Film Everything Everywhere All at Once merupakan iterasi unik tentang multiverse dengan plot yang lebih fresh. Narasi dan temanya dibuat relate dengan kehidupan sekarang, didukung penggambaran multisemesta yang apik sebagai karya teranyar duo Daniel, Daniel Kwan dan Daniel Scheinert.
Sinopsis Film Everything Everywhere All at Once
Evelyn Quan Wang (Michelle Yeoh) adalah pemilik laundry dengan kehidupan yang berantakan. Digugat cerai oleh suaminya, Waymond Wang (Ke Huy Quan), bisnisnya diperiksa oleh pajak, dan kesulitan menerima preferensi seksual sang anak, Joy (Stephanie Shu).
Ketika ia, suami, dan ayahnya pergi ke kantor pajak, sang suami tiba-tiba berubah. Ia menyebut dirinya bagian dari semesta lain yang ingin mengajak Evelyn menyelamatkan seluruh semesta dari Jobu Tupaki, makhluk misterius yang mengacak-acak alam semesta.
Ia mengajari Evelyn untuk mengakses pikiran dirinya di semesta lain. Hal tersebut membuat mereka berdua dikejar oleh Jobu Tupaki yang ternyata memiliki hubungan Evelyn.
Tiga babak narasi
Film berdurasi 140 menit ini terbagi menjadi tiga babak. Babak pertama berjudul ‘Everything’ di mana Evelyn yang sedang mengalami masa jenuh dan sulit dengan semua masalah hidupnya mulai mengetahui keberadaan semesta lainnya.
Babak kedua berjudul ‘Everywhere’ menggambarkan bagaimana Evelyn mampu memindahkan pikirannya dan mengakses kehidupannya di semesta lainnya; semesta dimana ia tak jadi menikah dengan suaminya atau semesta dimana ia memiliki tangan sosis.
Sementara itu babak ketiga ‘All at Once’ merupakan resolusi yang menggambarkan kehidupan Evelyn setelah melalui satu hari yang menegangkan dan mengarungi seluruh semesta hingga menemui kedamaiannya sendiri.
Ketiga babak dibuka dalam satu frame yang sama, memperlihatkan bagaimana Evelyn berada meja penuh kertas dan memperlihatkan betapa kalut kehidupanya. Satu dari sekian banyak kekuatan film ini yang mengandalkan sinematografi dan editing yang mengesankan.
Lihat saja bagaimana Daniel Kwan dan Daniel Scheinert menggambarkan pilihan yang berbeda menghasilkan semesta baru; dengan memperlihatkan gambar kaca pecah dari dua pilihan yang berbeda.
Penuturan duo Daniels mengenai bagaimana film ini memandang aturan multisemesta terlihat solid dan terasa tanpa celah. Mengagumkan melihat pembahasan yang padat dan kompleks disampaikan dalam satu film yang turut membahas tema keluarga dan eksistensi
Mulai dari pertikaian orang tua dan anak, masalah suami istri, hubungan sesama gender, hingga rentetan pilihan demi pilihan yang membuat kita menjadi apa yang kita dapatkan di kehidupan yang kita jalani sekarang.
Dramanya padat disematkan komedi untuk memberikan nafas di sepanjang film. Tak lupa adegan aksi yang bikin tercengang membalut film yang absurd tapi masih bisa dengan mudah dicerna, apalagi jika dibandingkan dengan I’m Thinking of Ending Things (2020).Â
Meski Michelle Yeoh membawakan protagonis yang memikat, tapi underdog sebenarnya adalah Ke Huy Quan. Perubahan dari suami Evelyn dengan Waymond dari semesta lain mengasyikkan untuk dilihat. Progresi dan pengembangan karakternya juga menarik; turut menggendong beban aksi, komedi, sampai drama.
Multiverse yang paripurna
Everything Everywhere All at Once merupakan satu diantara sedikit film yang mampu menyertakan unsur fiksi ilmiah dengan mulus ke dalam cerita. Bukan hanya mencoba up-to-date, tapi bahkan memperkaya keseluruhan narasi film ini.Â
Tak sedikit memang film bernafaskan multisemesta yang membingungkan. Jika pun ada, sebagian masih menyisakan banyak pertanyaan dan plot hole yang mengganggu. Tapi hal ini sepertinya bisa dihindari oleh duo Daniel.Â
Daniels menggunakan multiverse bukan hanya untuk gaya-gayaan saja. Penggunaannya erat kaitannya dengan hubungan protagonis dan antagonis, tema tentang keluarga, sampai dengan narasi mengenai eksistensi dibalut ke dalam salah satu film terbaik tahun ini.
Bagi kamu yang ingin menyaksikan tontonan yang ringan dan mudah dicerna sepertinya harus sabar dulu. Karena mengandalkan rumitnya plot multiverse dan tema yang kompleks, film ini bisa terasa membosankan di tengah bagian.
Narasi tentang semesta lain dijabarkan dengan simpel dan runut. Meski butuh waktu untuk dicerna, tapi sangat membantu memperkuat plot dan cerita tentang bagaimana pilihan seseorang bisa mempengaruhi terjadinya berbagai kemungkinan di alam semesta.
Ending yang mencengangkan
Keseruan tak pernah berhenti meski credit roll bergulir. Sebuah pengalaman sinematik yang menyenangkan dihadirkan dari awal sampai akhir, walau klimaks dan resolusi tak mungkin diluar dugaan.
Di awal penonton akan dikenalkan dengan konsep multiverse melalui drama, komedi, dan aksinya yang menarik untuk diikuti. Tapi setengah film berjalan, akan ada banyak pertanyaan filosofis yang dibeberkan satu per satu.
Ending Everything Everywhere All at Once bisa dibilang cukup membingungkan bagi penonton yang sudah terdistraksi pada pertengahan cerita. Karena film ini menghadirkan ending yang bersifat metafora, tapi pas dengan keseluruhan tema dan plot yang disajikan.
Di akhir, penonton akan dibawa lagi mempertanyakan apa yang paling penting di dalam hidup. Karena tidak semua jalan yang dipilih bisa mengantarkan kita pada kehidupan yang lebih baik. Tak jarang malah menyesatkan dan
Tapi dibalik itu, bagaimana menjalani kehidupan sepenuhnya dengan mengikhlaskan semua yang telah dipilih serta menghargai hal-hal kecil yang menyenangkan adalah salah satu cara membuat hidup lebih berarti.
Duo Daniel berhasil menampilkan salah satu film terbaik tentang multiverse. Keseluruhan tema dan plot disampaikan dengan lantunan editing serta efek menawan dari dua aktor fenomenal sekelas Michelle Yeoh dan Ke Huy Quan.
Genre: Drama
Sutradara: Daniel Kwan, Daniel Scheinert
Penulis Naskah: Daniel Kwan, Daniel Scheinert
Pemeran: Michelle Yeoh, Ke Huy Quan, Stephanie Hsu