Netflix bekerja sama dengan Teddy Soeria Atmadja mempersembahkan Luka, Makan, Cinta. Serial yang dikenal juga dengan judul Made with Love ini mengedepankan estetika berlatarkan makanan dan budaya Indonesia dengan fokus cerita di Pulau Bali.
Sinopsis serial Luka, Makan, Cinta
Luka (Mawar de Jongh) merupakan sous chef sekaligus anak dari chef Sari (Ine Febriyanti), pemilik restoran Umah Rasa di Bali. Ia bertahan meski di tengah kepemimpinan ibunya yang tegas dan terkadang otoriter. Berharap ia bisa mengambil alih restoran dan menjadi head chef ketika ibunya pensiun.
Namun di saat kesehatannya bermasalah, Sari malah menunjuk chef Dennis (Dave Mahendra) sebagai head chef. Dennis yang pernah bekerja sama dengan Gordon Ramsay ini kembali ke Bali untuk mengatasi masalah pribadinya.
Luka yang terpukul mau tak mau harus mengikuti semua arahan Dennis yang kini memimpin dapur. Di tengah pergolakan di belakang layar, pelanggan yang semakin berkurang, Umah Rasa dihadapkan dengan pesaing yang melakukan segala cara untuk memikat pelanggan.
The Bear dengan estetika Bali
Ceritanya sederhana dengan premis yang menarik. Tentang sous chef, Luka, yang bekerja di restoran milik ibunya di Bali, Berharap jadi head chef, tapi ibunya malah ngerekrut chef Dennis. Terlihat bagaimana Luka begitu membenci Dennis dan kecewa kepada ibunya.
Lalu, setelahnya bisa ditebak. Luka dan Dennis perlahan-lahan mulai mengenal satu sama lain. Yap, karena ini film dengan genre romantis, maka keduanya semakin dekat hingga akhirnya romansa tercipta di antara mereka.

Predictable? Mungkin bagi sebagian penonton iya. Memang tak banyak serial maupun film orisinal Netflix yang punya cerita bagus. Bisa dibilang dari episode awal sampai pertengahan udah ketebak semua. Bahkan masalah klise antara Luka dan pacarnya.
Mungkin bagi kamu yang sering menonton film televisi atau FTV bisa relate dengan ceritanya. Pakem cerita standar antara dua orang yang sebelumnya bertolak belakang hingga akhirnya tumbuh rasa sayang. Ceritanya kayak nonton FTV, tapi series Netflix, gitu.
Tiga karakter utamanya, (Luka, Dennis, Sari), jauh dari kata likeable. Ada saja yang bikin karakter mereka menyebalkan. Mungkin karena Teddy ingin membuat setiap karakter dipenuhi dengan masalah mereka sendiri. At least, setidaknya ada terlihat character development di dua episode akhir.
Hanya fokus pada estetika
Teddy Soeriaatmadja memang jadi sutradara yang stylish. Terlihat dari film-filmnya terdahulu, seperti Badai Pasti Berlalu (2007), Lovely Man (2011), hingga The Architecture of Love (2024) yang dipenuhi dengan gambar yang enak dipandang.
Color grading-nya cerah dan penuh warna. Langsung terasa vibes Bali yang menenangkan meski Teddy tak terlalu banyak mengambil adegan-adegan di pantai maupun pemandangan khas Bali. Vibes ini terlihat dari keseluruhan latar dan adegannya.
Made with Love bisa dibilang sebagai serial ‘food porn’. Semua makanannya pun terlihat fancy. Seperti The Bear dengan kearifan lokal, tapi ga terlalu banyak marah-marah. Lebih condong ke konflik antar manusia dan pengembangan diri.

Namun serial ini terlihat hanya menjunjung tinggi estetika mengingat kurangnya penjelasan tentang makanan yang ditampilkan. Apakah makanan tersebut adalah fusion atau makanan tradisional, bahan-bahan, maupun penyajian dan rasanya. Film Aruna dan Lidahnya (2018) jadi contoh terbaik bagaimana menyisipkan makanan ke dalam topik cerita.
Ada 8 episode dengan masing-masing episode berdurasi 30 menitan. Terbilang sebentar, tapi terasa agak dragging. Mungkin karena pace-nya terlalu lambat. Begitu pula beberapa dialog yang masih terdengar cringe dan plot yang tak begitu solid.Untuk sebuah tontonan dengan gaya food porn, serial ini terasa hambar. Ada banyak aspek yang harusnya bisa diperbaiki buat membuat serial ini menyenangkan sembari memperkenalkan makanan dan budaya Indonesia, khususnya Bali dengan semestinya.




