REVIEW

Review Istimewa (2026): Niatnya Bagus Tapi Hasilnya Minus

2 / 5

Drama

Reviewed by

poster Istimewa 2026

Film Istimewa menampilkan aktor-aktor difabel sebagai peran utama sekaligus debut mereka di layar lebar. Sebuah film dengan tema yang unik, tapi tanpa eksekusi yang proper membuat hasil keseluruhannya menjadi kurang memuaskan.

Sinopsis film Istimewa

Pak Mahendra (Mathias Muchus) yang dipanggil dengan nama Ayah mengumpulkan anak-anak penyandang disabilitas di Rumah Istimewa. Mul (Mustofa), Ken (Rein), Aldo (Zulfadli Aldiansyah), Nita (Niatus Sholihah), dan Bimo (Bambang Ceper) dan anak-anak lain tumbuh besar di sana dengan diasuh oleh Kinan (Yanni Melwani).

Ketika Ayah mendapati bahwa ia terkena kanker, dia menghilang tanpa memberitahu anak-anak di Rumah Istimewa karena tidak ingin mereka sedih. Mengetahui hal tersebut, kelima anak tersebut lari dari rumah untuk mencari Ayah.

Berbekal surat dan alamat rumah sakit tempat Ayah dirawat, mereka naik angkot untuk menjenguk. Di tengah jalan, uang mereka tertinggal di dalam angkot. Mereka akhirnya bertemu dengan Bagas (Ajil Ditto) yang berjanji untuk mengantarkan mereka bertemu dengan Ayah.

Melodrama yang dipaksakan

Semakin banyak film-film Indonesia yang mengulik tentang kelas menengah ke bawah, termasuk Semua Akan Baik-Baik Saja (2026) yang dirilis awal tahun ini. Sama dengan Istimewa, kedua film ini tidak hanya fokus pada kelas ekonomi bawah, tapi juga orang-orang rentan, yaitu penyandang disabilitas.

Film Istimewa punya alur yang mudah diikuti dengan premis yang juga sederhana: tentang anak-anak difabel mencari ayah mereka yang meninggalkan rumah. Penuh dengan drama dan tentu saja cerita yang diliputi perasaan haru.

pemeran film Istimewa
via Kairos Pictures

Film ini jadi debut yang manis bagi beberapa aktor difabel. Baik Mustofa, Rein, Zulfadli Aldiansyah, Niatus Sholihah, Bambang Ceper, dan Salsabila Bella yang tampil menawan. Bersanding padu dengan Mathias Muchus juga masih keren dengan aktingnya yang kuat.

Tapi selain itu, praktis tak ada yang menyenangkan dari film ini. Yang paling bikin kesal adalah naskahnya. Terlalu memaksakan untuk menghadirkan kesedihan. Masalah-masalah datang silih berganti, bahkan terkesan dilebih-lebihkan. Misalnya ketika anak-anak tersebut kehilangan uang atau ada karakter yang kecelakaan. 

Melodrama yang terlalu dibuat-buat malah membuat ceritanya jauh dari kata otentik. Apalagi eksekusinya yang malah membuatnya terasa seperti sinetron, mulai plot, latar, sampai dengan editing membuatnya jauh dari kesan ‘layar lebar’.

Tak harus dibuat melow

Keseluruhan cerita di film Istimewa terinspirasi dari anak-anak penyandang disabilitas. Ceritanya dikumpulkan dari kisah anak-anak difabel dan Abdullah Mansuri, penulis naskah sekaligus pendiri yayasan untuk penyandang disabilitas. 

Istimewa jadi film pertama di Indonesia dengan enam karakter utama difabel. Film ini dibuat untuk meningkatkan pengetahuan dan sebagai pendidikan bagi masyarakat Indonesia tentang penyandang disabilitas yang masih kurang terekspos di berbagai media Tanah Air.

aktor di film Istimewa
via Kairos Pictures

Walaupun hadir dengan niat yang mulia, namun sayangnya eksekusinya terasa kurang dipersiapkan dengan matang. Hasilnya jauh dari kata sempurna. Hanya jadi film seadanya yang mungkin akan lebih banyak ditonton pada layanan streaming. 

Kalau tujuannya untuk meningkatkan awareness bagi penyandang disabilitas, film tanpa drama menye-menye juga sudah mewakili. Contoh saja Rain Main (1988) yang dibintangi Tom Cruise atau Sex & Drugs & Rock & Roll (2010), film tentang Ian Dury, penyandang polio yang jadi founder skena punk-rock di Britain era 70-an. 

Film Istimewa hanya jadi pelepas tanya representasi aktor difabel sebagai pemeran utama. Padahal tema tentang penyandang disabilitas yang masih bisa berkarya bisa lebih mewakili jika ceritanya dibuat heartwarming tanpa harus melodrama yang terlalu dipaksakan. Setidaknya ini bisa membuka jalan bahwa aktor difabel masih bisa berkarya dan tak kalah dengan pemeran lainnya.

poster film Istimewa

GENRE

Drama

AKTOR

Mathias Muchus, Rein, Mustofa, Bambang Ceper, Agus Kuncoro, Ajil Ditto

SUTRADARA

Ruben Adrian

TANGGAL RILIS

17/09/2026

Istimewa

RATING

Facebook
X Platform
LinkedIn
WhatsApp
Threads

About Reviewer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *