Edwin mengutarakan film Monster Pabrik Rambut dari keresahan pekerja yang selalu diburu waktu sampai dengan mengorbankan dirinya sendiri. Hadirlah sebuah film horor yang berbeda, dengan jelas menggambarkan betapa lebih horornya korporasi ketimbang monster itu sendiri.
Sinopsis Monster Pabrik Rambut
Putri (Rachel Amanda) pulang setelah mendengar ibunya meninggal dunia ketika sedang bekerja di sebuah pabrik rambut bernama PT Raga Abadi. Menyadari ada yang aneh dengan kematian sang ibu, sekaligus untuk melunasi hutang ibunya, ia dan adiknya, Ida (Lutesha) bekerja di pabrik tersebut.
Ketika sedang bekerja, mereka menemukan ada banyak kejadian misterius. Seperti banyaknya peristiwa kesurupan terjadi di pabrik itu, hingga ada pekerja yang sampai meninggal dunia. Sementara pemilik pabrik, ibu Maryati (Didik Nini Thowok) memiliki aura yang aneh.
Putri dan Isa memiliki adik bungsu bernama Bona (Iqbaal Ramadhan) yang bisa menumbuhkan kembali anggota tubuhnya patah atau terpotong. Ketika Bona sedang berada di dekat asrama Putri dan Ida, ia disekap oleh Marjati.
Horor modern beraroma jadul
Monster Pabrik Rambut punya gaya yang berbeda dibandingkan film horor Indonesia lainnya tahun ini. Ada banyak hal unik dan fresh yang terlihat di bawah arahan Edwin sebagai sutradara. Tak hanya horor, ada balutan misteri, aksi, serta sentilan-sentilan tajam terhadap isu lingkungan yang yang toxic.
Kesan menegangkan tak hanya datang dari jumpscare-nya. Ia menyerang sisi psikologis dengan suasana yang mencekam, bangunan pabrik tua yang seperti terbengkalai, termasuk tempat tinggal yang seakan tak pernah dibersihkan.
Bagi yang masih ingat, Edwin merupakan otak di balik film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2022). Sama seperti adaptasi novel Eka Kurniawan tersebut, film ini juga menghadirkan aura jadul yang terlihat dari berbagai aspek.

Sinematografi, wardrobe, pemilihan warna, sampai pemilihan efek praktikal alih-alih CGI menegaskan arah vintage yang dituju. Meski berlatar masa sekarang, Edwin bagaikan meminimalkan alisasi penggunaan teknologi, seperti gadget dan smartphone. Belum lagi trailer film yang dibuat layaknya film-film horor sebelum masa YouTube berjaya yang penuh dengan voice over bersuara berat.
Memang Edwin membawakan cerita Putri dan adik-adiknya selayak film festival pada umumnya. Dengan pace yang mengalir pelan dan narasinya dipapah dengan lembut. Ceritanya terasa sangat lama walaupun durasinya hanya sekitar 97 menit.
Begitu pula penggunaan efek praktikal tak sepenuhnya berhasil. Ada beberapa aspek, seperti prostetik atau adegan terbang (yes, seperti film Suzanna) yang malah terlihat bagaikan karya dengan budget minimalis. Atau seperti keinginan Edwin: membawa estetika film horor jadul era 80-an.
Isu lingkungan kerja yang toxic
Monster Pabrik Rambut mendapatkan world premiere perdananya pada festival film Berlinale di Jerman Februari 2026 lalu. Dan dengan tema yang universal tentang lingkungan kerja yang penuh penindasan, film ini mendapatkan respons positif dari dua ribuan penonton yang datang.
Selain tiga bersaudara sebagai karakter utama, penonton dijauhkan dari cerita pekerja lainnya di luar pabrik. Menegaskan bahwa mereka hanya berfungsi sebagai penggerak (literal dan figuratif) cerita berdasarkan eksistensi mereka di dalam pabrik.
Di PT Raga Abadi, lembur adalah reward. Cara terbaik mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dan semakin banyak lembur, walaupun mereka kekurangan waktu tidur, pekerja akan mendapatkan bintang. Pekerja berlomba-lomba untuk meraih sebanyak-banyaknya bintang.

Sebagai dokumenter sosial yang penuh dengan sindiran keras, film ini menyorot bagaimana pekerjaan merampas hak asasi pekerjanya, dalam hal ini tidur. Tidur hanya jadi privileges Maryati, sang pemilik pabrik. Pekerjanya lembur hingga tak tidur berhari-hari sampai akhirnya kesurupan.
Alas, Edwin sekali lagi menegaskan pentingnya bagi pekerja untuk berkumpul dan berserikat. Pekerja bisa diinjak-injak haknya ketika sendirian melawan entitas monster (a.k.a korporat) yang bisa mencelakai atau bahkan sampai membunuh.
Tak diproduksi untuk meraup untung dan mengikuti selera pasar, film Monster Pabrik Rambut tak cocok untuk penonton yang menginginkan horor yang menakuti-nakuti dengan segala jumpscare-nya. Namun jika kamu ingin melihat bagaimana seorang pekerja seni berorasi melawan isu lingkungan kerja yang toxic dalam karyanya, film ini adalah buktinya.




