Dalam film Marty Supreme, Timothee Chalamet membawakan kisah Marty Mauser dengan keinginan yang menggebu-gebu untuk meraih American Dream. Bukti bahwa tidak semua protagonis harus punya kepribadian yang lembut dan taat peraturan. Â
Sinopsis film Marty Supreme
Marty Mauser (Timothee Chalamet) yang bekerja sebagai penjual sepatu di toko milik pamannya merupakan seorang atlet tenis meja. Ia mengambil paksa uang $700 untuk biayanya bepergian ke London demi mengikuti kejuaraan British Open.
Di London, ia bertemu artis yang telah pensiun, Kay Stone (Gwyneth Paltrow). Mimpinya menjadi nomor satu di dunia semakin nyata ketika mengalahkan juara bertahan Bela Kletzki (Geza Rohrig). Namun sirna ketika ia dipermalukan oleh Koto Endo (Koto Kawaguchi), pemain tenis meja yang tuli di babak final.
Balik ke Amerika, dia akan ditangkap karena dituduh mencuri uang milik pamannya. Ketika ia melarikan diri, ia mengetahui bahwa Rachel (Odessa A’zion) sahabat lamanya hamil dengan kemungkinan anak tersebut adalah anaknya. Ia pun harus mencari cara untuk bisa mengikuti kejuaraan dunia di Tokyo demi mengalahkan Endo.
Durasi dua setengah jam tak chaos
Sebagai film pertamanya setelah berpisah dengan saudaranya, Benny Safdie, Josh Safdie menghadirkan kisah Marty dengan tempo cepat. Mempertontonkan film sport tanpa fokus pada olahraga, tapi orang di dalamnya.
Durasi sekitar 150 menit tak terasa berkat kekacauan demi kekacauan yang dialami oleh Marty. Memang mulai terasa dragging ketika mendekati sepertiga babak akhir, namun ceritanya ditutup dengan manis dalam klimaks yang menyenangkan.
Lantunan musik jazz dengan ketukan cepat serta editan adegan yang cepat membantu menambah kesan chaos dalam film ini. Mengupas kehidupan Marty dengan segala masalah yang ia ciptakan sendiri.
Safdie menghadirkan sentimen Yahudi dalam film ini dengan latar tahun 1950-an. Menggambarkan kondisi Amerika setelah kemenangan mereka di Perang Dunia II, karakter di film ini punya ambisi akan kekayaan dan kekuasaan. Termasuk penggambaran Marty yang jumawa dengan darah Yahudi-nya.
Ceritanya padat dan kompleks, sama seperti Uncut Gems (2019) yang juga disutradarai oleh Safdie. Di sisi lain, alurnya seakan bergerak lepas tanpa kendali. Tak heran jika ada penonton yang jengah dengan keputusan-keputusan keliru yang dilakukan Marty.
Sebagai seorang performer, Timothee menawarkan penampilan yang meledak-ledak. Cocok mengutarakan Marty yang penuh muslihat, suka membual, dan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang ia inginkan. Tak heran menjadikannya nominasi Best Actor dalam Oscar 2026 mendatang.
Bukan cerita asli
Karakter Marty yang diperankan oleh Timothee dikembangkan dari petenis meja asli bernama Marty Reisman. Namun selain pertarungannya dengan petenis meja dari Jepang, sebagian besar cerita di film ini merupakan kisah fiksi.
Penggambaran Marty yang urakan, selfish, dan manipulatif tentu berbeda dari Reisman. Secara orisinalitas, film ini menawarkan sebuah kisah atraktif tentang seorang petenis meja yang penuh dengan tantangan. Tapi film ini memang lebih cocok disebut sebagai kisah fiksi dengan mengambil karakter Reisman sebagai pondasinya.
Marty dalam film ini juga bukan protagonis untuk semua orang. Karena memang tak semua film ditujukan untuk menghadirkan pesan moral yang selalu positif. Ia bersinar karena pilihannya yang sepadan dengan ambisinya.
Safdie menghadirkan karakter Marty yang penuh dengan celah tapi tak berusaha menutup celah tersebut. Penggambarannya mengedepankan apa yang ia miliki dan bertindak sesuai kekuatannya tersebut. Tak ubahnya seperti karakter khas Hollywood yang mencari American Dream-nya sendiri.
Film Marty Supreme lebih cocokdilihat sebagai fiksi drama tentang seseorang yang penuh hasrat dan bertindak sesuai dengan ambisinya. Ia bertindak sesuai insting. Menekankan ego dan tentang melakukan apa saja demi mendapatkan mimpi Amerika yang paripurna.