Agensi Rumah Tangga jadi film terbaru yang mengangkat isu masyarakat kelas menengah ke bawah. Dibawakan dengan cerita yang menggelitik, tapi menghadirkan gambaran tentang masalah kompleks dan pelik yang terjadi di masyarakat pekerja Indonesia.
Sinopsis film Agensi Rumah Tangga
Katia (Enzy Storia) menjalani hidupnya sebagai pegawai di sebuah perusahaan startup. Di tengah badai ekonomi, Katia dipecat walaupun punya performa yang bagus. Ia lalu tinggal bersama ibunya (Unique Priscilla) yang selalu menyuruhnya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Ketika mengantar pembantu di rumahnya, Bi Minah (Tike Priyatnakusumah) pulang kampung, ia bertemu dengan Siti (Ummy Quary), pembantu yang ditipu oleh agen panyalur pembantu. Tak lama, ia berpikir untuk membuat sebuah agen penyalur pembantu sendiri.
Setelah menjual mobil demi mendirikan perusahaannya, ia datang ke kampung Bi Minah dan menyeleksi sendiri wanita-wanita yang ingin menjadi asisten rumah tangga. Tawaran pertama datang dari penyanyi yang sedang naik daun, Kafka (Afgansyah Reza).
Ringan tapi tak kalah kompleks
Agensi Rumah Tangga merupakan film keenam yang disutradarai oleh Naya Anindita. Sebuah karya yang secara terang benderang mengupas kondisi sosial dan ekonomi Indonesia saat ini, terlebih terkait isu-isu menyangkut wanita dan peran mereka di keluarga dan masyarakat.
Naya memang dekat dengan perjuangan lower-middle class paska sukses besar dengan Tunggu Aku Sukses Nanti (2026). Kali ini, kisah tentang mantan karyawan start-up yang mencoba peruntungan dengan membuka agen penyalur ART sukses menghadirkan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.

Gabungan drama dan komedi (serta bumbu-bumbu romansa di beberapa sub-plot) membuat film ini terasa ringan dan renyah dicerna. Tapi di balik itu, Ada banyak cerita yang disampaikan oleh Naya dan tim penulis yang terdiri dari Ayu Anggraini, Upi Avianto, dan Almira Bastari. Tak heran jika kompleksitas ceritanya membuat film ini lebih cocok jadi serial TV 8-episode.
Terlalu banyak sub-plot dalam 115 durasinya. Mulai dari arc Katia dan sang ibu yang menginginkannya menjadi PNS, perjuangannya mencari pekerjaan di tengah kondisi ekonomi yang lesu, belum lagi masing-masing ART punya masalah dan arc mereka sendiri.
Saking banyaknya plot tambahan, romansa Katia dan Kafka terkesan bagai sesuatu yang diselipkan dengan paksa. Out of the blue, ceritanya lebih seperti bagian dari drama-drama Korea. Memang, film ini lebih menggigit ketika mengulas tentang masalah yang dialami Katia dalam mengembangkan agensinya serta problematika para ART dan pekerjaannya.

Untuk urusan karakter pendukung, Ummy Quary jadi bintangnya. Komedi dan dramanya pas. Didukung ceritanya dengan keluarga Banu (Ardit Erwanda) punya momennya sendiri. Lagu “Kita Bikin Romantis” karya Maliq & D’Essentials mengalun jadi gimmick yang bahkan terngiang-ngiang hingga credit post berakhir.
Angkat isu lower-middle class
Naya bisa dibilang sebagai salah satu sutradara muda Indonesia yang berhasil membawakan film-film penuh dengan jeritan hati masyarakat Tanah Air. Setelah TANS, film ini menyuarakan apa yang dirasakan oleh wanita di tengah kondisi ekonomi yang semakin runyam.
Katia jadi representasi generasi muda yang didesak untuk punya pekerjaan yang mentereng atau jadi PNS yang hidupnya terjamin. Nisa (Nada Novia) yang rela ikut ke Jakarta demi bisa bersama ibunya, atau Ratih (Astrid Juwita) yang sudah menjanda walaupun umurnya masih 17 tahun.
Ada pula kisah tentang pekerja yang luntang-lantung akibat pabrik yang bangkrut. Banu sebagai pemilik kedai kopi yang harus gulung tikar. Naya bahkan menyindir laki-laki yang lebih suka bermain judi dan tak mempedulikan keluarganya, hingga pada akhirnya sang istri yang harus banting tulang mencari nafkah.

Semuanya disandingkan dengan cerita yang ringan, selipan-selipan komedi yang mungkin tak semuanya kena, serta bumbu romansa yang bikin penonton histeris. Tak heran jika film ini punya basis penonton yang tinggi dengan lebih dari 100 ribu penonton di hari pertamanya.
Dengan kesuksesan filmnya, sekuel bisa jadi pertimbangan. Bahkan bukan tak mungkin ada rumah produksi yang tertarik untuk mengadopsi kisah ini ke dalam serial televisi maupun streaming. Karena memang ada banyak lagi cerita yang bisa dikulik antara ART dan masalah yang sering mereka alami.
Film Agensi Rumah Tangga mengentak sebagai salah satu representasi kondisi Indonesia saat ini dengan berbagai problematikanya. Dibawakan dengan jenaka, tapi punya kompleksitas yang rumit tentang isu-isu yang kerap ditemui oleh masyarakat kelas menengah ke bawah yang penuh derita.




