Film Rosario mengangkat kesenjangan budaya bagi anak-anak yang tumbuh besar jauh dari tempat kelahirannya. Penuh dengan jumpscare, musik yang keras, serta kisah supernatural dalam desain produksi yang suram dan sisi okultisme dalam budaya Meksiko.
Sinopsis film Rosario
Ketika kecil, Rosario Fuentes (Emeraube Toubia) merupakan seorang anak yang terjebak dalam berbagai kesialan di keluarganya. Sang ibu menderita penyakit serius, keyakinan sang nenek, Griselda (Costanza Gutierrez), yang mempengaruhi keluarganya, serta perceraian orang tuanya membuatnya tumbuh besar jauh dari latar belakang budayanya.
Dan ketika dewasa, ia adalah seorang wanita karir yang sukses di New York. Hidupnya sebagai broker saham berjalan normal sampai suatu hari ia menerima kabar bahwa neneknya yang tinggal sendirian di apartemen meninggal secara mendadak.Â
Ketika ia datang untuk mengurus pemakaman sang nenek, badai salju membuatnya terjebak semalaman di apartemen tersebut bersama mayat neneknya. Ia menemukan ruangan rahasia yang menyeretnya ke dalam rahasia gelap keluarganya yang menyimpan perjanjian lama dengan kekuatan gaib.
Horor dengan budaya Meksiko
Film yang menjadi debut sutradara Felipe Vargas ini mengangkat tema trauma antar generasi dalam balutan horor tentang keluarga dan budaya Meksiko. Durasinya cuma 90 menitan, terasa kompak dan cukup ringkas untuk pengalaman menonton horor yang cukup menyenangkan.Â
Secara keseluruhan, Rosario mengandalkan suasana yang dingin dan mencekam di beberapa bagian. Disandingkan dengan jumpscare yang bertebaran di sepanjang cerita, menambah nuansa menegangkan dan keseruan menontonnya. Tipikal film-film horor Hollywood yang bertumpu pada jumpscare untuk mengagetkan penonton.
Cerita mulai terasa menarik ketika Rosario mulai menemukan rahasia keluarganya. Ada sisi gelap dalam sisi penyembahan di budaya Latin dan simbolisme tentang warisan leluhur yang membuat film ini mengeluarkan aroma okultisme yang begitu kuat.
Vargas masih terjebak dengan motif dan ciri-ciri film horor Hollywood yang membuat film ini mudah ditebak. Penonton bakal dibikin frustasi dengan berbagai momen, dimana Rosario yang digambarkan sebagai karakter yang logis mengambil keputusan-keputusan konyol sepanjang cerita.
Ada jumpscare dan kisah yang mengejutkan, dilanjutkan dengan penemuan baru guna meningkatkan tensi cerita, dan kembali ke keadaan semua. Begitu seterusnya dalam siklus yang berulang hingga cerita berakhir. Ditutup dengan plot twist dan ending yang terasa menggantung, malah membuat ceritanya terasa tak selesai.
Gabungkan spiritualisme dan isu modern
Judul Rosario, selain merupakan nama dari karakter utamanya, merujuk pada ritual pemakaman yang dilaksanakan dalam tradisi Katolik. Tradisi ini terkenal di Meksiko, dimana pengerjaannya dilaksanakan dalam bentuk upacara penghormatan terakhir pada malam sebelum penguburan.
Yang membuat film ini menarik adalah bagaimana Vargas dan penulis naskah Allan Trezza menggabungkan unsur kebudayaan dan horor. Yang paling kentara adalah keberadaan praktik Palo, agama yang memadukan spiritualisme Afrika dan Katolik, yang dilakukan Griselda.
Selain itu, penonton akan disuguhkan dengan sejarah tentang perjuangan imigran Meksiko masuk ke Amerika. Tambah penting mengingat semakin maraknya isu mengenai deportasi penduduk ilegal, terlebih mereka dengan garis keturunan Amerika Latin di US beberapa waktu belakangan.
Sayangnya, tak banyak yang membuat film ini berbeda dibandingkan horor lainnya yang mengangkat isu budaya secara spesifik dan tema keluarga. Mengingat Vargas masih bermain aman dengan keseluruhan template karakter dan progresi plot yang itu-itu saja.
Secara keseluruhan, film Rosario menarik buat kamu yang ingin melihat horor bertemakan keluarga dan mengangkat unsur budaya Meksiko yang jarang diangkat. Sangat disayangkan, tak banyak keunikan lainnya yang bisa dilihat dari film ini, selain debut yang (tak terlalu) hangat bagi Vargas.