Belasan Tahun Ngefans Hatsune Miku, Kok Fandom Sekarang Mendadak ‘Anti-AI’?

Coba deh kita jujur-jujuran sebentar. Buat kamu yang udah ngikutin skena pop culture Jepang dari zaman baheula (era jaya-jayanya warnet dan Nico Nico Douga), Hatsune Miku itu sosok legendaris. Kita rela nonton musiknya di YouTube sampai buffering, nabung buat beli merch-nya, sampai hafal mati lirik Senbonzakura atau Melt.

Tapi belakangan ini, di tengah ramainya perdebatan soal Artificial Intelligence (AI), ada satu ironi yang lumayan bikin senyum kecut.

Fandom Hatsune Miku mendadak anti AI

Kita ini udah belasan tahun memuja, menangis terharu, dan hype bareng sebuah suara mesin komputer. Kita nggak masalah sama sekali kalau vokal Miku dan Vocaloid lainnya itu 100% palsu dan diracik lewat deretan software algoritma. Tapi anehnya, giliran sekarang muncul AI generatif yang bisa bikin ilustrasi visual dengan cara komputasi yang mirip, fandom tiba-tiba ngamuk dan mendadak “alergi mesin.”

Pertanyaannya,

Kok bisa kita punya standar ganda se-ekstrem ini? Apa bedanya software sintesis suara tahun 2007 dengan software sintesis gambar di tahun 2026”?

Untuk itu, kita harus mengulas era keemasan Vocaloid.

Mengenang “Jiwa” Era Keemasan Vocaloid

Sebelum kita bahas paradoksnya, mari kita hargai dulu kenapa fandom bisa sedefensif ini. Di awal dekade 2010-an, ngerilis lagu Vocaloid itu adalah proses berdarah-darah. Seorang produser (VocaP) rela begadang berhari-hari cuma buat nge-tune suara robotik Miku biar kedengeran bernapas layaknya manusia.

Di sisi lain, ada ilustrator doujin (indie) yang menggambar visual dari nol, dan animator yang merangkainya jadi PV (Promotional Video). Ada keringat dan kolaborasi manusia yang sangat kental di balik suara mesin tersebut. “Usaha keras” inilah yang selama ini dianggap sebagai soul atau nyawa dari komunitas dōjinshi.

Lantas kenapa fandom sekarang tiba-tiba banyak yang mempermasalahkan penggunaan AI di Vocaloid?

Fast forward ke hari ini, semua dikarenakan teknologi udah lari sprint. Engine vokal kekinian macam Synthesizer V atau Vocaloid 6 udah disuntik AI yang bikin suara tarikan napas dan pitch bend sehalus penyanyi asli, tanpa perlu tuning manual yang bikin tipes, dan justru ini disambut secara positif, beda dengan kehadiran AI generatif yang bisa menciptakan gambar.

vocaloid dan hatsune miku pakai ai dari dulu

Ironi yang Sulit Dibantah

Argumen protes tersebut memang valid secara etika hak cipta. Tapi kita kembali ke pertanyaan awal: bukankah ironis ngeliat komunitas yang lahir dari kecintaan pada software sintesis suara, kini salty setengah mati sama software sintesis gambar?

Kalau penggunaan suara Miku bisa dimaklumi dari dulu sebagai “alat bantu” buat musisi yang nggak bisa nyanyi, kenapa AI visual dihujat habis-habisan pas ngebantu kreator yang nggak bisa ngegambar?

Pada akhirnya, Hatsune Miku dan AI generatif itu sama-sama kanvas kosong. Alat untuk berekspresi. Menyalahkan AI sepenuhnya tuh jatuhnya kayak musisi klasik era kolonial yang dulu ngatain synthesizer karena dianggap merusak instrumen musik asli.

Mungkin kreator yang merasa terancam karena kehadiran AI generatif yang dapat menghasilkan gambar/ilustrasi?

Sebelum salty lagi, throwback dulu ke tahun 2014, yang mana terdapat kolaborasi antara Bump of Chicken dan Hatsune Miku, yang memadukan band asli dan Hatsune Miku.

Pada akhirnya memang manusia harus hidup berdampingan dengan teknologi saat ini (AI), layaknya seperti yang dillakukan oleh Bump of Chicken pada tahun 2014.

Yups, pada industri ini memang butuh boundaries dan etika yang jelas soal penggunaan AI. Tapi yang jelas, mau sekeras apa pun perdebatan soal manusia vs AI, yang penting kabar baiknya adalah Miku bakal tetap bernyanyi di layar kita. Artinya mau tidak mau, fandom Hatsune Miku harus siap dengan penggunaan AI.

Avatar photo
Zeinel Arfin Sadiq
Articles: 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *