Mengadaptasi “Wuthering Heights” jelas bukan tugas ringan, karena novel karya Emily Bronte ini sudah lama dikenal sebagai kisah cinta yang kelam, obsesif dan jauh dari kata romantis manis. Menariknya, versi film terbaru yang disutradarai oleh Emerald Fennell justru memilih jalan yang cukup berani dengan tidak sekedar menghidupkan ulang kisah lama, tapi membedah ulang dengan pendekatan yang jauh lebih modern, sensual dan provokatif.
Sinopsis film Wuthering Heights
Wuthering Heights bercerita tentang Catherine Earnshaw (Margot Robbie) dan Heathcliff (Jacob Elordi) yang terikat oleh rasa cinta akan satu sama lain. Kisah mereka dimulai dari sejak Catherine kecil (Charlotte Mellington) yang merupakan anak orang kaya bertemu dengan Heathcliff kecil (Owen Cooper).
Mereka bertemu karena sang ayah, Earnshaw (Martin Clunes) yang merupakan tuan tanah diberikan jaminan anak lelaki oleh penyewa. Awalnya, mereka hanya berteman namun perasaan cinta itu muncul seiring mereka dewasa. Kisah mereka mulai rumit saat tuan tanah muda bernama Edgar Linton (Shazad Latif) hadir dan Cathy menikah dengannya.
Sexual Innuendos yang Menyenangkan nan Seru
Wuthering Height telah diadopsi sebagai film, TV-movie, sampai menerima perubahan radikal berlatar Prancis di Hurlevent (1985) dan Jepang pada tahun 1988. Versi Fennell tetap berpusat pada hubungan penuh gejolak antara Catherine Earnshaw (Margot Robbie) dan Heathcliff (Jacob Elordi).
Alih-alih mengikuti struktur klasik novel secara detail, film ini justru lebih mengeksplorasi emosi mentah antara keduanya, obsesi, hasrat dan luka batin yang tidak pernah benar-benar sembuh. Jika diibaratkan, Wuthering Heights versi ini terasa seperti Romeo & Juliet, namun dengan sisi gelap yang lebih berani dan attitude yang lebih liar.
Secara keseluruhan, film ini terasa menyenangkan untuk ditonton. Walau ada beberapa sexual innuendos yang diselipkan di sepanjang cerita, namun semuanya terasa pas dan tidak berlebihan. Hal itu justru memberi warna dimana terkadang terasa lucu, kadang menggelitik dan membuat dinamika antara karakter lebih hidup dan seru.
Jajaran Cast yang Hidupkan Yorkshire
Akting dua pemeran utama memang mencuri perhatian. Chemistry antara Robbie dan Elordi sangat kuat dan meyakinkan, membuat hubungan yang penuh tarik-ulur ini terasa nyata dan menyiksa di saat bersamaan. Namun, yang juga patut diapresiasi, kekuatan film ini tidak hanya bertumpu pada dua nama besar tersebut. Cast pendukung ikut juga memberikan lapisan emosi tambahan, membuat dunia Wuthering Heights terasa lebih penuh dan tidak hampa.
Film ini juga terasa sangat stylish tanpa harus kehilangan atmosfer kelam yang jadi ciri khas kisah aslinya. Dengan beberapa pendekatan yang terasa lebih ‘modern’, kisah yang dihadirkan di film ini justru lebih relevan, terutama bagi penonton yang mungkin tidak terlalu akrab dengan novel atau adaptasi sebelumnya.
Pada akhirnya, Wuthering Heights bukan film cinta yang manis dan menenangkan. Ini adalah kisah cinta yang kacau, emosional dan kadang terasa nakal. Namun, justru itulah pesona film ini. Bagi yang terbuka dengan reintepretasi klasik yang lebih berani, film ini layak mendapatkan perhatian.