Review Film Dilan 1990: Novel vs Film

Menikmati sebuah film yang diadaptasi dari novel tentu saja tidak mudah. Coba saja Kita merujuk pada novel Twilight karya Stephanie Mayer yang ‘sukses’ membuat fans memperolok kisah cinta Bella Swan dan Edwad Cullen dengan tatapan datar ala Kristen Steward. Selain itu, di negeri sendiri, film yang diangkat dari cerita novel yang juga memberikan helaan nafas penggemarnya adalah Dilan 1990 yang baru saja dirilis beberapa hari lalu di bioskop.

Para penikmat novel tanah air pasti sudah tidak asing dengan Dilan 1990, novel romansa remaja yang dikemas dengan pemilihan gaya bahasa yang unik oleh Pidi Baiq, terbit pada 2014 silam. Beberapa hari ini, bioskop jadi sesak dengan kerumunan para abege tanah air, yang berseragam maupun tidak. Tampak wajah-wajah berbinar bin penasaran terdengar sayup-sayup membicarakan beberapa adegan iconic dari novel Dilan 1990. Tidak jelas apakah seluruh anggota kerumunan itu sudah membaca novelnya atau cuma bermodalkan Google agar terlihat lebih menyatu dengan anggota kerumunan yang lainnya. Entahlah.

Pengarang novel Dilan, Pidi Baiq dan cover novel Dilan 1990
Sang pengarang, Pidi Baik dan cover novel Dilan via Bookmyshow

Sejak diumumkannya kabar bahwa Dilan 1990 akan divisualisasikan ke layar lebar, banyak pembaca yang “ketakutan”. Maksudnya, “ketakutan” para pembaca akan penambahan “bumbu” yang mungkin dapat menimbulkan ketidakselarasan antara novel dan filmnya nanti. “Ketakutan” mereka pun terjawab dengan keluarnya “surat edaran” dari sang Pidi Baiq, yang menjelaskan bahwa film Dilan 1990 akan tetap memakai alur yang persis sama dengan yang di novel.

Lalu, masalahnya apalagi?

Tak lama setelah pengumuman tentang film Dilan, foto-foto para pemain Dilan mulai beredar di media sosial. Komentar-komentar pun berluncuran di kolom komentar. Tak sedikit dari pecinta Dilan yang memberikan komentar pedas.

“Kenapa harus iqbal sih?”

“Kayaknya lebih cocok si Anu deh”

“Kurang macho ih”

“Ngga sesuai bayangan gue Dilannya”

“Adipati Dolken pasti oke nih”

Review film Dilan 1990
via Falcon

Dan masih banyak lagi komentar dengan nada serupa yang disampaikan oleh para netizen pecinta Dilan. Komentar mulai memanas lagi (walau ada juga yang tidak mempermasalahkan) ketika trailer Dilan 1990 resmi dikeluarkan. Dalam trailer tersebut Iqbal tampak sedikit kaku dengan cara bicaranya. Seperti ada yang kurang, ada yang beda saja dari Dilan yang dibayangkan oleh pembaca.

Cara Iqbal berbicara dengan Milea ketika di angkot misalnya, atau ketika Iqbal ngobrol lewat telepon dengan Milea dan bilang “Cemburu itu cuma buat orang yang tidak percaya diri” “Ya sekarang aku sedang tidak percaya diri”, agaknya membuat kata-kata nan sederhana namun manis tersebut jadi terasa datar dan kurang menancap di hati. Hal ini juga sedikit menggeser bayangan para pembaca akan Dilan yang mana digambarkan di novel sebagai panglima tempur.

salah satu adegan pada film Dilan 1990
via Falcon

Semua itu bisa saja karena masih adanya bayang-bayang keimutan Iqbal ketika bersama Cowboy Junior terdahulu ataupun karena basic-nya Iqbal bukan di akting. Kemungkinan-kemungkinan tadi bisa saja benar, tapi memang, tampaknya pecinta Dilan lebih mempermasalahkan penampilan fisik Iqbal yang tidak dapat dikatakan bisa mendeskripsikan Dilan seperti yang mereka bayangkan.

Lucunya, untuk pemeran Milea, tidak terlalu dikomentari. Mungkin karena Vanesha, pemeran Milea sudah bisa mewakili imajinasi para pembaca terhadap tokoh Milea pada novel. Itu lah hebatnya sebuah novel, dimana imajinasi pembaca tidak bisa ditahan-tahan. Seperti rindu saja, tidak bisa ditahan, karena rindu itu berat. Ehe.

Vanesha Priscillia yang memerankan Milea pada Dilan 1990
Efek flawless Vanesha Prescilla

Pada dasarnya, film Dilan 1990 tidak jelek.  It’s just fine. Hanya saja atmosfer film dan novel terasa sangat berbeda menurut saya. Versi visual ini seperti menjadikan cerita dari novel jadi terasa agak cheesy. Ketika membaca novelnya, percakapan Dilan dan Milea terasa sangat ringan dan ada manis-manisnya. Membuat pembaca ingin masuk dan menjadi bagian dari cerita. Berbanding terbalik dengan novelnya, Dilan versi film malah menciptakan suasana awkward.  Seperti banyak kekosongan di antara percakapan, menjadikan suasana yang seharusnya di novel “awww unch” tapi malah jadi “ewww gelik!” di film.

ewwww

Remaja SMP dan SMA kemungkinan akan sangat menyukainya. Orang-orang yang memang penikmat roman picisan sejati juga pasti akan suka, apalagi yang sama sekali belum baca novelnya karena nonton tanpa ekspektasi yang berlebihan. Dan pastinya, fans Iqbal sendiri. But not for me. I prefer the book version.

Ulasan in ditulis oleh Annisa Ulhusna, alumni jurusan Sastra Inggris Universitas Andalas.

 

Genre: Drama

Sutradara: Fajar Bustomi dan Pidi Baiq

Pemeran: Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescila 

Durasi: 110 menit

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 853

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *