28 Years Later: The Bone Temple melanjutkan kisah Spike menghadapi revolusi manusia setelah 28 tahun terjebak dalam rage virus yang menyebar di daratan Inggris. Gaya horor yang disuguhkan berbeda ketimbang film sebelumnya. Tak melulu bergantung pada jumpscare, tapi punya cara unik tersendiri melanjutkan waralaba milik Danny Boyle ini.
Sinopsis The Bone Temple
Setelah ditolong ketika melawan zombie, Spike (Alfie Williams) diajak bergabung ke dalam kelompok anarkis yang dipimpin oleh seseorang bernama Jimmy (Jack O’Connel). Ketika masuk ke dalam kelompok tersebut, Spike akhirnya juga dipanggil dengan nama Jimmy.

Di sisi lain, Dr Ian Kelson (Ralph Finneas) mengetahui bahwa zombie Alpha yang disebutnya Samson menjadi tenang ketika menerima obat bius. Ia pun mengajak zombie tersebut berbicara dan menari, berharap zombie itu bisa berbicara demi menemukan hal baru untuk mengetahui cara mengobati para zombie.
Para Jimmy mengetahui para penyintas yang tinggal di sebuah rumah dan menyiksa mereka. Ini membuat Spike ketakutan atas perbuatan mereka. Hingga pada akhirnya, Salah satu anggota Jimmy pun menemukan bahwa Dr. Ian berhubungan dengan zombie Alpha.
Sekuel dari trilogi
28 Years Later yang rencananya akan diabadikan menjadi sebuah trilogi akhirnya merilis film kedua bertajuk The Bone Temple. Danny Boyle yang menciptakan seri ini menyerahkan sekuel pada Nia DaCosta yang sebelumnya menjadi sutradara The Marvels (2023) dan The Candyman (2021)
Horornya tak lagi bergantung pada jumpscare ala zombie. Berbeda ketimbang horror lainnya yang menyeramkan di semua bagian, DaCosta memastikan bagian klimaksnya punya alur yang liar dan membawa ceritanya ke arah berbeda. Gila, menegangkan, dan ditutup dengan twist di luar dugaan.
Tak perlu ragu dengan cara DaCosta menghadirkan gore dan adegan berdarah-darah. Memang tak semenyeramkan edisi pertama yang lahir tahun 2002. Hanya saja ceritanya berkembang, dari horor zombie di menit-menit perdana hingga nantinya perselisihan antar manusia yang mengejutkan.

Porsi Spike berkurang banyak ketimbang film sebelumnya. DaCosta memberikan panggung bagi Jimmy-nya O’Connel untuk menghantui para penonton. Berhadapan langsung dengan Dr. Ian dalam ending yang membabi buta.
Jack O’Connel memang bisa-bisanya jadi villain yang menyebalkan. Setelah jadi antagonis Irish di film Sinners (2025), perannya sebagai ketua geng Jimmy berasa dinamis. Menegangkan sekaligus mengeluarkan aura menakutkan yang berbeda ketimbang para zombie.
Sinematografi dan penggunaan musik yang unik turut memberikan nuansa baru. Pergerakan kamera dan pengaplikasian adegannya menawan. Didukung dengan pilihan musik, apalagi hentakan Iron Maiden “The Number of the Beast” menambah kesan fresh untuk keseluruhan film ini.
Bawa cerita ke arah berbeda
The Bone Temple hadir sebagai jembatan bagi penggemar zombie ala Boyle. Waralaba yang sudah berjalan lebih dari 24 tahun ini mendapatkan kemajuan cerita yang signifikan. Meski belum jelas kapan Boyle akan merilis film ketiganya.
Tak lagi menggunakan tema zombie survival, tapi DaCosta melalui naskah Alex Garland membawa film ini ke arah baru. Digambarkan bagaimana zombie bisa tenang, tak lagi grasak-grusuk membabi-buta. Manusia bisa menjadi monster yang lebih beringas ketika dibutakan oleh ego dan keserakahan.
Ini memang pantas disebut sebagai elevated horror. Pastinya karena ceritanya bukan hanya tentang zombie outbreak, tapi merepresentasikan komunitas manusia di zaman paska apokalips; tanpa peraturan dimana bunuh membunuh menjadi hal yang biasa.
For better or worse, film ketiga nantinya bakal punya beban berat melanjutkan apa yang diberikan oleh dua film pertama, 28 Years Later dan The Bone Temple. Termasuk kehadiran cameo lama yang ditunggu-tunggu, mempertemukan dua generasi yang akhirnya siap bergabung dalam film selanjutnya.
Film 28 Years Later: The Bone Temple jelas sudah melenceng dari horor zombie paska apokalips di film pertamanya, in a good way. Tapi ceritanya yang baru dengan arah yang tak disangka membuktikan taji Alex Garland masih ada. Menarik, tapi memang bukan makanan buat kamu yang menginginkan zombie breakout ala 2000-an.




