Film 28 Years Later menuntaskan penantian lebih dari dua dekade ago penggemar genre horor, apalagi penyuka film bertemakan zombie. Telah lama dinanti, tapi kombo Danny Boyle dan Alex Garland jauh-jauh kembali tanpa menuntaskan ekspektasi yang dibangun tinggi oleh dua film sebelumnya.
Sinopsis 28 Years Later
Bertahun-tahun setelah merebaknya virus di daratan Inggris, sekelompok orang memisahkan dan mengurung diri di Pulau Holy di lepas pantai timur laut Inggris. Mereka berbagi tugas, dimana para lelaki mencari makan di pulau seberang hingga membunuh para zombie dengan busur.
Spike (Alfie Williams) merupakan seorang anak yang sangat disayangi oleh ibunya, Isla (Jodie Comer) yang sedang sakit dan mengalami depresi. Sang ayah, Jamie (Aaron Taylor-Johnson) mengajak sang anak untuk pergi di pulau utama sebagai sebuah ritual kedewasaan bagi Spike.
Spike terobsesi dengan rumor adanya “dokter” yang masih tinggal di area berbahaya. Ia melanggar semua aturan di pulau dengan mengajak sang ibu ke area terlarang sebagai upaya putus asa untuk menemukan dokter yang bisa menyembuhkannya.
Tak sekuat pendahulunya
28 Days Later (2002) bukan hanya sekadar meme yang hype ketika Covid-19 menyerang. Karya ini melambungkan nama Danny Boyle sebagai pencetus genre zombie berkaki cepat yang akhirnya diikuti oleh Hollywood dan sineas horor lainnya di seluruh dunia.
Sedangkan 28 Weeks Later (2007) pun tak bisa dilupakan sebagai salah satu film zombie yang populer berkat opening sequence yang mencekam dan tak terlupakan. Tentu ada ekspektasi tinggi dari waralaba yang akhirnya kembali setelah 18 tahun ini.
Dari segi cerita, penulis naskah pemenang Oscar Alex Garland yang kembali setelah absen dari Weeks tentu menawarkan narasi yang solid dan menegangkan. Tapi dengan dua pendahulunya yang mencuat sebagai salah satu film horor terbaik, Years terasa bagaikan kurang nendang.
Film ini bagaikan terbagi menjadi dua babak. Dimana babak pertama dan kedua hadir dalam tone yang jauh berbeda. Setengah awal film menjanjikan dengan adegan yang bikin penonton terpesona, apalagi dengan virus yang lebih berkembang menjadi entitas baru.
Bagian pertama dipenuhi adegan kejar-kejaran yang menegangkan, pembunuhan mengerikan dalam gerakan lambat, serta pengambilan gambar yang menawan dari sinematografer Anthony Dod Mantle. Termasuk mengandalkan teknologi dengan menggunakan kamera iPhone dalam satu highlight adegan yang menawan.
Didukung oleh aktor kelas wahid Hollywood dengan peran dan karakter yang cukup menjanjikan, tapi bagian keduanya terasa datar dan membosankan. Agak mengecewakan untuk salah satu film horor paling ditunggu tahun ini.
Ada cameo sebagai kontinuitas
28 Years Later merupakan edisi ketiga dari horor post apokalips yang telah mendapatkan penggemar setia sejak pertama kali dirilis 23 tahun lalu. Walaupun dengan kembalinya Danny Boyle dan Alex Garland serta Anthony Dod Mantle, sayangnya cerita tentang virus kemarahan ini tak sebanding dengan penantiannya.
Masih jelas teringat bagaimana Days merevolusi genre zombie di seluruh dunia. Didukung film kedua yang kembali mempertontonkan konflik sosial yang lebih horor ketimbang pergulatan dengan zombie. Di sisi lain, film ketiga tak mampu menangkap segala hal yang membuat waralaba ini unggul dari film di genre serupa.
Tapi tenang saja. Untuk penggemar setianya, ada dua cameo yang muncul di pertengahan cerita. Bukan seperti yang diharapkan, tapi datang menghadirkan kontinuitas sinematik yang membuat dunia karya Boyle semakin suram.
Meski film ini berakhir dengan apik dan menjawab misteri utama yang dibawakan di dalam film, namun ada beberapa pertanyaan lainnya yang masih tersisa. Kemungkinan besar akan terjawab dengan sekuel 28 Years Later: The Bone Temple yang disutradarai oleh Nia DaCosta.
Sebagai film horor, instalasi ketiga ini punya cerita dan ketegangan yang oke, tapi tentu masih kurang greget jika dibandingkan dengan edisi perdananya. Akankah film keempat bisa menjadi jawabannya? Semoga saja.