Dere merilis lagu Biru pada Oktober bulan lalu. Single perdana di tahun 2024 yang menghadirkan lagi nuansa sendu dari petikan gitar dan suaranya yang menenangkan. Dalam lirik yang terkesan sederhana, Dere membawa kembali nostalgia kisah-kisah cinta yang sempat hadir di kala remaja.
Single perdana setelah album “Rubik”
Indonesia memang tak pernah kehilangan talenta-talenta berbakat. Setelah Bernadya, nama Dere menurut kami jadi salah satu (calon) nama besar yang musiknya memiliki keunikan tersendiri dengan bakat yang mencuat dibandingkan nama-nama lain seusianya.
Di tengah gempuran artis solo baru, Dara berusia 22 tahun ini pertama kali dikenal ketika mengikuti kompetisi The Voice Kids Indonesia. Bergabung ke dalam tim Tulus, ia akhirnya masuk dalam manajemen TigaDuaSatu yang didirikan oleh Tulus.

Lagu-lagu yang dibawakan terasa jauh lebih dewasa dibandingkan umurnya. Tema-tema yang lebih universal dan ‘berat’ jadi penanda gimana Dere memiliki pola pikir yang tak hanya berpusat di hanya cerita cinta-cintaan remaja seperti lagu dari penyanyi lain di generasinya.
Untuk album Rubik, favorit saya adalah Berisik. Cerita tentang manusia-manusia berisik yang “berakal budi tapi terkadang lupa kalau hidup di dunia hanya bertamu saja”. Menariknya, dalam mini konser bersama Prambors, Dere sendiri mengungkapkan bahwa lagu ini tercipta saat dia dan Tulus sedang bermain dengan kucingnya. Ga nyangka, tapi hasilnya ngena banget!
Lagu Biru, Single Bersahaja
2024 lalu, Dere meluncurkan single terbarunya berjudul “Biru”, bercerita tentang kisah romansa yang bikin ingat nostalgia cinta masa remaja. Dimana pertemuan dengan seseorang yang baru, mencari cara untuk selalu topik berbicara, dan mulai membuka berbagai kemungkinan ke depannya.
Biru menandai konsistensi Dere menghadirkan melodi dan lirik nan puitis. Diperkaya oleh aransemen dari Yoseph Sitompul, kolaborasi lirik bersama Tulus ini masih dalam balutan genre folk yang dipenuhi dentingan gitar dan tempo medium, menegaskan suara renyah Dere yang menjadi ciri khasnya.
Pilihan liriknya pun tak “megah” seperti beberapa lagu di album sebelumnya. Namun, lagu ini merangkai kata-kata yang simpel dan bersahaja, merepresentasikan bahwa tak semua jatuh cinta itu rumit. Terkadang cinta datang dalam bentuk komunikasi atau bagaimana kita selalu ingin berinteraksi, “Ke mana ini ‘kan pergi? Akankah ada lagi lanjutan topik yang kini kupikirkan tiap hari?”
DI lagu yang terkesan sederhana ini, masih terpampang perasaan yang tak ambigu. Ketidakjelasan antara hubungan yang datang, apakah akan berakhir bahagia atau “Akankah singkat lagi” layaknya cerita-cerita sebelumnya. Seperti yang diungkapkan Dere, “Walaupun aku ragu dengan harap-harapku, mungkin aku keliru”, masih ada secercah harapan jika kisah yang baru ini bisa berujung menyenangkan.
Mendengarkan lagu ini bagaikan sedang berbunga-bunga dalam perjalanan pulang setelah bertemu teman yang baru dikenal, terjebak antara kemacetan Jakarta atau kemungkinan-kemungkinan perasaan yang akan menjadi nantinya. Bisa juga bagi rasa-rasa yang sebelumnya pernah membuat antusias akan suatu pertemuan, tapi bisa juga bagi kita yang berada di satu titik sudah tahu bahwa akhirnya tidak akan seperti yang diharapkan.
Yah, walaupun masih belum pasti apakah lagu Biru hanya akan jadi single atau masuk ke dalam album barunya Dere. Namun single ini jadi tambahan yang menarik, apalagi bagi saya yang menyukai bagaimana Dere merepresentasikan sudut pandang dan kisah-kisahnya dari album sebelumnya.
Mungkin tak bisa lagi dibilang hidden gem, tapi Dere menurut saya merupakan satu dari sedikit musisi baru yang punya identitas tersendiri; perpaduan lirik dan musik yang bercerita dengan asyik dan suara yang ramah menyapa telinga.

