Melanjutkan musim pertamanya, One Piece Live Action Season 2 menampilkan berbagai momen-momen menarik yang diadaptasi dari manga karya Eichiro Oda. Delapan episode punya keunikan tersendiri, termasuk beberapa highlight yang mempertahankan versi live action ini sebagai salah satu adaptasi manga terbaik yang pernah diproduksi.
Episode 1: The Beginning and the End
Episode awal membuka musim kedua dengan menjanjikan melalui penggambaran Loguetown arc. Langsung dibuka dengan memperkenalkan Lera Abova sebagai Nico Robin, kala itu masih dikenal sebagai Miss All Sunday saat bergabung dengan organisasi Baroque Works. Smoker dan Tashigi dan diperankan Callum Kerr dan Julia Rehwald juga muncul pertama di episode ini.

Yang menjadi highlight di episode ini tentunya adegan ikonik Zoro dengan pedang sandai Kitetsu. Tapi berbeda dengan versi manga, penonton sudah diperkenalkan dengan Bartolomeo yang nantinya akan menjadi fans Luffy serta sekilas penampakan Sabo yang baru muncul pada flashback di Chapter 583.
Episode 2: Good Whale Hunting
Pasukan Straw Hat beralih ke Grand Line dengan memasuki Reverse Mountain arc. Di sana mereka bertemu dengan paus Laboon dan penjaga Pantai Crocus yang diperankan oleh Clive Russell. Meski ada beberapa perbedaan dari manga, namun episode ini terbilang cukup solid.

Yang paling berbeda yaitu kemunculan Brook (Martial T. Batchamen) ketika masih menjadi bagian dari kru bajak laut Rumbar. Tak lupa ada lagu Binks Sake yang juga dilantunkan ke dalam bahasa Inggris. Terkesan aneh, tapi masih berasa layaknya versi Jepang. Charithra Chandran sebagai Vivi juga diperkenalkan.
Episode 3: Whisky Business
Episode ketiga yang ditandai dengan Whisky arc mungkin bisa dibilang sebagai episode terlemah dari keseluruhan One Piece Live Action Season 2. Mungkin karena tak ada momen menarik yang memorable dari arc ini ketimbang episode lainnya.

Selain perkenalan Igaram dan Vivi sebagai putri dari Kerajaan Alabasta, Satu yang menarik perhatian tentu saja bagaimana versi live action mengadaptasi pertarungan antara Zoro melawan 100 orang Baroque Works. Meski koreografi pertarungannya terbilang keren, tapi berasa dragging dan pace-nya kelamaan.
Episode 4: Big Trouble in Little Garden
Salah satu arc yang ditunggu-tunggu karena kehadiran duo raksasa Brogy dan Dorry yang bakal menjadi karakter penting di Elbaf arc. Penggambaran keduanya yang diperankan oleh Brendan Murray dan Werner Coestser jadi ciri khas tersendiri. Episode ini menawan karena world building-nya bagaikan masuk ke dunia Jurassic Park dengan dinosaurusnya.

Kehadiran David Dastmalchian sebagai Mr. 3 terasa paling menyorot perhatian. Sebagai salah satu karakter yang memorable di manga dan anime-nya, akting dan karakteristiknya bisa dibilang on point. Pengalaman memang gak pernah bohong!
Episode 5: Wax On, Wax Off
Melanjutkan arc Little Garden, para kru Straw Hat akhinya berhadapan dengan anggota Baroque Works. Ussop bercerita tentang bagaimana ia menjadi Lord of Destruction dan mengangkat palu seberat 5 ton, cerita yang bakal jadi foreshadowing adegan yang memorable di Alabasta arc.

Highlight lainnya yaitu Sanji yang memperkenalkan diri sebagai Mr. Prince ketika berbicara dengan Mr. 0. Namun yang membuat episode ini tak begitu kuat mungkin karena penggambaran kue lilin Mr. 3 yang terasa biasa saja. Beda dengan versi manga/anime yang dibuat megah dan besar.
Episode 6: Nami Deerest
Keluar dari Little Garden, kru Straw Hat dihadapkan dengan Nami yang demam tinggi. Hingga mereka harus berbelok ke pulau terdekat untuk mencari dokter. Sebagai awal dari Drum Island arc, episode ini dibuka dengan flashback dari Vivi dan pertemuannya dengan Wapol yang diperankan Rob Colleti.

Butuh waktu lama, tapi kemunculan Tony Tony Chopper yang ditunggu-tunggu akhirnya terjadi di episode keenam. Diisi suara oleh Mikaela Hoover, desain dan karakteristiknya yang imut membuat tak kalah dengan versi anime/manga.
Episode 7: Reindeer Shames
Bisa dibilang sebagai episode terbaik dari keseluruhan season ini. Kelanjutan kisah Chopper di Drum Island arc disampaikan dengan emosional dan seperti memiliki jiwa tersendiri. Menjelaskan pertemuan antara Chopper dan Dr. Hiruluk serta latar masa lalunya yang diburu oleh penduduk pulau.

Jika versi kecil dan rusa Chopper terlihat lucu, tak begitu ketika ia berubah menjadi besar. Versi human form dari Chopper bikin tampilannya seperti karakter editan yang belum selesai. Apa mungkin untuk menghemat budget atau menyamakan dengan versi beast dari Dalton, setidaknya desain karakter Dalton terlihat lebih menarik.
Episode 8: Deer and Loathing in Drum Kingdom
Sebagai episode penutup, Wapol menjelma menjadi villain dengan karakter dan kekuatan yang lebih menawan ketimbang Arlong di musim pertama. Tapi pertarungan gabungan antara Sanji dan Chopper melawan Chess dan K.M. tak terlalu seru dan lebih monoton. Mungkin karena dibuat terlalu realitis.

Ini pula yang terjadi pada pertarungan terakhir antara geng Luffy dan Wapol. Ada banyak plot hole dan adegan-adegan yang malah bikin banyak pertanyaan. Setidaknya musim kedua ditutup dengan mengharukan, termasuk bergabungnya Chopper ke dalam kru Straw Hat.
Secara keseluruhan, One Piece Live Action Season 2 punya caranya tersendiri dalam membawakan kisah Luffy dalam platform yang berbeda. Masih ada bagian-bagian yang mungkin terasa cringe, tapi versi adaptasi bisa menyampaikan keseluruhan cerita dengan apik. At least selayaknya adaptasi manga yang proper.
Dengan Netflix sudah memulai produksi dan proses syuting untuk musim ketiga, tak sabar menunggu arc Alabasta yang tentunya bakal menonjolkan Joe Manganiello sebagai Crocodile dan memperkenalkan Xolo Maridueña sebagai Ace.




