Hanung Bramantyo bersama Adhya Pictures menghadirkan film horor tentang peristiwa pembantaian di Desa Lobang Buaya. Menggabungkan horor dengan investigasi, film ini punya alur cerita yang kompleks dan mungkin butuh pemahaman lebih untuk bisa menyingkap maksud di dalamnya.
Sinopsis film Lobang Buaya
Pada tahun 1964, Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) baru saja dipindahkan untuk bertugas di sebuah desa terpencil bernama Lobang Buaya. Desa tersebut dihantui oleh misteri pembunuhan yang terjadi pada tanggal 30 di setiap bulannya.
Para korban ditemukan dengan luka yang mengenaskan serta luka sayatan. Luka tersebut berupa tulisan-tulisan bernada sindiran, seperti “tamak”, “maruk”, dan lainnya. Ketika diselidiki, Soegeng menemukan bahwa penduduk desa saling mencurigai satu sama lain.
Sementara sang istri, Arum (Carissa Putri) sering diganggu oleh sosok misterius perempuan berbaju ronggeng yang menuntut tubuhnya dikembalikan. Perlahan-lahan, Soegeng menyadari bahwa sosok misterius tersebut memiliki hubungan dengan kejadian berantai yang menimpa desa Lobang Buaya.
Gabungkan horor dan investigasi kriminal
Sebagai salah satu sutradara Indonesia yang produktif, Hanung kembali ke ranah horor setelah sebelumnya menyutradarai film Trinil: Kembalikan Tubuhku (2024). Dua tahun berselang, filmografinya berisikan film-film drama, termasuk adaptasi terbaru dari Children of Heaven (2026) yang dirilis pertengahan tahun lalu.

Hanung menawarkan Lobang Buaya sebagai penggambaran fiktif atas peristiwa bersejarah yang terjadi pada 1965. Walaupun memiliki latar yang hampir sama, ia menyebutkan bahwa film ini merupakan adaptasi fiktif yang tidak memiliki hubungan langsung dengan peristiwa G30S PKI.
Tak hanya bergantung pada nuansa horor, Lobang Buaya membawakan plot penuh drama, misteri investigasi, serta tema berlandaskan politik yang menyerempet peristiwa bersejarah tersebut. Bisa dibilang, film ini punya kesan drama yang lebih kuat ketimbang horor.
Paruh pertama film terasa menarik karena Hanung memberikan misteri demi misteri dan mengajak penonton untuk menebak siapa dalang di balik pembunuhan berantai tersebut. Kombinasi investigasi dan horornya dengan kisah tentang desa Lobang Buaya terkesan unik dan fresh.
Sayangnya, mulai pertengahan cerita, film ini terasa membingungkan karena ceritanya yang kompleks dan berat. Belum lagi ditutup dengan bagian akhir yang menggantung tanpa menyelesaikan apa yang sudah dibangun di awal cerita.

Keseimbangan cerita dengan pesan yang ingin disampaikan terlalu jomplang. Sehingga penonton masih harus menebak-nebak apa yang terjadi pada karakter-karakter di film ini, termasuk plot twist dan alur yang sulit diikuti jika tidak benar-benar memperhatikan jalannya cerita.
Bawa-bawa isu G30S PKI
Hanung sebelumnya pernah didapuk untuk menyutradarai versi reboot/remake dari film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI (1984). Namun, proyek tersebut batal dan Hanung akhirnya mengubah haluan menjadi horor berlatarkan peristiwa tersebut.
Melalui film ini, ia berbicara tentang trauma kolektif yang masih menghantui masyarakat akibat pembantaian yang terjadi di daerah mereka. Tak bermaksud untuk membawa ceritanya ke sejarah sebenarnya, ia menjadikan peristiwa tersebut sebagai fondasi cerita. Meski pada akhirnya, plotnya sendiri tidak pernah membahas tentang itu.
Di satu sisi, film ini merepresentasikan bagaimana kekuasaan dan ketidakacuhan orang-orang terhadap apa yang terjadi di sekitarnya bisa berdampak buruk. Tidak ada yang benar-benar baik di Desa Lobang Buaya, setiap orang memiliki masalah dan sisi kelamnya sendiri.

Membuat film ini jauh dari sejarah pembantaian G30S, sayangnya, malah membuat ceritanya jadi ambigu. Apakah Hanung ingin menampilkan kisah balas dendam sebagai awal dari pembantaian atau malah mereduksi sisi historis peristiwa G30S hanya sebagai bagian dari dendam pribadi.
Bagian akhirnya yang terasa terburu-buru dan ‘menggantung’ mungkin masih menjadi perdebatan. Masih ada cerita yang belum terjelaskan hingga end credit bergulir. Namun, Hanung sendiri mengungkapkan bahwa belum ada konfirmasi apakah film ini nantinya akan memiliki sekuel atau tidak.
Secara keseluruhan, film Lobang Buaya memberikan perspektif lain tentang peristiwa bersejarah dengan menggabungkan elemen horor dan investigasi kriminal. Ketakutan Hanung untuk tidak menyentuh sama sekali peristiwa tersebut membuat film ini hanya menjadikan G30S sebagai kamuflase, sembari lebih vokal mengungkapkan sifat-sifat kejam manusia.




