Chloe Zhao menghadirkan film Hamnet sebagai cerita tentang penderitaan dan kehilangan yang disampaikan oleh Shakespeare ketika ditinggal anaknya. Menjadikan cerita seseorang yang berada di titik terendah hingga menjadi karya yang dikenal ratusan tahun lamanya.
Sinopsis film Hamnet
Agnes Hathaway (Jessie Buckley) disindir sebagai ‘anak hutan’ karena sering menyendiri di sebuah gua. Ketika berada di hutan, Agnes meramal William Shakespeare (Paul Mescal) akan menjadi seseorang yang sukses. Keduanya menikah dan memilih untuk tinggal di rumah mereka sendiri.
Melihat Shakespeare frustasi dengan drama yang ditulisnya, Agnes menyarankannya supaya saudaranya, Bartholomew (Jow Alwyn) mengirim Shakespeare untuk mengejar cita-citanya bekerja di bidang teater. Sementara ia tinggal sendiri bersama anak-anak mereka.
11 tahun kemudian, Shakespeare yang telah sukses sesekali pulang ke rumah. Pernikahannya dengan Agnes berada di ujung tandung ketika sang anak, Hamnet, meninggal. Ia bersikeras berangkat ke London untuk menyelesaikan pementasan Hamlet yang merupakan karya terbarunya.
Kisah fiktif nan sinematik
Chloe Zhao kembali dengan film menyentuh tentang duka dan cara berbeda yang dilakukan oleh masing-masing orang tua yang kehilangan anaknya. Kali ini mengungkapkan bagaimana Shakespeare dan istrinya, Anne Hathaway ketika ditinggal oleh anak laki-laki mereka, Hamnet.
Film ini diadaptasi dari novel fiksi karya Maggie O’Farrell yang dirilis tahun 2020. Jadi, film ini bukanlah cerita asli atau true story. Namun beberapa bagian dalam film, seperti anaknya Shakespeare yang meninggal ketika masih muda serta berbagai kisah tentang keluarga mereka merupakan kisah nyata.
Terlepas dari keaslian ceritanya, baik Maggie dan Chloe mampu menyampaikan pesan yang menusuk ke hati setiap penonton, terlebih bagi mereka yang pernah merasakan kehilangan orang tersayang. Film ini membuka kembali luka, sekaligus menjadi obatnya.
Chloe sudah tak asing lagi dengan film dengan tempo pelan yang menyayat hati. Baik dari The Rider (2017) sampai Nomadland (2020) yang melambungkan namanya, ia berhasil mengubah kisah superhero dalam Eternals (2021) berbeda ketimbang iterasi Marvel Cinematic Universe lainnya.
Musiknya syahdu. Belum lagi sinematografi dari Łukasz Żal yang memanjakan mata memang jadi ciri khas Chloe di setiap film garapannya. Semakin memesona berkat kostum berlatar Inggris era Elizabeth, termasuk megahnya Royal Shakespeare Theatre yang jadi poin penting film ini.
Buckley dan Paul Mescal punya chemistry yang menawan. Tapi khusus untuk Buckley, kekuatannya memerankan seorang ibu dan istri yang harus berjuang sendiri untuk membesarkan anaknya sembari menyemangati karir sang suami pantas membuatnya dinominasikan untuk Oscar 2026 sebagai Best Actress.
Menerjemahkan kehilangan ke dalam karya
Hamnet merupakan reimagination atau membayangkan ulang peristiwa ketika Shakespeare kehilangan anaknya. Novel karya Maggie menggabungkan kehidupan asli Shakespeare dengan kisah fiksi untuk menegaskan bagaimana kehilangan bisa menjadi pemicu dan perubahan sikap seseorang.
Terlepas dari estetika film yang menawan, namun Mescal dan Buckley memberikan karakter ‘normal’ sebagai pasangan. Keduanya menggambarkan Shakespeare dan Agnes yang menyayangi anak-anaknya, bermain, dan terpukul ketika sang anak meninggal dunia.
Keduanya menggambarkan rasa sedih tak berujung. Chloe mendramatisasi sekaligus menuntun penonton merasakan betapa rapuhnya orang-orang yang kehilangan semangat dan kehancuran karena kehilangan si buah hati.
Di sini kehilangan Hamnet mengarah pada karya Hamlet. Di mana Shakespeare menulis naskah terbesarnya sebagai cara untuk mengatasi kesedihannya atas kematian putranya. Termasuk monolog terkenal “to be, or not to be” yang dimainkan Pascal di pinggir Sungai.
Chloe menggunakan pementasan Hamlet pada bagian klimaks sebagai salah satu penggambaran bagaimana seni bisa menjadi alat menenangkan kesedihan. Memindahkan kesedihan, penderitaan, dan ketidakberdayaannya di dunia nyata ke dalam naskahnya.
Kehilangan memang masalah universal. Namun suatu waktu, penderitaan bisa melahirkan karya besar yang tak lekang dalam waktu. Kehilangan Film Hamnet karya Chloe menangkap kesedihan diterjemahkan ke dalam karya seni dalam sebuah film sinematik yang menggugah perasaan.