Live Action Avatar: The Last Airbender Season 2 terasa lebih berat dan kompleks untuk penonton anak-anak. Adaptasinya kesusahan menyeimbangkan sumber aslinya yang kocak dan ceria. Terpaksa mengubahnya menjadi lebih gelap dan dialog heavy demi kepentingan penceritaan.
Sinopsis serial Avatar: The Last Airbender Season 2
Melanjutkan petualangan sebelumnya, Aang (Connor Cormier), Katara (Kiawentiio) and Sokka (Ian Ousley) melarikan diri dari serbuan prajurit Negara Api. Aang berusaha membebaskan Bumi untuk memintanya mengajarinya pengendalian tanah, tapi Bumi menolak.
Mereka akhirnya bertemu dengan Toph, pengendali tanah yang dikekang oleh orang tuanya. Awalnya menolak, Toph akhirnya bergabung karena ingin keluar dari rumahnya. Ia setuju untuk mengajari Aang pengendalian tanah dan ikut dengan kelompok Aang.
Aang bersama yang lain membawa pengungsi ke Ba Sing Se untuk meminta pertolongan. Namun mereka terkejut ketika orang-orang di Ba Sing Se tak sadar ada perang yang merajalela. Kelompok Aang pun berusaha memberitahu Raja atas serangan pasukan Negara Api yang akan menyerang.
Sementara Zuko dan Iroh bersembunyi setelah diasingkan. Ia seringkali menggunakan alter ego-nya “Roh Biru” untuk membantu orang-orang yang tertindas. Hingga pada akhirnya dia bertemu dengan Katara di penjara bawah tanah yang sama dengannya.
Dialog heavy
Musim kedua kembali dikembangkan oleh Albert Kim dengan naskah dari Christine Boylan. Ceritanya mengalihwahanakan perjalanan Aang di musim kedua animasinya, tentu dengan beberapa penyesuaian ke dalam live action.
Yang paling kentara adalah ceritanya yang terasa lebih membumi. Ada tone yang lebih dewasa ketimbang musim sebelumnya. Mungkin menyesuaikan dengan beberapa karakter yang terlihat lebih dewasa, misalnya Gordon Cormier yang tumbuh tinggi paska lima tahun proses syuting di season pertama.

Tak mudah memang mengadaptasi 20 episode dari animasi menjadi 7 episode live action. Sehingga serial ini dipenuhi dengan dialog-dialog yang panjang untuk menceritakan keseluruhan narasinya. Memberikan kesan serial yang lebih berat dan kompleks daripada animasi.
Di satu sisi, cerita dan plotnya terasa lebih solid. Namun ini menghilangkan beberapa momen penting dari sumber aslinya. Termasuk aksi dan komedinya yang seperti dipangkas banyak. Berimbas pada cerita yang terasa lebih berat.
Yang menarik dari serial ini adalah world building yang lebih besar. Ada banyak latar praktikal yang memberikan kesan nyata pada serial ini. Sayangnya ini berdampak pada budget CGI yang sepertinya jauh berkurang. Tampak dari kemunculan Appa dan Momo yang semakin jarang.
Arc Zuko yang menarik
Setiap karakter mendapatkan perubahan yang cukup signifikan dalam menghadapi masalah dan perbedaan di antara mereka. Terlihat dari konflik di akhir-akhir episode yang membuat ceritanya semakin kompleks.

Perubahan karakter Aang terkadang membuatnya lebih dewasa dari umurnya. Namun ada pula pilihan-pilihan yang menyatakan bahwa ia masih childish. Sementara debut live action Toph masih tetap mengesalkan, in a good way, dengan kata-kata sarkasnya yang menusuk ke hati.
Zuko jadi karakter dengan roller coaster emosi yang menarik. Mulai dari perdebatannya dengan Paman Iroh, pandangan yang baru tentang cara masyarakat biasa melihat Negara Api, dan pilihan kontroversial yang dilakukannya di episode terakhir. Setidaknya ini sama dengan animasinya, jadi tak terlalu spoiler, ya guys.
Namun salah satu adegan yang membuat karakter Zuko berubah adalah ketika ia mengambil makanan/minuman pasangan suami istri yang istrinya sedang mengandung. Berbeda dengan versi animasi dimana ia lebih memilih untuk menahan lapar daripada mengambil makanan mereka. Menjadikan versi live action lebih berandalan.

Keseluruhan arc, termasuk pemilihan cerita dan motif dari karakter live action sayangnya tak mampu dengan cermat menyalin apa yang membuat cerita The Last Airbender versi animasi menarik untuk anak-anak maupun penonton dewasa. Momen-momen penting yang tak diadaptasi menghilangkan aura ‘bermain’ yang jadi daya tariknya.
Live action Avatar: The Last Airbender season 2 terlihat kesusahan menghadirkan cerita yang pas dari sumber aslinya. Ada beberapa pilihan yang membuatnya lebih gelap dan kompleks ketimbang versi animasi. Sehingga menjadikan live action ini cukup berat untuk ditonton anak-anak, termasuk beberapa bagian yang penuh dengan dialog.




