Baim Wong bersama Tiger Wong Pictures mengeluarkan film Semua Akan Baik-Baik Saja sebagai potret kehidupan masyarakat pinggiran kota Jakarta. Dipenuhi adegan-adegan yang terasa personal dan ngena bagi orang-orang yang sedang berjuang di dalam kehidupan mereka.
Sinopsis film Semua Akan Baik-Baik Saja
Langit (Reza Rahadian) adalah anak kedua yang tinggal di sebuah rumah susun dan bekerja serabutan untuk menyambung hidup. Kehidupannya tiba-tiba berubah ketika sang kakak, Mentari (Happy Salma), meninggal dunia dan meninggalkan tiga orang anak.
Karena dua adiknya, Bintang (Raihaanun) dan Banyu (Ari Irham) masih belum mapan, ia akhirnya tinggal di rumah ibunya (Christine Hakim) sekaligus menjaga ketiga anak Mentari; Syafa (Malika Shaqueena), Aquene Aziz Djorghi (Malika), dan Alim (Rahmatullah Nan Alim) yang menyandang Down Syndrome.
Kehidupannya berubah secara signifikan karena tanggung jawab yang kini ia emban. Terlebih ketika sang ibu berniat untuk menjual rumah mereka, ia harus mengambil surat tanah yang masih dipegang oleh mantan suami Tari, Ilhan (Teuku Rifnu Wikana).
Kekuatan nama-nama besar Tanah Air
Setelah dua film terakhir yang disutradarainya bergenre horor, transformasi Baim Wong langsung terasa dengan film Semua akan Baik-Baik Saja. Sebuah kisah drama slice-of-life yang menyenggol banyak orang berkat realita yang disampaikan.
Film ini mengisahkan tentang sosok Langit yang dibebani tanggung jawab: mengurus tiga keponakan sekaligus membenahi hidupnya yang berantakan. Ada pula sudut pandang Syafa dan Malika yang harus ditinggal ibu dan tak diacuhkan oleh ayah mereka, serta Bintang dan Banyu dengan masalah mereka masing-masing.
Film ketiga penyutradaraan Baim ini terasa masih mentah. Tapi inilah yang membuat film ini semakin memesona. Beberapa adegan dengan gaya one-cut shot membawa penonton lebih mudah masuk ke dalam cerita dan merasa berada dalam kehidupan Langit.
Nama-nama besar yang menghiasi film ini punya andil besar dalam menyampaikan cerita yang jujur, bersahaja, tapi menohok di hati. Setiap karakter penuh dengan layer dan kompleks dengan cara mereka mengatasi masalah mereka sendiri.
Bahkan semua karakter utama punya adegan menangis yang menyesakan. Mungkin sesuai dengan tema bahwa setiap orang punya masalah dan menangis jadi salah satu stress relief. Begitu pula dengan pesan pentingnya keluarga bagi manusia yang merupakan makhluk sosial yang rapuh.
Namun, yang jadi bintangnya adalah Rahmatullah Nan Alim. Sosok pemeran Alim ini menjalani debut film perdananya dengan apik. Penyandang Down Syndrome yang mampu memberikan kehangatan di setiap kemunculannya. Chemistry-nya dengan Vanessa yang juga menyandang DS punya daya magis sendiri yang membuat ceritanya semakin dinamis.
Poverty porn masyarakat pinggiran Jakarta
Film ini mungkin bisa dianggap sebagai poverty porn, yang mana ceritanya meromantisasi kehidupan masyarakat miskin. Tanpa ada pemberontakan terhadap sistem, hanya mengeksploitasi kehidupan yang sudah terpuruk. Dan melihat kondisi Indonesia saat ini, bukan tak mungkin ada banyak penonton yang relate dengan kisah Langit dan keluarganya.
Rumah yang jauh dari perkotaan, bersebelahan dengan jalur kereta dan suara KRL sepanjang waktu, tidak hanya jadi latar belakang, tetapi juga sebagai sosok pelengkap. Ini membawa representasi kehidupan masyarakat pinggiran yang terus hidup dengan gempuran masalah setiap harinya.
Saking banyaknya kisah yang bisa dikuras dari film ini, tampak jelas karakter-karakter di rusun terasa jauh dari spotlight dan masih punya cerita untuk dikembangkan. Misalnya, Ageng Carlitos sebagai Don C yang kental dengan logat dan Ade Rai yang harus pakai prostetik dalam debut film pertamanya.
Baim sendiri menyebutkan bahwa film ini merupakan karya paling emosional dan pribadi yang pernah ia buat. Bahkan ada beberapa adegan di dalam film antara ibu Wida dan Langit, sebagian ada yang dibuang, diambil dari pengalaman Baim dan ibunya.
Film Semua akan Baik-Baik Saja bisa jadi pencapaian tersendiri bagi Baim Wong sebagai sutradara. Sebuah karya yang muncul dari kerentanan dan terasa personal memang lebih mudah sampai ke penonton. Mengingat kondisi Indonesia saat ini, tak tahu sampai kapan film seperti ini akan muncul ke permukaan.