The Bell Hadirkan Folklore Berlatar Belitung dan Pengalaman Sinematik Unik

Multi Buana Kreasindo dan Sinemata Productions akhirnya mengungkap film horor The Bell: Panggilan untuk Mati. Film ini mengangkat folklore horror yang jarang dieksplorasi melalui kisah misterius berlatar kepulauan Bangka Belitung.

Sinopsis film The Bell

Film ini mengangkat cerita tentang urban legend yang terjadi di Belitung. Mengisahkan tentang lonceng keramat yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat serta entitas ghaib yang disebut dengan Penebok.

Ceritanya berpusat pada Danto yang diperankan oleh Bhisma Mulia. Ia merupakan seorang anak asli Belitung yang sudah 10 tahun tak pulang. Ia pulang setelah kematian kakeknya, Baharun (Mathias Muchus), yang disebabkan oleh ulah Panebok.

Kepulangannya mempertemukan Danto kembali dengan adik angkatnya, Hanafi (Maulidan Zuhri) dan Airin (Ratu Sofya), mantan kekasih yang telah lama tak dijumpainya. Pada akhirnya ia turut membantu dr. Usman (Septian Dwi Cahyo) mengungkap misteri munculnya Panebok di desanya.

Folklore tentang Panebok

Disutradarai oleh Jay Sukmo, film The Bell menghadirkan folklore Tanah Air dalam cerita layar lebar tentang kisah romansa yang relevan dengan realitas masa kini. Ia membangun kisah misterius yang berasal dari mitos dan kepercayaan masyarakat.

press conference The Bell 2026
via Mariviu

Panebok sendiri digambarkan sebegai sosok tanpa kepala yang mengincar kepala manusia lainnya. Legenda di Belitung mengungkapkan bahwa panebok tercipta dari sosok yang sudah meninggal tapi masih ada urusan yang belum terselesaikan. Menabur terigu dipercaya bisa mencegah panebok masuk ke dalam rumah.

Dengan proses syuting berlangsung di pulau Bangka, film ini turut menghadirkan pemandangan khas pulau yang sempat terkenal berkat novel Laskar Pelangi dari Andrea Hirata. Penonton bakal diajak mengunjungi tambang, pemandangan padang ilalang dan tentunya pantai-nya yang indah.

Pakai tiga aspek rasio

Film ini menggabungkan berbagai genre, ketika horor, gore, dan romance disatukan dalam kisah folklore di Bangka Belitung. Ceritanya disampaikan dengan alur maju mundur. Ditutup dengan ending yang terbuka (open ending), memberikan kesempatan bagi Jay untuk mengembangkan film keduanya.

Jay menggunakan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan tiap periode waktu dalam cerita. Ada beberapa alur flashback yang disampaikan dengan aspek rasio yang berbeda dari cerita dengan latar saat ini.

press screening The Bell 2026
via Mariviu

Tak hanya horor, film ini mengangkat berbagai isu yang ada di masyarakat. Salah satunya yaitu fenomena obsesi terhadap konten dan viralitas di era media sosial saat ini. Termasuk kritikan terhadap melakukan hal ilegal untuk membuat konten serta keinginan untuk mencari sensasi yang semakin ekstrem.

Film The Bell: Panggilan untuk Mati rencananya akan dirilis pada tanggal 7 Mei 2026 mendatang. Tak hanya di Indonesia, Sinemata dan MBK akan memperkenalkan film ini dalam Cannes Film Market pada 12-20 Mei 2026 di Paris, Prancis.

Avatar photo
Rahmatul Alfajri
Articles: 61

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *