Jangan tertipu dengan premis dan ceritanya. Serial Widow’s Bay punya jiwa komedi di dalam kisah-kisah horor tentang penduduk sebuah pulau yang dipenuhi dengan mitos-mitos menyeramkan. Fresh karena tabrak genre, tapi eksekusinya yang menarik membuatnya menyenangkan untuk ditonton berkelanjutan.
Sinopsis serial Widow’s Bay
Tom Loftis (Matthew Rhys), duda anak satu merupakan walikota di sebuah pulau terpencil bernama Widow’s Bay. Sebuah pulau yang dipenuhi dengan mitos-mitos aneh. Salah satunya, mereka yang lahir di pulau tersebut tak bisa meninggalkan pulau atau mereka akan mati.
Awalnya ia tak percaya dengan semua mitos tersebut. Keinginannya untuk membawa lebih banyak pendatang dan pengunjung untuk meningkatkan perekonomian pulau. Tapi keinginan Tom ditentang oleh Wyck (Stephen Root) yang percaya bahwa pulau itu berbahaya bagi mereka.
Keinginan Tom untuk membuat pulau lebih ramai karena anaknya, Evan (Kingston Rumi Southwick) yang merasa tempat mereka tinggal membosankan. Dan di kantor walikota, dia dibantu oleh asistennya, Patricia (Kate O’Flynn) yang percaya bahwa dia diintai oleh pembunuh berantai bernama Boogeyman ketika SMA.
Lebih cocok jadi serial komedi
Widow’s Bay merupakan sebuah series orisinil Apple TV yang dikembangkan oleh Katie Dippold. Katie sebelumnya merupakan penulis serial Parks and Recreation yang dikenal karena komedi deadpan-nya. Sementara Hiro Murai, sutradara Barry sekaligus produser The Bear menggarap lima episode serial ini.
Gabungan keduanya yang sama-sama berkecimpung di dunia komedi menghasilkan horor yang tak seperti biasanya. Nuansa komedi lebih melekat dengan situasi-situasi awkward melalui humor bergaya deadpan atau menggunakan penyampaian yang datar dan terkadang absurd.
Absurditas ini yang menjadi daya tarik serial ini. Meski mengusung genre horor, namun komedinya selalu bermunculan. Tak terlalu menyeramkan seperti film horor lainnya yang sepertinya hanya bertujuan untuk memberikan rasa takut kepada penonton.

Plotnya didukung oleh cerita yang solid. Dan untuk sebuah horor, alurnya menarik dan mengulik rasa penasaran. Setiap episode selalu menawarkan misteri yang harus dipecahkan. Dipenuhi dengan berbagai jenis horor; slasher, gore, horor psikologis, bahkan urban legend.
Sejak awal, penonton akan dihadapkan pada keanehan-keanehan dari pulau Widow’s Bay. Terkadang urban legend yang diceritakan terasa terlalu dibuat-buat untuk mengundang rasa penasaran dan pertanyaan, “Apakah cerita yang disampaikan itu benar terjadi?”.
Jangan lupa dengan twist-nya. Ceritanya perlahan meningkat di setiap episode. Sampai puncaknya di episode ke-10 dengan twist demi twist bermunculan. Hingga bagian akhirnya masih menimbulkan rasa penasaran. Mungkin ada yang mudah ditebak oleh penonton, tapi ada yang datang secara tiba-tiba.
Senggol cerita horor bergaya meta
Serial bertemakan horor tentu tak akan menarik jika hanya menjual ketakutan. Nah, di serial ini ada berbagai isu yang diungkit. Seperti tentang sejarah masa lalu di awal-awal Amerika, isu sosial dan politik yang menyertai hingga saat ini, serta hubungan antar keluarga.
Cerita keluarga jadi poin penting yang diangkat sebagai tema universal di serial ini. Misalnya orang tua yang akan melakukan berbagai cara untuk menjamin kehidupan anak-anaknya, sampai melakukan hal yang terlalu ekstrim bahkan tindakan ilegal.

Tiap episode juga menampilkan penggalan cerita dari kisah-kisah horor mainstream. Ini juga terlihat dari komedinya yang meta. Katie menyelipkan plot maupun format film horor Hollywood dalam bentuk komedi yang kemunculannya tak disangka-sangka.
Semuanya menjadikan serial ini menarik dari awal episode hingga ending. Termasuk bagian akhir yang mungkin dibuat open ending, atau tanpa akhir yang pasti. Menyisakan ruang untuk membawa kembali cerita Loftis dalam season selanjutnya.
Serial Widow’s Bay mungkin bisa dibilang salah satu series horor terbaik tahun ini. Semuanya solid, dari cerita, karakter, latar, tone, lighting, sampai caranya menyeimbangkan suasana seram dengan drama keluarga dan komedi deadpan yang awkward.




