Dua alumni The Raid (2012), Joe Taslim dan Yayan Ruhian kembali membintangi film aksi bersama. Film Hong Kong berjudul The Furious, Joe dan Yayan beradu akting dengan Mo Tse, Yang Enhyu dari China dan Jeeja Yanin dari Thailand. Film ini mengingatkan kembali dengan film aksi 80-an yang brutal, penuh adrenalin dan adegan aksi yang memukau.
Sinopsis The Furious
Disutradarai oleh Kenji Tanigaki dengan naskah ditulis oleh Mak Tin Shu, film ini mengisahkan tentang Wang Wei yang diperankan oleh Mo Tse, seorang ayah yang mencari keberadaan anaknya yang diculik oleh sindikat perdagangan anak.
Ia bekerja sama dengan Navin, seorang jurnalis yang diperankan oleh Joe Taslim. Keduanya melakukan investigasi untuk menyelamatkan anak Wei dan anak-anak lainnya yang disekap oleh sindikat tersebut.
Joe Taslim menangani sebagian besar narasi sekaligus menunjukkan kemampuannya dalam adegan aksi. Karakternya merupakan jurnalis awam yang bertekad untuk melacak istrinya yang hilang. Chemistry-nya dengan Wei membuatnya sebagai penyeimbang yang efektif bagi amarah Wei yang tak terucapkan.
Menariknya, karakter Wei digambarkan sebagai seorang pedagang yang bisu diakibatkan oleh cedera kepala yang parah beberapa tahun sebelumnya. Membintangi film ini tanpa suara, namun Wei dianugerahi dengan kekuatan fisik yang melebihi manusia pada umumnya.
Dengan modal produksi sekitar $20 juta, The Furious merupakan film berbahasa Inggris dengan proses syuting dilakukan di Thailand. Dengan sebagian aktor gabungan dari berbagai negara Asia, film ini menggunakan sebagian besar aktor Thailand dan tim stuntman dari Jepang.
Sutradara bekas stunt coordinator
Premier perdana di gelaran Toronto International Film Festival pada September 2025 lalu, film ini dipuji berkat koreografi aksinya yang brutal dan memukau. Film ini juga disebut sebagai film aksi terbaik dalam satu dekade terakhir.
Baik Taslim dan Tse menghabisi ratusan penjahat dalam serangkaian adegan bela diri yang brutal dan tanpa genti. Ada banyak momen mengesankan, namun yang menjadi sorotan tentu saja bagian klimaks antara pertempuran keduanya melawan kombo Yayan Ruhian dan Joey Iwanaga.
Sayangnya, dialognya yang kaku dan penyulihan suara yang terlihat jelas disebut-sebut sebagai kelemahan film ini. Begitu pula beberapa aspek teknis yang mengindikasikan anggaran film yang terbatas juga menjadi penghambat. Namun semuanya seakan terpinggirkan oleh adegan aksi yang memukai dari awal sampai akhir.
Sebagai sutradara, ini merupakan film ketiga Kenji setelah Legend of Seven Monks (2006) dan Enter the Fat Dragon (2020). Namun ia merupakan aktor di balik berbagai adegan-adegan mengagumkan dari deretan film-film legendaris China, Jepang, hingga Hollywood.
Kenji berperan sebagai stunt coordinator untuk film Blade II (2002) dan Snake Eyes: G.I Joe Origins (2021). Ia juga bertindak sebagai Action Director untuk film Kamui Gaiden (2009) dan trilogi Rorouni Kenshin. Bakatnya dianugerahi penghargaan Best Action Choreography dari Golden Horse Awards untuk film Hidden Man (2018).
Dalam trailer yang dirilis oleh Lionsgate beberapa waktu lalu, belum ada informasi resmi kapan film ini akan diputar di pasaran. Tapi The Furious kemungkinan besar akan menghampiri bioskop-bioskop Tanah Air dalam waktu dekat.