Mahakarya Studios menggandeng Upir Guava sebagai sutradara Pelangi di Mars. Sebuah karya baru dari sineas Tanah Air dengan teknologi hybrid yang dikembangkan sejak 2020, menawarkan alternatif film Lebaran yang cocok ditonton bersama keluarga.
Sinopsis film Pelangi di Mars
Pada tahun 2090, kondisi Bumi yang mengenaskan akibat krisis air bersih karena dimonopoli oleh perusahaan bernama Nerotex. Manusia berbondong-bondong untuk mencari peradaban baru, yaitu membentuk koloni di Mars.
Pratiwi (Lutesha) merupakan salah satu ilmuwan yang berangkat ke Mars. Bepergian dalam keadaan hamil, ia melahirkan anak bernama Pelangi (Keinaya Messi Gusti). Pelangi menjadi manusia pertama yang lahir di planet Mars.
Ketika Pratiwi dan koloni manusia meninggalkan Mars, Pelangi melanjutkan tugas ibunya mencari batu Zeolith Omega yang diyakini bisa memurnikan air di Bumi. Ia dibantu oleh lima robot yang terbengkalai; Sulil (Dimitri Aditya), Kimichi (Vanya Rivani), Petya (Gilang Dirga), Nyoman (Kristo Immanuel), dan Batik (Bimo Kusumo).
Film hybrid dengan genre fiksi ilmiah
Mahakarya Pictures menghadirkan film hybrid baru di Indonesia. Film ini menggabungkan antara teknologi komputer dengan live action dari aktor manusia seperti film Detective Pikachu (2019) atau Trilogi Sonic the Hedgehog.
Untuk sebuah film yang menyasar penonton anak-anak, ceritanya memang mudah untuk dibilang membosankan. Meski memang ini bukan jadi alasan. Mengingat ada banyak film anak-anak yang juga bisa memikat untuk penonton dewasa dengan cerita yang solid dan kuat.
Andalan dari film ini tentunya teknologi hybrid yang digunakan. Gabungan antara aktor manusia dengan menggunakan teknologi XR (Extended Reality) berbasis Unreal Engine memang membuat tampilan visualnya tak kalah dengan film-film Hollywood.
Upie menggabungkan aktor anak-anak yang tampil secara live action dengan karakter robot yang nantinya akan diisi suara oleh aktor lain di belakang layar. Hasil akhirnya cukup impresif dari segi akting dan karakteristiknya.
Ada penggunaan AI yang sempat jadi kontroversi. Tak terlalu jelas terlihat dengan mata telanjang. Tapi tentu saja jadi poin negatif tersendiri, di tengah maraknya sineas yang mengecam penggunaan kecerdasan buatan di dalam karya yang bersifat seni.
Di sisi lain, baik dari segi musik, karakter, maupun sinematografinya masih terasa standar dibandingkan film Indonesia lainnya. Tak terlalu meyakinkan, tapi tak pula jelek layaknya satu film animasi yang bikin geger Indonesia tahun lalu.
Ceritanya untuk anak-anak (?)
Selain menjadi sutradara, Upie bekerja sama dengan Alim Sudio menjadi penulis naskah. Menawarkan sebuah kisah petualangan di Mars untuk anak-anak. Jadi bisa dibilang film ini menyasar anak-anak berusia 5 tahun ke atas.
Memang durasi dua jam untuk sebuah film anak-anak terbilang lama. Ada banyak plot yang seharusnya bisa lebih padat, tapi terasa lama untuk menekankan kembali hal-hal yang mungkin terlewat. Termasuk memberi ruang untuk komedi dan membawa penonton masuk ke dunia Pelangi.
Dengan ceritanya yang terbilang sederhana, Pelangi di Mars menyuarakan tentang bagaimana usaha tak akan mengkhianati hasil. Mengajarkan kepada anak-anak untuk terus meraih mimpi, walaupun itu merupakan hal yang mustahil dilakukan.
Mahakarya sendiri mengungkapkan bahwa film ini bisa saja dikembangkan menjadi Intellectual Property (IP) tersendiri. Terlihat dari bagian akhirnya yang punya plot twist tersendiri. Tak menutup kemungkinan ceritanya akan berlanjut pada sekuel yang akan dirilis nantinya.
Tak banyak film Indonesia yang mengusung tema fiksi ilmiah. Dan penggunaan teknologi mutakhir dalam pembuatan film ini membuat kesan futuristiknya terasa jelas. Setidaknya membuktikan bahwa Indonesia punya kekuatan untuk merambah genre ini di kemudian hari.
Film Pelangi di Mars bisa jadi batu loncatan untuk film-film Tanah Air yang lebih beragam. Tak hanya dari segi genre, tapi juga proses pembuatan. Kekurangan yang ditemukan saat ini bisa jadi introspeksi untuk karya-karya yang lebih seru di kemudian hari.