Review Film The Boy and the Heron (2023): Nostalgia Berlatar Fantasi Studio Ghibli

Film The Boy and the Heron langsung menjadi mahakarya terbaru dari legenda animasi Ghibli, Hayao Miyazaki. Penuh dengan cerita personal dan pesan mendalam, film ini mengajak penonton untuk menikmati kesedihan dalam kehilangan dari orang tersayang.

Sinopsis film The Boy and the Heron

Setelah ibunya meninggal dalam kebakaran di rumah sakit, Mahito Maki (Soma Santoki) yang masih berusia 12 tahun pindah bersama ayahnya ke pedesaan. Sang ayah, (Takuya Kimura) pemilik pabrik amunisi udara menikah dengan adik ibu Mahito, Natsuko (Yoshino Kimura).

Mahito dalam film The Boy and the Heron
via CBI Pictures

Masih dilanda kesedihan, ia diganggu oleh seekor bangau (Masaki Suda) yang bisa berbicara. Bangau tersebut menyebutkan bahwa kehadirannya ditunggu. Dan ketika Natsuko yang sedang mengandung menghilang, ia mengikuti bangau tersebut untuk mencari keberadaan Natsuko.

Ia lalu menemukan sebuah kastil terbengkalai yang dibuat oleh buyut Mahito, tempat di mana sang ibu juga pernah menghilang saat kecil. Ditemani oleh salah satu pembantunya, Kiriko (Ko Shibasaki), mereka menemukan berbagai keanehan dalam menara tersebut.

Petualangan si kecil Mahito

Diputar di Jepang tanpa trailer dan sinopsis, film The Boy and the Heron yang menjadi rilisan terbaru Studio Ghibli mengisahkan tentang seorang anak yang hidup pasca Perang Dunia ke-II dan berjuang melewati hari-hari setelah kehilangan ibunya.

Gaya animasi Ghibli yang khas tetap dipertahankan. Membawa penonton mengarungi dunia fantasi melalui gambar yang dreamy, menyejukkan layaknya kembali ke masa lalu dihanyutkan oleh nada-nada indah yang mendayu-dayu.

Mahito dan kakek buyutnya
via CBI Pictures

Digadang-gadang sebagai salah satu film animasi terbesar yang melibatkan 60 animator, semua gambar dan adegan di dalam film ini ditulis tangan. Sebuah karya menawan yang tentu memberikan kekuatan tersendiri pada setiap adegannya.

Tak terhitung berapa banyak adegan yang memancing imajinasi, sedap dipandang dan tak membosankan, serta ‘screensaver-able’. Memberikan daya tarik tersendiri sebagai feel-good movie yang bisa ditonton lagi di kemudian hari.

Dengan durasi dua jam lebih sedikit, paruh pertama terasa datar dan membosankan. Menorehkan perasaan gundah dan berantakannya kehidupan Mahito ketika ditinggal sang ibu. Menampilkan bagaimana hancurnya kehidupan Mahito sekaligus kehilangan sosok sang ibu yang jadi inti film ini.

film The Boy and the Heron
via CBI Pictures

Sedangkan paruh kedua dipenuhi dengan palet berwarna dan suasana fantasi yang memanjakan mata yang selalu ditawarkan oleh Hayao dan Ghibli. Tak susah untuk mengikrarkan bahwa film ini merupakan salah satu film animasi terbaik tahun ini.

Film personal Hayao Miyazaki

Film The Boy and the Heron merupakan film ke-12 yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki. Dan bahkan sebelumnya disebut sebagai film terakhir dari salah satu legenda animasi Jepang ini. Meski ia akhirnya dikabarkan sedang mempersiapkan film terbaru.

Walaupun bukan yang terakhir, tapi ini merupakan salah satu film paling personal yang ia buat. Menggambarkan aspek kehidupannya di masa kecil, seperti latar pasca Perang Dunia II, keluarganya yang pindah ke pedesaan, serta ayahnya yang bekerja di industri pesawat terbang.

Lady Himi dan Mahito
via CBI Pictures

Versi Jepang film ini diterjemahkan menjadi “How Do You Life?”, merujuk pada novel karya Genzaburo Yoshino tahun 1937 tentang anak berusia 15 tahun yang kehilangan ayahnya, menjadi salah satu novel yang mempengaruhi Miyazaki Hayao.

Novel ini juga bisa ditemukan di dalam film, menegaskan bagaimana film ini menjelajah lebih jauh tentang bagaimana seorang anak tumbuh dewasa dalam menerima kehilangan. Diterjemahkan dalam gaya feel-good movie khas Ghibli.

Layaknya film Miyazaki sebelumnya, ada banyak simbol dan metafora menarik yang bisa dibahas dengan panjang dari film ini. Ceritanya terkesan simpel, namun kompleks dengan berbagai makna dan pesan yang berbeda yang bisa digali lebih dalam. 

Lady Himi dan Mahito
via CBI Pictures

Film The Boy and the Heron mungkin bukan yang terbaik dari karya Hayao Miyazaki. Namun film ini terasa lebih personal dengan warna otentik Ghibli sekaligus sebagai salam perpisahannya. Animasi yang menyenangkan sekaligus menegangkan untuk ditonton berkali-kali.

Genre: Animasi

Sutradara: Hayao Miyazaki

Penulis Naskah:  Hayao Miyazaki

Pemain: Soma Santoki, Masaki Suda,

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 930

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *