Film The Monkey kembali menghadirkan penggemar horor sebuah film low budget dengan cerita menarik, unik, mudah diikuti, tapi tetap memberikan kesan menyenangkan seperti cerita-cerita dari si mbah-nya kisah horor Stephen King.
Sinopsis film The Monkey
Pada tahun 1999, saudara kembar Hal dan Bill muda menemukan monyet di kotak di gudang rumah mereka. Ketika Bill memutar kunci yang ada di belakang monyet tersebut, mereka menemukan bahwa babysitter mereka meninggal secara mengenaskan.
Kesal karena sering dimaki dan diejek oleh Bill, Hal memutar kunci monyet tersebut dengan harapan kutukan si monyet akan membunuh Bill. Namun malah ibu mereka (Tatiana Maslany) yang meninggal. Mereka berdua lalu membuang mainan tersebut di sebuah sumur.
25 tahun kemudian ketika tante Ida tiba-tiba meninggal dalam kecelakaan mengerikan di rumahnya, Hal (Theo James) dewasa membawa anaknya untuk menyelidiki kejadian tersebut. Ia menyadari bahwa ada kemungkinan kematian Ida terjadi karena kembalinya si monyet terkutuk itu.
Dari horor serius jadi komedi
Karya-karya Stephen King memang jadi ladang yang luas untuk adaptasi film. Cerpen The Monkey yang dialihwahana oleh Osgood Perkins sebagai penulis dan sutradara menggandeng Theo James yang memerankan dua karakter utama serta James Wan sebagai produser.
Sama-sama disutradarai oleh Perkins, tapi jangan harap bakal dapet pengalaman yang sama ketika kamu nonton Longlegs (2024). Jika film yang dibintangi Nicolas Cage itu menghadirkan horor dengan feel yang tidak mengenakan, kali ini lebih condong ke arah komedi.
Masih berdarah-darah dengan gore dan adegan yang bikin eneg, (Kami tidak tahu berapa banyak adegan yang disensor di Indo, karena tim Mariviu pertama kali menonton film ini di Irlandia), film ini mungkin lebih cocok seperti gabungan Evil Dead II (1987) dari Sam Raimi dan Shaun of the Dead (2004).
Perubahan ke ranah komedi membuat film ini jauh dari kesan serius. Perbedaannya signifikan, tapi tak serta merta menjauh dari esensi dan tema milik King. Versi film lebih “cair” dan mudah dicerna, membuktikan kecakapan Perkins membawakan dunia yang berbeda dibanding Longlegs.
Atmoster ala 90-an terlihat dari balutan warna dan nuansa yang diberikan. Keseluruhan tone dan gaya berceritanya mengingatkan pada kisah-kisah novel Goosebumps, ringan dan tak butuh cerita yang kompleks untuk bikin penonton masuk ke dalam dunianya.
Siapa sangka kalau film ini termasuk dalam kategori low budget movie. Dengan hanya bermodalkan $10 juta, Perkins memoles cerita, musik, efek praktis, dan dunia di dalamnya dengan apik. Yah, tak kalah ketimbang horor budget besar yang lebih sering flop karena ceritanya entah kemana.
Dibikin beda dari versi asli
Film The Monkey versi cerpen merupakan karya Stephen King yang pertama kali dirilis pada 1980. Sumber aslinya berkisah tentang Petey, anak Hal yang menemukan mainan monyet di loteng. Hal lalu menceritakan tentang kematian orang-orang terdekatnya setelah si monyet membunyikan simbalnya.
Perbedaan terbesar antara cerpen karya Stephen King dengan film dari Perkins adalah tone yang digunakan. Di cerpennya, Hal dibuat takut akan kematian dengan gaya penceritaan yang lebih suram. Sedangkan versi film dibuat layaknya dark comedy, membingkai setiap kematian dengan gaya konyol tapi tetap dipenuhi darah.
Selain itu jika edisi aslinya menggambarkan mainan monyet dengan simbal maka filmnya memperlihatkan si monyet menggunakan drum. Hal ini dilakukan karena Disney memiliki hak cipta untuk mainan monyet dengan simbal yang dikenal dengan nama Jolly Chimp ketika memperkenalkannya pada film Toys Story 3 (2010).
Tapi terlepas dari perbedaan tone dan gaya penceritaan, keduanya menghadirkan tema dan tujuan yang sama; keseluruhan cerita versi film maupun cerpen mengungkapkan sejauh mana seseorang melakukan segalanya untuk menghindari kematian.
Terlepas dari King yang memuji bagaimana film ini “batsh-t insane (benar-benar gila)”, adaptasi dari Osgood dengan cantik memainkan perasaan penonton. Menyandingkan tema yang berat dengan kematian-kematian yang terasa absurd, menggambarkan betapa rapuhnya manusia dengan segala kemungkinan-kemungkinannya.
Film The Monkey memang bukan buat kamu yang pengen cerita menyeramkan dan membuat bulu kuduk berdiri layaknya horor khas Indonesia. Tapi Perkins memberikan cerita yang mudah diikuti dibalut kejutan-kejutan manis dari kisah horor komedi khas Hollywood yang absurd, tapi dipenuhi makna mendalam yang tetap menyenangkan untuk ditonton berkali-kali.