Villain yang lebih berbahaya dan aksi yang lebih kasar bikin Ready or Not 2: Here I Come jadi salah satu sekuel yang menarik. Didukung world building yang lebih besar dan kehadiran karakter baru memberikan penambahan yang menyenangkan untuk waralaba horor/gore ini.
Sinopsis film Ready or Not 2: Here I Come
Setelah selamat dari ritual keluarga Le Domas, Grace (Samara Weaving) yang ditolong oleh paramedis dibawa ke rumah sakit. Dia akhirnya bertemu dengan adiknya, Faith (Kathryn Newton) yang tak begitu dekat dan telah tujuh tahun tak bertemu.
Keluarga Danforth yang mengetahui hal tersebut membawa Grace dan Faith kembali. Dalam keadaan terikat, pengacara keluarga Danforth (Elijah Wood) menjelaskan bahwa Grace harus melakukan ritual yang sama dan selamat dari enam keluarga di dalam Council hingga terbit fajar.
Dipimpin oleh Ursula (Sarah Michell Gellar) dan saudara kembarnya Titus (Shawn Hatosy), mereka bersama keluarga lainnya dari sekte ini berlomba-lomba untuk membunuh Grace. Mengingat siapapun yang membunuh Grace bisa menjadi pemimpin dari sekte tersebut.
Peningkatan di berbagai sisi
Ready or Not melejit sebagai karya orisinil ketika dirilis perdana pada tahun 2019 silam. Bukan blockbuster, tapi film ini menarik perhatian karena sisi gore dan one (wo)man show-nya Samara Weaving yang membuatnya meraup keuntungan berlipat dari budget ‘hanya’ $6 juta.
Di film kedua, kombo sutradara Matt Bettinelli-Opin dan Tyler Gillet kembali dalam dunia yang lebih luas dan aksi yang lebih berdarah-darah. Meski set-up ceritanya sedikit lebih lama ketimbang film sebelumnya, keduanya membawa penonton dalam dunia sekte sesat yang lebih kompleks dan berbahaya.

Kombinasi Samara Weaving dan Kathryn Newton yang tenar sejak kemunculannya di Ant Man and the Wasp: Quantumania (2023) punya chemistry yang unik. Grace yang penuh perhitungan disandingkan dengan Faith yang spontan dan urakan terlihat dinamis dalam hubungan kakak-adik yang bertolak belakang.
Deretan cast-nya pun menarik. Menyenangkan melihat Sarah Michelle Gellar ada di estetika gore. Selain Elijah Wood yang mampu menghadirkan kesan misterius, Shawn Hatosy yang bengis jadi sorotan lain di film ini. Berbeda karakter, tapi jauh berbeda dari pembawaannya yang berwibawa di serial The Pitt.
Kekuatannya terlihat pada gore dan aksinya terasa lebih menyala. Tapi jika pun ada kekurangannya, sekuel ini tak mengeksplorasi latar tempatnya. Mengingat film pertama fokus pada kejar-kejaran dan persembunyian di kastil tua, sehingga kesan mencekam dan horornya lebih terkesan.
Melawan sekte sesat
Ready or Not sendiri dikembangkan oleh Guy Busick dan R. Christopher Murphy yang juga berperan sebagai penulis di film kedua. Keduanya kembali meski berjarak 7 tahun dari film pertama. Setidaknya kehadiran Guy dan Christopher masih membawa esensi dan kekuatan waralaba ini.
Tema yang disampaikan memang mengusik masyarakat elite yang bisa bertindak apa saja. Jika film pertama fokus pada keluarga taipan Le Domas, kini penonton akan dibawa ke dunia Dafront dan kelompok borjuis yang punya pengaruh besar dalam tatanan dunia.
Hal ini langsung disampaikan dari karakter Chester Danforth yang diperankan sutradara kawakan David Cronenberg. Hanya dengan satu panggilan telepon saja, ia bisa menghentikan perang yang tak berkesudahan.

Grace dan Faith jadi lambang perlawanan untuk sekte yang menguasai dunia tersebut. Apalagi di tengah berita kapitalisme dan kejahatan yang seakan bisa lari dari pengadilan, menyenangkan untuk melihat seorang wanita biasa melawan sistem dan orang-orang yang sering berbuat seenaknya.
Walaupun bagian akhirnya terasa sudah komplit, tapi masih ada beberapa pertanyaan lain yang membekas. Mungkin bisa jadi alasan bagi Matt dan Tyler untuk membuat film ketiga. Meski belum ada kepastian dari Searchlight maupun Lionsgate.
Film Ready or Not 2: Here I Come mampu melepaskan energi yang menyenangkan dalam world building, pengembangan cerita, serta penyampaiannya yang berdarah-darah. Keseluruhan peningkatan ini membawa sekuel ini lebih solid dan superior ketimbang film pertama.




