Tahun 2017 masih belum berakhir, tetapi, sudah banyak buku non-fiksi yang menyenangkan untuk dibaca. Dilansir dari TIME, Sarah Begley meringkas beberapa buku non-fiksi pilihan terbaik tahun ini. Berikut adalah daftarnya.
-
Blind Spot karya Teju Cole
Penerbit Faber & Faber, 4 Juli 2017
Terdiri dari 352 halaman, Teju Cole menulis bayang-bayang pohon di ruang metropolitan New York, kamar hotel di Swiss maupun kesendiriannya di Kongo dengan tampilan foto yang menghiasi 150 halaman novel ini. Novel ini bisa disebut sebagai novel perjalanan dengan balutan foto yang mendeskripsikan serta memudahkan pembaca masuk ke ceritanya.
Cole mengeksplorasi kompleksitas gairahnya yang berbeda, menulis dan fotografi, menjadi kesatuan cerita yang menarik untuk ditelusuri. Kadang, satu foto ditemani oleh satu paragraph, kadang dua, yang tidak selalu menjelaskan secara langsung makna dari foto tersebut. Guardian menulis, “Dalam perjalanannya, dia menggunakan kameranya sebagai bagian tambahan dari ingatannya.”
-
Somebody With a Little Hammer karya Mary Gaitskill
Penerbit Pantheon Book, 4 April 2017
Mary Gaitskill menjelaskan tentang sastra, sosial, budaya, dan keprbadian dalam kumpulan esainya tentang fiksi Amerika. Dikutip dari Penguin Random House (21/10), “apakah menulis tentang perkosaan atau keserongan politik, maupun membahas penulis mulai dari John Updike sampai Gillian Flynn, Mary membca semua subyek secara cekatan dan menarik pemahaman mendalam tentang keinginan, ambisi, hasrat, dan kesendirian yang terdapat pada alam bawah sadar Amerika.”
-
Killers of the Flower Moon karya David Grann
Penerbit Doubleplay, 18 April 2017
David Gray meneliti tentang pembunuhan Indian Osage ketika mereka meraih keuntungan karena minyak yang ditemukan di tanah mereka. Pada tahun 1920an, di kota kecil Gray House, Oklahoma, orang-orang Osage yang dibunuh tidak kurang dari 20 orang. Grann mencurigai keterlibatan William Hale sebagai otak pembunuhan Indian Osage dikarenakan akses mereka terhadap minyak yang ditemukan di Oklahoma. Buku non-fiksi ini merupakan salah satu buku yang mengupas tentang sejarah genosida di Amerika
Ed Vulliamy dari The Guarian mengatakan, ”Genosida oleh Amerika kulit putih melawan bangsa-bangsa asli selama abad yang mengarah ke masa Grann adalah sebuah metafora untuk penipisan umat manusia atas dunia alami yang oleh penduduk asli dianggap suci. Buku Grann adalah bab yang tepat waktu dan mengganggu tentang kekejaman yang mengerikan itu.”
-
One Day We’ll All be Dead and None of This Will Matter karya Scaachi Koul
Penerbit Picador, 7 Maret, 2017
Scaachi Koul merupakan seorang immigran wanita India yang tinggal di Kanada menggambarkan susahnya tumbuh dan membesarkan anak perempuannya dalam budaya barat. Dengan humornya, dia mengungkapkan ketakutan dan (mungkin) kemarahannya sebagai pendatang yang tinggal di Kanada. Perbedaan budaya dan aturan bagi gender di Timur dan Barat membuatnya mempertanyakan dinamika gender, isu ras, dan stereotip etnik yang dirasakannya.
-
The Rules Do Not Apply karya Ariel Levy
Penerbit Little, Brown Book Group Limited, 14 Maret 2017
Sebagai seorang penulis wanita dan staf penulis New Yorker, Ariel Levy memaparkan tentang kejadian yang dialaminya sebagai seorang wanita, keguguran. Levy mengungkapkan masa pacaran, menikah, perselingkuhan sampai keguguran yang dialaminya. Buku memoar ini sangat ringkas dan memuat kekecewaan Levy tentang masalah feminism yang dia alami sebagai seorang lesbian di Amerika.