Maggie Gyllenhaal menghadirkan karya fenomenal dalam The Bride!, sebuah kisah cinta dan thriller bergaya musikal dengan kritik sosial ketika wanita yang tak punya kendali atas dirinya sendiri. Bukan santapan penonton umum, tapi bikin pencinta sinema bersorak sorai.
Sinopsis film The Bride!
Mary Shelley (Jessie Buckley) sebagai penulis Frankenstein mengaku bahwa masih banyak hal yang ingin dia sampaikan ketika menulis kisah monster tersebut. Hingga akhirnya dia mencoba mengungkapkannya dengan merasuki tubuh seseorang.
Ia memilih Ida yang kala itu berada di sebuah bar di Chicago pada tahun 1930-an. Ia pun berebut kendali dengan Ida. Hingga pada akhirnya Ida meninggal setelah jatuh dari tangga.
Beberapa waktu ke depan, monster Frankenstein (Christian Bale) datang ke New York mencari Dr. Euphronious (Annette Bening). Ia meminta bantuan untuk menciptakan monster demi menjadi pasangannya. Dan secara kebetulan mereka menemukan mayat Ida dan menjadikannya The Bride.
Panggungnya Jessie Buckley
Berbeda dengan Frankenstein yang sudah diadaptasi berulang kali, The Bride hanya mendapatkan adaptasi melalui Bride of Frankenstein (1935), sekuel dari film Frankenstein (1931) yang sama-sama disutradarai oleh James Whale.

Terasa jelas bagaimana Maggie ingin mereplikasi film-film klasik dengan sinematografi layaknya film steampunk seperti The City of Lost Children a.k.a La Cité des enfants perdus (1995). Semuanya dipadu sempurna, baik dari segi wardrobe, latar, maupun produksinya.
Jessie Buckley kembali memikat setelah perannya yang menawan sebagai Anne Hathway di film Hamnet (2025). Ia memerankan tiga karakter sekaligus, Mary Shelley di pembukaan, Ida, dan The Bride yang nyentrik dan berbeda di semua perannya.
Aktingnya ketika beralih dari aksen Amerika ke Inggris saat perebutan kendali atas tubuh Ida jadi highlight. Belum lagi chemistry-nya yang sepadan antara Jessie dan Bale yang dinamis, menjadi nyawa tersendiri di sepanjang durasi.
Masalah akting tak perlu diragukan lagi. Keduanya sama-sama berperan sebagai ‘the undead’, atau sosok mati yang hidup kembali. Tapi kisah mereka memberikan kehangatan seiring berjalannya romansa dari sosok tak biasa ini.

Maggie juga membuat film ini layaknya sebuah karya keluarga. Mengingat ia mengajak suaminya, Peter Sarsgaard sebagai Det. Jake Willes dan sang adik, Jake Gyllenhaal. Kolaborasi Maggie dan Jake jadi yang pertama setelah Donnie Darko (2001) yang fenomenal 25 tahun lalu.
Wanita dalam kendali laki-laki
Film The Bride! memang bukan adaptasi dari novel. Mengingat karakter ini merupakan karya tambahan yang lahir dari kesuksesan Frankenstein. Bahkan ceritanya juga menggambarkan bagaimana wanita dipengaruhi oleh laki-laki, termasuk kehadirannya yang hanya diciptakan untuk memenuhi hasrat monster Frankenstein.
Maggie menjelaskan bagaimana di film ini, sosok Ida, bahkan setelah menjadi monster, tak memiliki kendali penuh atas tubuhnya sendiri. Diciptakan dan dikendalikan oleh laki-laki, bahkan disetir oleh wanita lainnya hingga lingkungannya.
Dan sekali lagi, film ini mungkin bukan untuk semua orang. Mungkin karena Maggie tak ingin membuat ini layaknya drama romantis kebanyakan. Bahkan penyampaian plotnya juga di luar dugaan dan mampir ke arah yang tak bisa disangka-sangka.

Terlebih Maggie tak menetapkan film ini ke dalam satu genre saja. Ada fiksi ilmiah, drama romantis, thriller, dibalut dalam gaya musikal. Perpaduan ini jadi sesuatu yang chaos, in a good and bad way, termasuk dalam segi penyampaian cerita.
Sisi musikalnya juga jadi pembeda. Walaupun tak sekuat film musikal yang penuh dengan lagu dan dance, tapi membuat kisah cinta yang romantis di era punk rock ini terkesan fresh. Andai saja Joker: Folie à Deux (2025) digarap layaknya film ini.
Film The Bride! bisa jadi sebuah karya memesona bagi penikmat sinema. Eksekusi yang out of this world dari isi kepala Maggie Gyllenhaal yang meronta-ronta, terlampau kreatif sehingga mungkin akan membingungkan bagi penonton umum.




