REVIEW

Dokumenter No Other Land (2025): Mengulas Penindasan Israel yang Heartbreaking

4.5 / 5

Dokumenter

Reviewed by

poster No Other Land

Dokumenter No Other Land secara gamblang menyorot penindasan sekaligus sadisnya perlakuan tentara Israel terhadap masyarakat Palestina. Kini dibawa ke layar lebar mainstream, pemenang Dokumenter Terbaik dalam Oscar 2025 ini merupakan salah satu karya dokumenter penting saat ini.

Sinopsis Dokumenter No Other Land

Basel Adra hidup di sebuah desa kecil di Masafer Yatta, bagian selatan Tepi Barat. Sejak kecil, ia mengetahui bahwa ayahnya merupakan seorang aktivis. Sebagai seorang lulusan sekolah hukum, dia selalu memposting foto dan video penghancuran desanya dari tentara Israel di akun Instagram-nya.

Sejak 2019, ia berteman dengan Yuval Abraham, jurnalis Israel yang turut membantunya mendokumentasikan penindasan serta penghancuran yang terjadi di desanya. Bersama Basel, Yuval merasa kecewa dengan sedikitnya views dari artikel yang dia tulis.

Ada banyak footage yang mengungkapkan tentang kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi di Masafer Yatta. Hingga akhirnya tentara Israel mulai merobohkan bangunan-bangunan di dengan alasan daerah tersebut adalah pemukiman ilegal di tempat latihan tentara IDF.

Dokumenter yang membuka mata

Dalam isu yang berlarut-larut dan menyita perhatian masyarakat dunia, No Other Land merupakan salah satu dokumenter paling penting saat ini. Di tengah banyaknya masalah yang menimpa masyarakat Palestina di Tepi Barat, film ini menangkap hal-hal penting dan disampaikan dengan lugas dan kritis. 

Memperkenalkan Basel, penduduk Masafer Yutta, yang keluarganya telah menempati area tersebut mulai dari tahun 1830-an. Sementara tanah yang mereka tempati dianggap bukan milik mereka, sehingga bangunan-bangunan dirobohkan dengan dalih pemukiman ilegal di area latihan tentara Israel.

kondisi Palestina di No Other Land
via Antipode Films

Dokumenter ini menggambarkan awal dari perlawanan Basel, mengikuti darah aktivisme dari ayahnya dalam berjuang mempertahankan rumah mereka. Hingga akhirnya saudaranya lumpuh akibat ditembak tentara Israel yang mengusir mereka.

Sebagian besar adegan yang terekam menyayat hati. Menimbulkan perasaan haru dari awal sampai akhir, mengungkapkan betapa menyedihkannya kehidupan masyarakat Palestina yang hanya punya dua pilihan, sekuat mungkin bertahan, atau pindah ke kota lainnya tanpa kepastian pekerjaan atau penghidupan.

Kekerasan demi kekerasan dari konfrontasi tentara Israel diperlihatkan dengan gamblang betapa angkuh dan keras kepalanya mereka. Dan buat kamu yang mau nonton ini harap hati-hati, karena ada adegan mengerikan yang terekam jelas di bagian akhir. Sehingga film ini memang bukan untuk penonton di bawah umur.

pemeran film No Other Land
via Antipode Films

Bahkan hingga kredit akhir muncul, ada banyak pertanyaan yang masih menyesakkan dada: apa yang terjadi pada Basel, bagaimana dengan anak-anak di Masafer Yatta, yang selalu senang untuk pergi sekolah, menghilangkan stress dengan bermain game di ponsel mereka, atau bagaimana mereka semua menjalani kehidupannya.

Nestapa masyarakat Palestina

Dokumenter ini dibuat di daerah Masafer Yatta, masih termasuk ke dalam West Bank yang sekarang dikuasai oleh Israel. Fokus pada penduduk Palestina yang tinggal di daerah-daerah terpencil yang mendapatkan konfrontasi dari settlers, atau penduduk sipil Israel. 

Jauh berbeda dengan Palestine ’36 (2025), sebuah film fiksi yang mengisahkan tentang latar belakang konflik yang terjadi di Palestina. Film ini lebih banyak menceritakan tentang betapa konflik ini terjadi bahkan sebelum Nakba 1948.

Penggambarannya memang tak sekuat dokumenter ini. Ketika perang antara Hamas dan IDF menewaskan lebih dari puluhan ribu penduduk Gaza dan membuatnya luluh lantak. Isu yang disampaikan memperlihatkan bagaimana penduduk Palestina ditindas hingga sampai bagian terkecil dalam kehidupan mereka.

Basel Adra di daerah Palestina
via Antipode Films

Durasi 97 menit masih kurang mengikuti pengekangan demi pengekangan yang mereka hadapi; mulai dari akses terbatas, ketidakadilan hukum, sampai dengan diskriminasi dalam bentuk plat mobil (hanya mobil milik penduduk Israel yang bebas melintas). Penindasan yang coba dihentikan oleh Basel dan Yuval. 

Di satu sisi, Basel menertawakan ketikan online yang menggaungkan “Peace, peace, peace, Palestine” di Facebook-nya. Bagaimana ia merasa bahwa hal tersebut tak memberikan perubahan apa-apa terhadap kehidupan mereka. Masyarakat Palestina masih dirundung dan diinjak-injak setiap harinya.

Namun kehadiran No Other Land, ditambah dengan kemenangannya pada Oscar semakin menambah exposure kisah mereka. Cerita tentang perjuangan Basel, Yuval, hingga seluruh masyarakat Palestina mendapatkan platform yang lebih besar, membuka lebih banyak mata. Seperti yang diharapkan oleh Yuval; tanpa perlawanan, maka mereka akan mati.

poster film No Other Land 2025

GENRE

Dokumenter

AKTOR

Basel Adra, Hamdan Ballal, Yuval Abraham, Rachel Szor

SUTRADARA

Basel Adra, Hamdan Ballal, Yuval Abraham, Rachel Szor

TANGGAL RILIS

07/02/2025

No Other Land

RATING

Facebook
X Platform
LinkedIn
WhatsApp
Threads

About Reviewer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *