasarnya tidak menyetujui pernikahan tersebut karena menganggap Enola akan melepaskan kebebasannya dan fokus menjadi seorang istri. Enola membantah hal ini.
Di hari pernikahan mereka, Sherlock diculik oleh beberapa orang tak dikenal. Tak peduli dengan pernikahannya, ia memilih untuk mencari tahu siapa dalang di balik penculikan Sherlock sekaligus membebaskannya.
Film ketiga dan terjelek
Enola Holmes merupakan salah satu franchise baru Netflix yang melejit sejak dirilis pada 2020 lalu. Dan di iterasi ketiga, sayangnya Enola kehilangan momen-momen yang membuat film ini menarik ketimbang film sebelumnya.

Yang paling kentara tentu arahan sutradara Philip Barantini yang menggantikan Harry Bradbeer yang menggarap dua film pertama. Barantini merupakan sutradara di balik film drama Boiling Point (2021) dan thriller aksi Accused (2023).
Meski Jack Thorne masih menjadi penulis naskah, tapi jelas terasa film ini memiliki vibes dan nuansa yang berbeda. Cerita baru di tempat baru, film ini menghadirkan tema yang lebih dewasa. Plotnya masih dibuat ringan, sepertinya untuk menggaet penonton remaja yang menjadi sasaran franchise ini.
Dua film pertama mampu menggabungkan drama, aksi, dan misteri dengan pas. Tapi di sini, Barantini terlalu lama bermain dengan tema yang kompleks dan dialog-dialog yang berat. Walaupun di satu sisi film ini jadi lebih berisi, komposisinya yang tak seimbang mengurangi dinamika dan keseruan cerita.

Padahal narasinya mengulas tentang isu-isu penting. Misalnya saja kolonialisme dan perjuangan masyarakat Malta untuk melepaskan diri dari jajahan Inggris. Belum lagi ada pembahasan tentang status wanita di dalam pernikahan yang menjadi ketakutan Enola dan Sherlock.
Terkadang pace cerita terasa terlalu lambat. Disisipi dengan flashback yang tak terlalu penting, durasi 108 menit terasa seperti dua jam. Selain itu, karakter Enola terlalu sering berbicara dan melihat ke kamera sebagai bentuk breaking the fourth wall. Bahkan mungkin bisa dibilang berlebihan hingga di taraf menyebalkan.
Sherlock kehilangan ketajamannya
Dua film pertama Enola Holmes diadaptasi dari novel The Enola Holmes Mysteries karya Nancy Springer. Yang berbeda di film ketiga adalah ceritanya merupakan adaptasi lepas dari novel ketiga berjudul The Case of Bizarre Bouquets dengan banyak penyesuaian narasi.

Jika di novel aslinya Dr. Watson yang diculik, Barantini menggantikannya dengan Sherlock. Dan Watson yang dengan apik diperankan oleh Himesh Patel mendapatkan porsi yang lebih besar ketimbang Sherlock. Menarik untuk melihat adaptasi lain dari Watson, termasuk Moriarty versi wanita yang kembali diperankan oleh Sharon Duncan-Brewster dengan segala pro dan kontra-nya.
Enola versi Millie kini lebih dewasa. Selain ceritanya yang terbilang lebih kompleks dan mature, ada beberapa adegan yang terasa cukup sensual. Walaupun masih di dalam batas wajar untuk ditonton remaja (dalam budaya Barat tentunya).
Sementara itu karakter Sherlock versi Cavill terasa lebih berbeda ketimbang versi aslinya. Kini ia terlihat lebih kekanak-kanakan dengan pola pikir yang tak setajam jika dibandingkan dengan karakteristik dari karya-karya Sir Arthur Conan Doyle.

Enola digambarkan sebagai karakter yang lebih kuat secara emosional, berbanding terbalik dengan Sherlock yang disebut terlalu rasional. Ada adegan di bagian akhir antara Enola, Sherlock, dan Moriarty yang sepertinya bisa menggelitik penggemar berat Sherlock karena penggambarannya yang melenceng.
Secara keseluruhan, Enola Holmes 3 cukup menjadi triquel yang fun and good enough. Walaupun mengangkat tema dan pesan yang menarik, sayang plotnya tak begitu mengesankan ditambah pola cerita yang itu-itu saja. Tapi setidaknya bisa jadi tontonan yang asyik untuk kamu penggemar waralaba ini.




