Sukses dengan Barbarian (2022), Zach Cregger membawa film Weapons (2025). Karya orisinil baru yang hadir dari kisah personalnya kehilangan orang yang disayangi. Horor misteri ini bergaya spiritual yang mungkin mengingatkan kita pada nuansa mencekam dari kisah-kisah Stephen King.
Sinopsis Weapons
Pada pukul 2.17 dini hari, 17 anak bangun dari tempat tidurnya. Mereka membuka pintu dan berlari menembus malam; merentangkan tangan bagaikan pesawat kecil melintasi jalanan dan halaman rumput perumahan pinggiran kota yang sepi.
Anak-anak yang hilang menggemparkan seluruh kota. Kesamaan mereka adalah siswa kelas tiga yang diajar oleh Justine Gandy (Julie Garner) yang kini kosong, kecuali seorang anak laki-laki pemalu bernama Alex (Cary Christopher). Ia sama bingungnya dengan para orang tua yang kehilangan anaknya.
Hingga akhirnya kepala sekolah (Benedict Wong) mengadakan pertemuan besar-besaran bagi orang tua yang panik. Ketika orang tua lainnya hanya bisa terpaku, Archer (Josh Brolin) yang kehilangan anaknya Matthew, bertekad untuk melakukan berbagai cara demi mengetahui misteri tersebut.
Premisnya sudah mencekam
Pertengahan tahun ini menandai berjayanya genre horor Hollywood. Setelah Sinner (2025) dan Together (2025), ada Weapons yang membawa premis yang unik dengan eksekusi yang bikin bulu kuduk merinding sepanjang cerita. Buktinya adalah raihan 100% dalam situs daring Rotten Tomatoes.
Demi pengalaman menonton yang maksimal, sangat sarankan supaya kamu menonton film ini tanpa tahu ceritanya lebih lanjut.
Kesan mencekam langsung terasa dari awal hingga akhir. Tak hanya bertumpu pada jumpscare, aura horornya yang kuat menyerang psikologis. Coba saja bayangkan fenomena anak-anak meninggalkan rumah tepat pukul 2:17 pagi, berlarian di pinggiran kota yang gelap dengan tangan terentang lalu menghilang tanpa jejak.
Keunikan dari film ini adalah Cregger membawa penonton dalam berbagai sudut pandang yang berbeda. Mulai dari Paul, Archer, Marcus, Justine, hingga Alex. Memperjelas cerita sekaligus membuat penonton bisa merasakan apa yang dialami oleh karakter-karakter dalam film ini.
Menariknya, film ini tidak disampaikan dalam satu alur yang lurus. Ceritanya dibuat dengan plot maju-mundur, dibuat bolak-balik menyesuaikan dengan masing-masing sudut pandang. Hingga satu per satu misteri mulai terbuka dan menguak penyebab menghilangnya anak-anak tersebut.
Horor yang tak konvensional ini punya beragam keunggulan. Ceritanya sederhana tapi nendang seramnya, setiap karakternya punya masalah dan kelemahannya masing-masing, dan horornya berbeda dari film-film lain di genre ini. Sebuah penyegaran bagi pecinta genre yang semakin inovatif dari hari ke hari.
Horor penuh misteri dari awal sampai akhir
Jika film Zach Cregger sebelumnya, Barbarian, sangat jelas dipengaruhi oleh horor thriller berdarah-darah khas Sam Raimi, maka Weapons sepintas membawa nuansa tak mengenakan seperti yang bisa ditemukan pada karya Stephen King. Premisnya sederhana tapi bikin terngiang-ngiang sampai ke tempat tidur.
Ceritanya dibuat seakan-akan terinspirasi dari kisah nyata. Padahal Zach menyebutkan bahwa film ini merupakan interpretasi dari peristiwa saat ia kehilangan orang yang dicintainya. Ini terlihat jelas dari bagaimana karakter-karakter di film ini bertindak ketika mereka kehilangan sesuatu yang mereka miliki.
Selama lebih dari satu jam, film ini mengusung nuansa serius yang muram. Diperkuat oleh sinematografi Larkin Seiple yang menawan dan musik latar yang mendebarkan. Apalagi ada lantunan Beware of Darkness dari George Harrison yang bikin ngilu.
Cerita personal Cregger menyatukan kepingan-kepingan antara kisah antar karakter yang rapuh dalam menghadapi kehilangan dengan kisah misterius yang menggabungkan horror dan thriller dengan apik. Film Weapons membawa penonton tetap duduk tenang bertahan mengupas misteri yang di luar nalar.
2 Comments
[…] ikonik yang menakutkan. Karakter ini juga akan dikembangkan menjadi film tersendiri oleh sutradara Weapons, Zach […]
[…] ini tentu tak mudah. Mengingat hanya ada lima film horor, termasuk Weapons (2025) yang sukses dan menjadi buah bibir tahun lalu mendapatkan nilai A- atau lebih tinggi sejak […]