Jangan Buang Ibu merupakan film drama keluarga Indonesia yang mengangkat tema orang tua di panti jompo. Terdengar seperti formula yang sudah sering ada di sinetron. Film garapan Hadrah Daeng Ratu ini bisa bikin bawling your eyes out sambil tetap menghibur.
Sinopsis film Jangan Buang Ibu
Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal yang berjuang membesarkan tiga anaknya setelah ditinggal oleh suaminya meninggal dunia. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Walaupun hidup di tengah keterbatasan dan perjuangannya membayar hutang peninggalan suaminya, ia mampu membesarkan ketiga anaknya, Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Teia (Saputra Kori).
Namun, ketika sudah dewasa, ketiganya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ristiana justru mengalami pengabaian di masa tuanya tanpa kehangatan keluarga yang ia rindukan.
Ceritanya membumi dan mudah diikuti
Salah satu kekuatan terbesar Jangan Buang Ibu adalah kemampuan Hadrah menyampaikan cerita yang sederhana tapi sangat relatable. Tidak ada plot twist yang dibuat-buat atau konflik yang dibesar-besarkan. Semuanya terasa down-to-earth seperti peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar.
Meski genre-nya melodrama, ada beberapa momen humor yang diselipkan. Datang dari interaksi antar karakter yang memberikan relief dari ketegangan emosional. Tapi langsung dibalas dengan perjalanan Ristiana yang mendayu-dayu.
Jika ada yang perlu dikritisi, mungkin penggunaan musik yang terasa berlebihan. Mengingat scoring penting untuk emosi, adegan yang seharusnya bikin menangis malah terkadang terasa terlalu dramatis.
Salah satu alasan utama menonton film ini terdapat pada penampilan Nirina Zubir. Perannya yang multilayer terasa kuatnya. Dari seorang ibu yang berjuang sendiri hingga mempertontonkan rapuhnya manusia yang merasa ditinggalkan di usia senjanya terasa autentik dan menyayat hati.
Selebihnya, chemistry antar karakter juga believable. Dengan lugas mempertontonkan dinamika keluarga yang terasa nyata. Interaksi yang alami dan momen-momen kecil yang tertangkap kamera menunjukkan konflik dan rasa emosional yang manusiawi.
Emosional tentang perjuangan sosok ibu
Film yang diproduksi oleh Leo Pictures ini diadaptasi dari novel Jangan Buang Ibu, Nak karya Wahyu Derapriyangga. Kisah melodrama terus terusan terasa sendu di 119 menit durasinya berjalan.
Film ini secara gamblang membahas ekspektasi masyarakat Indonesia terhadap anak-anak: bahwa kewajiban merawat orang tua adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan, apa pun yang terjadi. Pesan ini disampaikan tanpa kesan preachy atau menggurui.
Perjalanan Ristiana menunjukkan seberapa besar kasih sayang seorang ibu. Tapi menariknya, film ini tidak memihak sepenuhnya pada ibu maupun anak. Ia menunjukkan bahwa konflik keluarga merupakan cerita yang kompleks dengan segala masalahnya masing-masing.
Meski mengulas tema yang tak lagi baru, Hadrah berhasil menyajikannya dengan narasi yang mudah diikuti dan akting memukau. Ditutup dengan pesan emosional yang menyentuh tentang anak yang seringkali lupa akan kewajiban paling dasar dalam hidup.
Jangan Buang Ibu adalah film yang surprisingly menarik. Cerita perjuangan seorang ibu disampaikan dalam roller coaster emosi yang naik turun. Mengingatkan bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah berubah. Yang berubah adalah cara kita membalasnya.