Film Palestine 36 mengupas konflik antara Palestina dan Israel dari sisi yang berbeda; jauh sebelum kedatangan bangsa Yahudi di tanah Palestina. Ceritanya dibuat kompleks, emosional, dan bernafaskan perjuangan bangsa pribumi mempertahankan hak-haknya.
Sinopsis film Palestine 36
Yusuf (Karim Daoud Anaya) adalah petani desa yang bekerja sebagai sopir di kediaman Khaloud (Yasmine Al Massri), seorang jurnalis dan suaminya, Amir (Dhafer L’Abidine), seorang bangsawan yang turut mendukung agenda Zionis.

Lahan pertanian Yusuf dan ayahnya diambil paksa untuk mendirikan lahan bagi orang-orang Yahudi yang datang dari Eropa. Mereka didatangi oleh Komisaris Tinggi Wauchope (Jeremy Irons) yang berniat untuk membantu mereka membuat sertifikat tanah guna menghindari pencaplokan tanah oleh pemukim Yahudi.
Di desanya, tinggal pula Rabab (Kamel El Basha) dan anaknya, Afra (Wardi Eilabouni). Ketika bertani, Rabab bertemu sekaligus mengobati Khalid (Saleh Bakri), ketua pasukan pemberontak yang terluka ketika menyerang tentang Inggris dalam perang gerilya.
Representasi sejarah Palestina
Menonton Palestine 36 layaknya tenggelam dalam perpustakaan besar, mengupas dokumentasi yang terbentang hampir 90 tahun. Annemarie Jacir sebagai sutradara dan penulis naskah mengusik penonton untuk mencari tahu sejarah pilu dari bangsa terkuat di bumi ini.
Dari segi cerita, plotnya terbagi menjadi beberapa fragmen yang disusun pecahan demi pecahan. Memperlihatkan perkembangan konflik, sejak awal kedatangan bangsa Yahudi yang mulai mengambil alih lahan hingga pekerjaan penduduk asli, sampai represi dari tentara Inggris yang masih terasa hingga saat ini.
Ketika bangsa Arab yang menggantungkan hidup dari pertanian, lama kelamaan lahan mereka diambil oleh pendatang Yahudi yang dibawa oleh pemerintah kolonial Inggris. Padahal penduduk setempat dengan tangan terbuka menerima pengungsi, yang mengerti bahwa mereka tak diterima di tempat asalnya.

Estetika gambar dan sinematografinya terasa menawan berkat gabungan latar fiksi dengan video sejarah; kota pelabuhan dengan pasar yang ramai, tapi semakin kelam berkat represi dan penindasan dari tentara Inggris yang membatasi kegiatan penduduk. Dengan lugas memperlihatkan kehidupan masyarakat Palestina pada era 30an.
Karakter-karakter yang hadir di film ini menggambarkan berbagai sudut pandang dalam konflik panjang ini. Dari masyarakat pribumi berjuang ketika pekerjaan dan tanahnya diambil, tentara koloni Inggris yang berusaha untuk meredam pemberontakan, serta bangsawan yang membelot demi harta dan kekuasaan.
Jacir menghadirkan deretan nama-nama besar seperti Hiam Abbass, Kamel El Basha, hingga Yasmine Al Massri. Tapi yang menarik perhatian adalah Karim Daoud Anaya, aktor muda yang menjalani debut perdananya di film ini. Hadir dengan emosi yang mentah dan polos, tapi tetap terasa membara.
Sisi lain perlawanan
Premier di Toronto International Film Festival 2025, film ini mendapatkan standing ovation selama 20 menit. Diikuti dengan kemenangannya sebagai Best Film di Tokyo International Film Festival 2025. Palestine 36 terpilih dalam entry Best International Film mewakili Palestina untuk Oscar 2026.
Cerita dan pesannya terasa penting. 120 menit tak seperti menggurui atau memilih untuk mendukung satu sisi saja. Tapi ia hadir sebagai representasi sejarah untuk menjelaskan bahwa konflik yang kompleks ini terjadi karena keegoisan dan haus kekuasaan manusia.
Jacir memperlihatkan sekelumit kisah Palestina, dimulai dari peluncuran Palestine Broadcasting Service. Selanjutnya berurutan ada pemberontakan yang dipimpin petani, hingga pembagian Mandat Palestina yang membuka jalan berdirinya negara Israel pada tahun 1948.
Bukan hanya bentuk perlawanan terhadap penindasan yang terjadi di Palestina, tapi sebagai pengingat. Bahwa konflik ini terjadi jauh sebelum 7 Oktober, atau Nakba tahun 1948. Bahkan beberapa adegan mengingatkan pada pasukan gerilya tentara Indonesia yang bersembunyi, mengendap-endap dalam menghadapi penjajah, dibantu oleh masyarakat sipil.
Film Palestina 36 adalah medium lain bagi orang-orang yang ingin belajar tentang sejarah kelam Tanah Haram. Mengetahui sejarah adalah bentuk lain dalam perlawanan untuk mengalahkan ketidaktahuan dan mengerti apa yang sebenarnya diperjuangkan.
Victory to the revolt!




