Black Phone 2 membawa kembali teror The Grabber dalam nuansa era 80-an yang gloomy dan mencekam. Kali ini film ini dipertajam dengan cerita yang lebih menohok dalam tema generational trauma dan kekerasan terhadap anak-anak yang membuatnya semakin memesona.
Sinopsis film Black Phone 2
Empat tahun setelah kejadian mengerikan yang ia alami, Finney (Mason Thames) masih terjebak dalam trauma ketika ia disekap dan akhirnya melarikan diri dari The Grabber (Ethan Hawke). Trauma tersebut membuat wataknya berubah menjadi pendiam dan penyendiri.

Sementara itu, adiknya, Gwen (Madeleine McGraw) mulai menghadapi halusinasi dan mimpi buruk tentang anak-anak yang dimutilasi bersamaan dengan dering telepon. Mimpi tersebut juga berhubungan dengan ibunya serta anak-anak yang ternyata merupakan korban sebelumnya dari The Grabber.
Bertujuan untuk mencari tahu tentang ibunya dan kebenaran tentang 3 anak di mimpinya, Gwen, Finn, Ernesto (Miguel Mora) berangkat ke Perkemahan Alpine Lake. Hingga akhirnya the Grabber muncul kembali dalam bentuk sosok yang hadir di mimpi Gwen tapi dampaknya bisa dirasakan di dunia nyata.
Melebihi film pertama
Ketika dirilis pada tahun 2021 silam, Black Phone karya Scott Derrickson menggebrak sebagai salah satu horor yang keren walau dengan budget yang rendah. Tak sempurna, tapi cukup menyenangkan. Bahkan ini sudah cukup hadir sebagai standalone movie saja. Hingga Derrickson memperkenalkan sekuelnya empat tahun setelahnya.
Dengan plot yang dikembangkan dari cerita pendek karya Joe Hill, Scott menggabungkan elemen horor supranatural dengan drama yang emosional didukung kualitas akting karakter dan keseluruhan eksekusinya. Ini menjadikannya sebagai sekuel yang melampaui film pertama, sekaligus memberikan makna yang lebih dalam bagi film terdahulunya.

Jika sebelumnya sosok The Grabber masih diselimuti misteri, film kedua sedikit menjelaskan tentang pembunuh berantai tersebut. Dan tentu saja, dihubungkan dengan nuansa supranatural yang membuatnya berbeda dibandingkan film pertama yang fokus pada cerita horor/thriller.
Sama seperti sebelumnya, duo Mason Thames dan Madeleine McGraw yang kembali memerankan Finney dan Gwen mencuri perhatian. Bisa dibilang, selain plot dan horor supranatural, konflik dan pendalaman karakter yang lebih kompleks sangat menggendong kesuksesan film ini.
Perlahan-lahan, Derrickson menampilkan misteri demi misteri yang terungkap tentang kakak beradik Finney dan Gwen dengan ibu mereka. Semakin menarik dengan gabungan teror yang disampaikan dengan gaya psikologis, tak hanya bertumpu pada jump scare semata.

Selain itu, ada berbagai konflik kompleks yang turut digaungkan. Selain kekerasan terhadap anak-anak yang sebelumnya menjadi fokus utama, ada tema generational trauma atau trauma antar generasi yang terasa. Didukung dengan visual yang menyakitkan, sederhana tapi efektif dalam penyampaian temanya.
Mungkin yang patut disayangkan dari film ini adalah durasinya yang cukup menyita. Ada beberapa bagian yang seharusnya bisa dipangkas ketika ceritanya mulai membosankan. Meski secara keseluruhan, hal tersebut bukanlah masalah besar.
Bukan akhir dari The Grabber?
Diangkat dari cerita pendek berjudul sama dari kumpulan cerpen 20th Century Ghosts karya Joe Hill, film pertamanya meraup 10 kali lipat dari budget awalnya. Dan dengan film kedua yang punya daya tarik tersendiri, film ini (dan The Grabber) punya potensi jadi bagian karakter horor modern yang legendaris.
The Grabber pun bisa jadi karakter yang mencekam, layaknya Freddy Krueger yang bisa hadir dan membunuh di alam mimpi. Apalagi kali ini, Derrickson menghadirkan sekuel dengan nuansa ala A Nightmare on Elm Street.
Entah disengaja atau tidak (dan sepertinya disengaja), Grabber sendiri mengucapkan “What do you think happens when you die in a dream?” (Apa yang kamu pikir akan terjadi jika kamu mati di dalam mimpi?”) pada trailer film ini. Ini menegaskan hubungan meta antara Grabber dan Krueger yang bikin film ini jadi lebih tajam.
Dengan (tanda-tanda) kesuksesan film kedua, tak menutup kemungkinan bahwa Derrickson masih akan memasukkan The Grabber ke dalam iterasi-iterasi selanjutnya, baik sekuel atau spin-off. Meski di film ini bagian akhirnya sudah jelas terungkapkan, tapi semua hal bisa terjadi di Hollywood.
Film Black Phone 2 membawa nuansa baru dengan cerita dan karakter yang lebih kuat dibandingkan pendahulunya. Menggabungkan misteri, horor, serta adegan-adegan yang bikin ngilu, Derrickson menambah daftar sekuel horor tahun ini dengan eksekusi yang menawan dan memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan.




