Empat dekade berlalu, film Red Sonja dipercantik dengan cerita baru walaupun masih mempertahankan nostalgianya. Tetap bersama gaya swords and sorcery yang kini jarang ditemukan, film ini berjuang memberikan ‘sesuatu’ di tengah keterbatasannya.
Sinopsis film Red Sonja
Sonja kecil (Matilda Lutz) harus melarikan diri ketika kampung halamannya, Hyrkania, diserang dan diluluhlantakkan. Ia tumbuh besar terpisah dari kaumnya, hidup sendirian di hutan sembari mencari sesama bangsa Hyrkania lainnya sembari memuja dewi Ashera.

Dalam perjalanannya, ia melihat pemburu membantai hewan liar. Ketika mengejar pemburu tersebut, ia sampai di pusat kota dan akhirnya ditangkap oleh jenderal Karlak (Martyn Ford). Ketangguhan Sonja membuatnya diperhatikan oleh tiran baru, Draygan (Robert Sheehan), mengirimnya untuk menjadi gladiator.
Draygan memiliki setengah kitab suci Hyrkania yang memberikannya pengetahuan kuno, termasuk menggunakan energi misterius untuk memberi daya ibu kota yang dipimpinnya. Mengetahui bahwa Sonja merupakan merupakan bagian dari suku Hyrkania, ia semakin tertarik dengan Sonja untuk mendapatkan setengah kitab suci lainnya.
Film baru rasa lama
Setelah perjuangan panjang paska film pertamanya yang legendaris pada tahun 1985, karakter cewek tangguh yang dikenal dengan pedangnya ini akhirnya dirilis. Bukan reboot atau sekuel, film ini merupakan edisi terbaru meski masih mengusung genre petualangan fantasi.

Lalu bagaimana dengan versi 2025? Untuk sekelas karakter kelas dua (atau bahkan kelas tiga) yang bahkan versi komiknya pun tidak beraturan, film ini punya ekspektasi rendah. Apalagi dengan trailer layaknya film fantasi 2000-an. Yah, dengan cerita seadanya, apa yang bisa ditawarkan kepada penonton?
Tak pelak jika budget jadi musuh utama Lutz. Yang paling kentara tentu saja setup dan wardrobe yang tampak seperti imitasi. Yah, layaknya film b-movie pada umumnya. Apalagi jika membahas CGI-nya. No comment.
Țapi di satu sisi, M. J. Bassett yang menjadi sutradara film ini membawa nuansa adaptasi film pertama Red Sonja ke dalam edisi terbaru. Ada berbagai elemen vintage yang dibawakan, seperti pertarungan kolosal dan beberapa latar film, membuatnya terasa seperti film fantasi era 80-an. Sekilas menghadirkan nostalgia.

Di tengah keterbatasannya, Matilda Lutz punya daya tarik tersendiri sebagai Red Sonja. Robert Sheehan yang tenar berkat membintangi Umbrella Academy pun menawarkan kedalaman karakter yang menawan. Menyenangkan untuk dilihat meski dalam segala keterbatasannya.
Karakter fantasi 80-an
Bagi yang belum tahu, Red Sonja sendiri merupakan tokoh fiksi yang diciptakan oleh penulis Roy Thomas dan artis Barry Windsor-Smith. Karakter ini dirilis pertama kali oleh Marvel Comics pada tahun 1973 sebagai bagian dari Earth-616, seringkali bersekutu dengan Conan the Barbarian.
Sebagai perbandingan, edisi pertama yang dibintangi oleh Brigitte Nielsen memang bukanlah favorit kritikus. Tidak pula jadi film yang meledak dan box office di masa-masa penayangannya. Namun film ini berhasil masuk kategori cult classic karena ceritanya yang ringan dan menyenangkan.
Ada sedikit peningkatan dari segi cerita. Bassett membawakan karakter ini dengan cerita dari sudut pandang wanita. Menekankan tentang tema pemberdayaan wanita, jauh dari plot ala male gaze yang jelas terlihat pada adaptasi sebelumnya.
Film ini memang tak seburuk anggapan banyak orang. Mengingat genre ini sekarang sepi peminat. Sehingga film ini masih tetap menyenangkan dengan cerita yang ringan dan dipenuhi aksi. Bukan tidak bisa jadi bagian dari fenomena cult movie di masa depan.
Film Red Sonja mungkin ditunggu oleh penonton yang juga mengikuti cerita karakter ini sejak 40 tahun yang lalu. Tapi di tengah gempuran film superhero dan menurunnya atensi pada genre fantasi, semisal Dungeon & Dragons: Honors Among Thieves (2023) yang tak terlalu booming, film ini kehilangan banyak daya tariknya.




