Stephen Chow kembali dalam Kung Fu Soccer, spin off dari Shaolin Soccer yang kini mengisahkan tentang perjuangan tim sepak bola wanita yang diremehkan. Punya premis yang berbeda, namun ia masih menggabungkan cerita si kuda hitam dengan komedi absurd yang jadi ciri khas si Raja Komedi.
Sinopsis Kung Fu Soccer
Shuangshuang (Zhang Xiaofei) dan Yu Long (Dilraba Dilmurat) adalah teman masa kecil yang tergabung dalam klub sepak bola wanita Emei. Dengan umur rata-rata pemain 35 tahun, mereka debut pertama kali di liga sepakbola Asian Women’s Champions League.
Kesulitan dalam hal pendanaan, fasilitas pelatihan yang buruk, dan pandangan masyarakat yang meremehkan sepak bola wanita, mereka berjuang membagi waktu antara latihan dan pekerjaan paruh waktu. Shuangshuang menjadi kapten sekaligus pelatih secara de facto. Hingga Xu Feng (Lay Zhang), mentor dan senior Shuangshuang datang untuk membantu mereka.
Mereka menjalani pelatihan yang jauh dari kata konvensional, memadukan teknik-teknik yang terinspirasi dari Wing Chun dan Tai Chi. Hingga pada mereka berhadapan dengan tim sepak bola wanita dari berbagai negara dengan segala keunikan dan kekuatannya.
Kembalinya si Raja Komedi
Film ini disebut sebagai sekuel sprititual dari Shaolin Soccer (2001) yang melambungkan nama Stephen Chow ke skena global. Ceritanya yang sederhana serta gabungan kung fu dan sepak bola jadi salah satu film bertemakan sepak bola yang masih diingat hingga saat ini. Namun ceritanya kini fokus pada cerita sepak bola wanita, hampir mirip seperti Ted Lasso yang berubah haluan di musim keempat.
Film ini beroperasi dengan premis yang hampir sama dengan pendahulunya. Jika sebelumnya Chow menceritakan tentang para pengguna kung fu Shaolin mencoba berjuang untuk keluar dari kemiskinan, film ini fokus pada dinamika tim yang sudah terbentuk dan berjuang dalam sebuah kompetisi besar. Dipertebal dengan flashback untuk memudahkan penonton kenal lebih dalam dengan karakternya.
Komedi slapstik memang dibuat khas Stephen Chow. Dibikin segila mungkin dan benar-benar di luar akal sehat. Keseluruhan sekuens komedinya terjadi begitu saja, tanpa perlu dipikir keras. Selayaknya film-film Chow lainnya, nikmati saja mau dibawa kemana arah ceritanya.
Deretan cast yang muncul juga total memerankan peran dan komedi yang dibawakan. Kecantikan Dilraba tak mudah luncur meski dengan adegan-adegan komedi yang diperankannya. Terutama Lay Zhang cukup menarik perhatian dengan salah satu adegan yang bikin ngakak.
Memang ceritanya tak jauh berbeda dengan format film komedi standar. Plotnya juga sederhana dan mudah terbaca. Tapi orang-orang yang ingin menonton film ini tentu tidak mencari cerita yang kompleks seperti filmnya Spielberg maupun Nolan, kan?
CGI bisa dibilang salah satu kekurangan film ini. Selain ceritanya yang ringan, komedinya juga sama seperti template Chow pada umumnya. Mungkin ada yang bilang kalau humornya sudah ketinggalan zaman. Tapi bagi penggemar setia, menyenangkan untuk bernostalgia pada salah satu figur penting di skena komedi Hong Kong ini.
Perjuangan perempuan di atas 30 tahun
Sejak terakhir kali bermain di film CJ7 (2008), Stephen Chow praktis menghilang dari kamera. Ia aktif di balik layar sebagai sutradara dan produser. Kredit sutradaranya terakhir kali di The New King of Comedy (2019). 7 tahun menjauh dari kamera, comeback penyutradaraannya terjadi di Kung Fu Soccer.
Yang membuat Shaolin Soccer banyak diingat adalah karena ia menggunakan formula ‘from zero to hero’. Penonton tertarik melihat perjuangan Sing (Chow) dan Fung (Ng Man Tat) dari diremehkan menjadi pemenang. Namun sayangnya kedekatan ikatan dengan karakter tak begitu mudah dicerna di film ini.
Soalnya Chow memperkenalkan tim bola Emei dan karakternya ketika mereka sudah terbentuk. Baru setelah itu, ia mengungkapkan latar belakang dan kedalaman karakter mereka. Ini memang pas untuk spin off, setidaknya mengurangi penggunaan formula yang sama yang digunakan pada film sebelumnya.
Tapi di satu sisi, ia berhasil menghadirkan tema solidaritas antar perempuan yang fresh. Chow membawa kontra narasi dari anggapan umum yang menyebutkan bahwa wanita tak cocok bermain bola atau wanita yang berusia di atas 30 tahun tak berarti apa-apa.
Dan meskipun bukan sekuel langsung dari Shaolin Soccer, tapi beberapa referensi adegan masih tetap jelas terlihat. Yang paling menyenangkan tentunya cameo yang muncul di bagian post credit. Tak banyak, tapi lumayan membangkitkan nostalgia bagi yang suka dengan film pertamanya.
Stephen Chow bersama Kung Fu Soccer membuktikan bahwa sang raja masih memiliki kemampuan untuk menghibur penonton. Meski bukan karya terbaiknya, tapi film ini tetap menyenangkan dan membawa kembali nostalgia dari kekuatan terbesar Chow yang berasa dari komedi slapstik yang absurd dan di luar dugaan.