Sebagai perwakilan Indonesia untuk Best International Feature di Oscar 2027 mendatang, Empat Musim Pertiwi memang punya narasi yang mendalam. Cerita Pertiwi menggambarkan betapa peliknya hidup sebagai wanita dengan segala trauma yang dialami dan norma-norma yang dipaksakan dalam kehidupan mereka.
Sinopsis film Empat Musim Pertiwi
Pertiwi (Putri Marino) kembali pulang ke kampung halamannya setelah menjalani hidup di penjara selama 20 tahun karena membunuh orang yang ingin memerkosanya. Kedatangannya hanya untuk kembali menata hidupnya yang seakan tak tahu arah.
Tapi ada banyak orang yang terusik dengan kepulangan Pertiwi. Di antara orang-orang yang menghindarinya, Mak Ira (Christine Hakim) hadir menyambut dengan tangan terbuka. Termasuk Bisma yang merasa senang atas kehadiran kembali Pertiwi di kehidupannya.
Pertiwi hanya ingin menyelesaikan hal-hal yang sempat menggantung dalam kehidupannya. Untuk itu, ia harus berhadapan dengan orang-orang dari masa lalu dan membuatnya kembali mengingat trauma yang pernah dialaminya.
Film surealis bertemakan perempuan
Dikenal juga dengan Four Seasons in Java, Empat Musim Pertiwi lebih dulu dipertontonkan dalam screening terbatas pada 22-28 September 2026 sebelum pemutaran perdana di bioskop Tanah Air pada 8 Oktober 2026. Menyusul world premiere di festival film prestisius, Toronto International Film Festival (TIFF) September lalu.
Premis awalnya sudah suram. Tentang seorang wanita yang baru keluar penjara dan dihadapkan kembali dengan masa lalunya yang menghantui. Pertiwi merepresentasikan kebanyakan wanita yang terus dihantui kenangan buruk dan menggerogotinya ke mana pun mereka pergi.

Putri Marino membawakan Pertiwi dengan penyampaian yang datar, memperlihatkan sosok wanita dengan pandangan nanar dan seakan sudah tak bersinar. Tapi ada kalanya ia meledak-ledak, menyampaikan kemarahan atas keadaan yang seakan tak pernah memihaknya.
Selain dipenuhi aktor dengan akting kelas satu, sinematografi dan visualnya mengagumkan. Ada hamparan lanskap Bromo yang membentang. Hampir mirip dengan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) yang juga sama-sama membahas tentang betapa beratnya hidup sebagai wanita.
Plotnya bisa dibilang dinamis meski antar dialog disampaikan dengan lambat. Kamila menghadirkan cerita dengan syahdu. Dibawakan dengan pelan sembari mengupas trauma yang menggerogoti Pertiwi satu per satu. Tak heran jika banyak penonton awam yang merasa jika film berdurasi 137 menit ini terasa lebih lama.

Tak jauh berbeda dari film festival lainnya, ceritanya bukan selera kebanyakan orang. Berada dalam kategori sidestream, Empat Musim Pertiwi berada di ranah surealis. Maka jangan heran jika ada banyak simbol dan perumpamaan yang membuat ceritanya seakan tak logis, termasuk ending yang membingungkan.
Beratnya jadi wanita di Indonesia
Penggemar Kamila Andini tentunya sudah tak asing lagi dengan pendekatan cerita dan keseluruhan tema dalam karya sutradara berumur 40 tahun ini. Setelah Yuni (2021) dan Before Now and Then (2022), Empat Musim Pertiwi juga menyuarakan kegelisahan dan kemarahan Kamila terhadap sulitnya hidup sebagai wanita, khususnya di Indonesia.
Hanya untuk hidup seperti biasa, Pertiwi mau tak mau harus bertemu kembali dengan orang-orang yang bisa memicu traumanya. Tapi di dalam masyarakat, ia dipaksa menerima dan berdamai dengan itu; ia harus tetap hidup sembari melihat orang-orang yang merusak kehidupannya. Ia melihat dirinya saat remaja pada Raras (Hanna Aretha), yang juga mengalami hal serupa dengan dirinya.
Kamila juga memperlihatkan bagaimana sulitnya menjadi wanita yang tak pernah dipercaya. Bahkan setelah apa yang menimpanya, orang-orang tak percaya dengan pembelaannya. Penggambaran tentang apa yang benar dan apa yang dipercaya jadi poin penting yang ditampilkan dalam aspek fiksi ilmiah di film ini.

Babak ketiga film ini hadir dengan kejutan demi kejutan. Membawa ceritanya ke arah yang tak disangka-sangka. Sampai akhirnya credit roll bergulir, dan penonton menebak-nebak apa yang terjadi pada Pertiwi yang orang-orang di desanya.
Secara keseluruhan, film Empat Musim Pertiwi memang tak hanya untuk ditonton. Film ini ada untuk dirasakan, baik dari segi visual, penceritaan, serta nuansa yang dibawakannya. Salah satu film yang mengajak penontonnya untuk bersama-sama merasakan sekaligus marah atas ketidakberdayaan ‘Pertiwi-Pertiwi’ yang ada di sekitar kita.
Melalui Pertiwi, Kamila memperlihatkan bahwa masih ada banyak cerita perempuan yang jarang diangkat tapi masih sering terdengar di sekitar kita. Banyak wanita yang punya cerita, tapi malah diredam dan dibungkam. Kisah orang-orang yang terpaksa pasrah, hingga akhirnya berharap ada kekuatan yang lebih besar yang bisa membalaskan dendam mereka.


