Mengetahui peran Intimacy Coordinator atau dikenal juga dengan koordinator adegan intim menjadi semakin penting setelah heboh kasus sutradara yang melakukan pelecehan kepada aktrisnya tak lama ini. Profesi yang baru muncul dalam satu dekade belakangan ini jadi ruang nyaman untuk menghindari tindakan-tindakan asusila yang sering ditemukan di ranah perfilman.
Apa itu Intimacy Coordinator?
Profesi ini pertama kali diperkenalkan pada serial televisi The Deuce (2017) yang diciptakan oleh David Simon dan George Pelecanos. Cerita yang dibintangi James Franco dan Maggie Gyllenhaal in mengisahkan tentang industry pornografi berlatar New York tahun 1970-an.
“Kami ada di sana untuk membantu mengkoordinasikan adegan apa pun dengan simulasi adegan seks, ketelanjangan, atau adegan rentan,” jelas Amy Northrup, seorang koordinator adegan intim menjelaskan kepada CBS.
Dalam wawancaranya, Amy yang berbasis di New York menjelaskan bahwa pekerjannya bukannya bertindak sebagai “polisi seks”, tapi ia memastikan aktor berperan senyaman mungkin keitka melakukan adegan intim.
“Jadi hal pertama yang kami tanyakan kepada sutradara adalah, ‘Apa yang Anda bayangkan? Bagaimana pengaturan pengambilan gambarnya, bagaimana posisi tubuhnya, tingkat ketelanjangannya, tindakan seksual apa yang sebenarnya mereka lakukan?’”
“Adegan rentan’, seperti yang dijelaskan Amy mencakup berbagai hal, mulai dari simulasi persalinan, hingga adegan ibu menyusui. Mereka diharuskan bekerja sama dengan perancang konstum untuk memastikan aktor mengenakan pakaian yang sesuai.
Dalam press conference film Gowok: Javanese Kamasutra (2025) beberapa waktu lalu, Runny Rudiyanti menjelaskan pentingnya peran ini. Ia juga menjelaskan apa saja yang ia lakukan untuk menciptakan ruang aman bagi para aktor yang berperan.
“Kami (intimacy coordinator) menjembatani antara kreator yang punya visi kreatif dan juga para aktor dan juga kru untuk kita bantu ciptakan ruang yang lebih nyaman dan aman,” terang Runny kepada media.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perannya juga menjelaskan apa yang diinginkan sutradara, dalam film ini Hanung Bramantyo, bagi pemeran. Di sisi lain, para aktor juga mendapatkan pengetahuan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, termasuk mengajarkan cara melakukan adegan.
“Melalui kita breakdown itu naskah, lalu kita lihat di situ ada elemen apa aja, nudity ada simulated sex, dan lain lain. Kita lakukan juga workshop boundaries (dan) workshop koreografi,” tambahnya.
Awal mula koordinator adegan intim
Namun jauh sebelum Hollywood mengenal profesi ini, Lana dan Lilly Wachowski yang meledak setelah menyutradarai The Matix pernah menggunakan sosok Susie Bright untuk menggawangi keintiman dari film Bound (1996) yang mereka produksi. Hal ini dijelaskan Susie ketika diwawancarai oleh NPR beberapa waktu lalu.
Film Bound bercerita tentang seorang pacar mafia yang ingin mencuri uang dari mantannya bersama pacar barunya. Film bergaya neo-noir dengan genre crime thriller tersebut menghadirkan adegan intim, termasuk antara pemeran utama, Violet (Jennifer Tilly) dengan Corky (Gina Gershon).
Dalam adegan ranjang yang berlangsung dalam 20 menit pertama film, Susie mengungkapkan bahwa adegan tersebut diambil dalam metode one shot. Ia menjelaskan bahwa keintiman sangat penting bagi keseluruhan adegan dan plot.
Susie yang merupakan bagian dari komunitas lesbian kala itu dipercaya untuk mengarahkan dan menjadi coordinator adegan. Ini dilakukan untuk menjaga persepsi bahwa adegan tersebut dilakukan hanya untuk tujuan komersil tanpa memperdulikan aktris yang melakukannya.
Pelecehan di lingkungan perfilman
Pentingnya peran seorang Intimacy Coordinator semakin mendesak demi menghindari kejadian-kejadian tak mengenakan, baik bagi aktris maupun para kru yang terlibat dalam sebuah produksi film. Khususnya bagi aktor wanita dan anak-anak di bawah umur yang rentan dieksploitasi.
Mengingat film yang sejatinya menjadi ruang untuk berekspresi malah direduksi sebagai platform kejahatan bagi pihak yang tak bertanggungjawab. Bukan hanya dalam proses produksi, tapi sebelum itu, misalnya ketika casting atau pemilihan peran.
Hal ini terjadi kepada TS (17 tahun) yang mendapatkan pengumuman untuk casting sebuah film dengan genre thriller psikologis. Dalam sebuah thread di Twiiter, ia mengungkapkan bagaimana ia mendapatkan pesan dan dimintai untuk mengirimkan foto dengan pose sensual.
Dalam penjelasannya, ia menyebutkan bahwa sang sutradara menginginkan foto tersebut sebagai referensi. Namun menurut TS, ia belum mendapatkan kontrak resmi untuk bermain dalam film tersebut.
Selain itu, ia juga ditawari untuk melakukan adegan vulgar, seperti di cium di area ketiak, leher, maupun pipi. Mengingat umurnya yang masih minor, TS dengan tegas menolak tawaran tersebut setelah berdiskusi dengan orang tuanya.
Selain TS, tercatat tiga talent lainnya yang menjadi korban. Dirangkum dari akun @intinyadeh, ada korban yang dimintai video masturbasi. Beberapa korban pun diantar pulang dan diajak menikah oleh sutradara tersebut.
Kasus ini masih menjadi trending topik dalam platform Twitter (atau X). Memperlihatkan betapa rentannya aktris di bawah umur yang ditekan oleh orang-orang yang memiliki kuasa di ranah perfilman, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.