Five Nights at Freddy 2 mengadopsi cerita dari game kedua seri FNAF dengan menawarkan lebih banyak referensi dan easter egg buat penggemar setia. Tapi untuk urusan cerita horor yang penuh jumpscare, FNAF tak ubahnya seperti film pertamanya.
Sinopsis Five Night’s at Freddy 2
Setahun setelah peristiwa mengerikan yang terjadi di Freddy Fazbear’s Pizza, Mike Schmidt (Josh Hutcherson) kini sudah mendapatkan pekerjaan dengan kondisi finansial yang lebih stabil. Ia pun masih berhubungan dengan Vanessa (Elizabeth Lail) yang pikirannya masih terjebak dengan kematian sang ayah.
Abby (Piper Rubio), saat ini berusia 11 tahun, terlihat jauh lebih ceria ketimbang sebelumnya. Namun di balik itu, ia merindukan ‘teman-temannya’, para robot animatronik yang menemaninya di toko pizza Freddy. Hingga satu saat, mereka menghubunginya di tengah malam.
Di Freddy Fazbear’s Pizza yang telah lama terbengkalai, sekelompok penangkap hantu masuk ke dalam toko dan dihantui oleh para robot. Ternyata ada banyak cerita lainnya yang berhubungan antara toko tersebut dengan animatronik dan korban-korbannya yang masih menjadi misteri.
Banyak referensi tapi mengorbankan cerita
Berkah dari kesuksesan adaptasi pertama rilisan 2023 yang mampu meraup hampir 15 kali lipat budget awalnya, Scott Cawthon Productions kembali menggandeng Blumhouse Productions untuk merilis sekuel dari boneka-boneka seram penghilang nyawa ini.
Namun sangat disayangkan bagaimana eksekusinya terasa setengah-setengah, jika tak mau dibilang sama dengan film sebelumnya. Mengingat FNAF 2 tetap mengandalkan format horor thriller penuh jumpscare. Apalagi film ini masih berada di ranah PG-13, jadi adegan horor dan gore yang ditawarkan terasa kurang nendang.
Durasinya tak terlalu jauh berbeda dibandingkan FNAF pertama. Tapi karena cerita yang terbilang dragging, film ini terasa cukup lama. Ditambah dengan terlalu banyak plot hole yang membuat keseruan menonton film ini berkurang drastis.
Ada karakter baru yang muncul, namun tak dieksplorasi dengan baik. Sungguh disayangkan, ceritanya terkesan dangkal dan malah membingungkan. Terlebih bagi penonton baru atau mereka yang hanya mengenal film ini tanpa pernah memainkan game-nya.
Dilihat dari sisi positif, film ini menjawab berbagai pertanyaan yang masih tertinggal ketika penonton selesai menonton film pertama. Termasuk backstory dan latar cerita, membawa masuk lebih dalam ke kisah boneka-boneka yang kerasukan di Freddy.
Selain itu, dari segi kuantitas, ada lebih banyak jumpscare dan adegan-adegan menegangkan yang tersedia. Ada pula berbagai cameo dari karakter-karakter game yang dibawa ke sekuel ini. Memberikan nuansa nostalgia tersendiri bagi penonton yang pernah memainkan game-nya.
Siap-siap buat FNAF 3
Five Nights at Freddy’s merupakan bagian dari video game yang dikembangkan oleh Scott Cawthon melalui rumah produksinya, ScottGames. Dan layaknya sekuel kebanyakan, FNAF 2 mengadaptasi sekuel game-nya yang dirilis pada tahun 2014 silam.
Ceritanya mungkin tak terlalu bisa dinikmati untuk penonton umum. Namun bagi penggemar game FNAF2, ada banyak referensi dan easter egg yang tersedia. Namun apakah akan menarik jika film ini hanya dibuat bagi orang-orang yang memainkan game-nya?
Bagian akhir sepertinya memang sengaja ditampilkan untuk memberikan potensi adanya lanjutan cerita. Apalagi Lillard sendiri sudah menandatangani kontrak untuk tiga film. Tapi apakah Blumhouse tertarik untuk melanjutkan film ini jika yang kedua flop di pasaran?
Kalau melihat dari berbagai aspek, ada banyak kekurangan yang membuat Five Night’s at Freddy 2 jauh dari kata memuaskan. Hanya saja, layaknya film pertamanya yang mendulang hampir $300 juta, respons penonton umum mungkin saja bisa berbeda.