Film The Toxic Avenger membawakan kembali apa yang membuat film aslinya disukai: adegan gore nan berdarah-darah, cerita sederhana tapi tak membosankan, komedi nan garing, serta kualitas layaknya b-movie jadul yang membuatnya punya ciri khas tersendiri.
Sinopsis film The Toxic Avenger
Di kota kecil St. Roma, Winston Gooze (Peter Dinklage) merupakan seorang petugas kebersihan di perusahaan farmasi korup BTH yang dipimpin oleh Bob Garbinger (Kevin Bacon). Ditinggal mati istrinya, ia hidup bersama anak tirinya, Wade (Jacob Tremblay).

Ketika ia menemukan bahwa ia menderita kanker otak, dia membutuhkan pengobatan. Dalam sebuah acara penggalangan dana, ia menerobos masuk dan meminta kepada Bob untuk membantunya. Namun ia ditipu dan akhirnya diusir paksa.
Kesal dengan perlakuan tersebut, ia membobol masuk ke pabrik BTH dan membuat senjata dari lumpur beracun. Ia ditangkap oleh penjaga suruhan Bob dan melemparnya ke limbah pembuangan yang beracun. Limbah tersebut masuk ke darah dan mengubahnya menjadi seorang mutan dengan perawakan yang berantakan.
Bawakan estetika 80-an
Jangan tertipu dengan judulnya. Film ini tidak ada hubungannya dengan franchise Avengers milik Marvel. Walaupun sama-sama punya karakter mutan dan ada penjahat yang harus dikalahkan, The Toxic Avenger merupakan edisi lainnya dari film berjudul sama yang dirilis 41 tahun lalu.
Dengan naskah dan disutradarai langsung oleh Macon Blair, film ini menghadirkan nuansa B-movie tahun 80-an. Estetika yang tersampaikan adalah sebuah film yang unik dan aneh, bahkan tampak seperti karya anak-anak sekolah film dengan efek dan kostum seadanya.

Namun di sisi lain, Macon berhasil menghadirkan apa yang membuat film pertamanya disukai oleh penggemarnya. Tak terlalu memaksakan diri untuk lucu atau memiliki cerita yang runut, versi baru dari Macon membawakan komedi yang lebay, gore berdarah-darah dengan adegan yang tak boleh ditonton anak-anak, tapi diubah sedemikian rupa supaya menjadi lebih segar.
Premis awalnya masih sama; protagonis yang berubah menjadi mutan karena limbah beracun. Tapi Macon membawa berbagai konflik dan karakteristik yang lebih kompleks. Misalnya Winston yang harus menghadapi penyakit serta permasalahannya dengan sang anak, isu lingkungan, serta farmasi yang hanya mengedepankan keuntungan.
Punya Kevin Bacon ditambah Elijah Wood sebagai Fritz Garbinger dengan prostetik menampilkan komedi nan garing atau dry humor pun jadi highlight tersendiri. Tapi memang tak semua komedinya kena, sebagian memang benar-benar garing dan meleset.

Dan begitu pula hasil akhirnya. Film ini bukan selera semua orang. Terlebih untuk penonton awam yang baru atau tak tahu sedikitpun tentang apa itu Toxic Avenger. Sasaran Macon mungkin adalah penggemar aslinya atau mereka yang suka film yang tak biasa.
Dibikin lebih fresh dan kompleks
Toxic Avengers sendiri merupakan film dengan status kultus atau cult movie karena banyaknya fans yang menyukai keunikannya. Walaupun ketika pertama kali dirilis, film ini tak terlalu sukses di pasaran karena dianggap sebagai versi sampah dari kisah superhero yang aneh dan konyol.
Memang agak susah untuk menghasilkan remake film yang memang unik sejak versi orisinilnya. Namun versi baru dari Blair berhasil memproduksi ulang apa yang membuat film ini menarik, tapi dipermak sedikit supaya membuatnya tidak terlalu membosankan.
Film ini juga punya banyak adegan gore yang berdarah-darah. Jadi jangan heran jika film ini dipublikasikan dengan judul tambahan “Unrated” berkat banyaknya adegan eksplisit yang ada. Menarik untuk dilihat berapa banyak adegan yang disensor ketika ditayangkan di Indonesia.
Yah, bisa dibilang film ini merupakan tontonan niche yang tak berusaha untuk menjadi selera pasar. Tapi jika kamu ingin mencari film yang berbeda dari kebanyakan film di bioskop saat ini, atau ingin mencari sesuatu dengan estetika b-movie era 80-an, film The Toxic Avenger sangat kami rekomendasikan.



