David Robert Mitchell, sutradara yang selama ini identik dengan horor indie banting setir ke ranah film survival keluarga lewat The End of Oak Street. Gado-gado genre dengan plot cerita yang menghadirkan nostalgia membuatnya pantas disebut sebagai kejutan terbesar di musim panas ini.
Sinopsis film The End of Oak Street
Di tahun 1982, Denise (Anne Hathaway) dan Greg (Ewan McGregor) beserta kedua anak mereka, Audrey (Maisy Stella) dan Brian (Christian Convery) hidup tenang di area pinggiran kota bersama anjing mereka, Starbuck.
Peristiwa aneh mulai bermunculan. Tanaman misterius muncul di halaman rumah tetangganya. Ketika difoto, pustakawan menyebutkan bahwa tanaman tersebut merupakan spesies yang telah punah jutaan tahun yang lalu. Tumbukan kotoran hewan yang tak idkenal juga muncul di rumah tetangga lain.
Semuanya berubah drastis ketika sebuah badai misterius tiba-tiba menyelimuti seluruh kawasan Oak Street. Peristiwa tersebut memindahkan lingkungan itu ke sebuah dunia asing yang sama sekali tidak mereka kenali.
Dari teror psikologis ke teror prasejarah
Nama David Robert Mitchell besar berkat It Follows (2014) dan Under the Silver Lake (2018). Keduanya melambungkan namanya sebagai salah satu sutradara horor yang fresh serta punya misteri penuh teka-teki.
Menariknya, The End of Oak Street tidak sepenuhnya meninggalkan DNA itu meski dibungkus sebagai blockbuster musim panas berbujet studio besar. Mitchell tetap menggandeng Mike Gioulakis, sinematografer yang sama sejak It Follows hingga Under the Silver Lake.

Berlatar era 80-an, Mitchell menghadirkan kisah keluarga yang harus saling menjaga menghadapi ancaman fantastis yang datang tiba-tiba. Formula yang jelas mengingatkan pada era keemasan Amblin Entertainment-nya Steven Spielberg.
Memang, film ini terasa seperti campuran Jaws (1975) dan Jurassic Park (1993) milik Spielberg dengan The Goonies (1985) karya Richard Donner. Sedangkan Mitchell menambahkan dengan sentuhan cerita keluarga yang lebih personal.
Tapi ini sebenarnya tak cocok dengan rating PG-13. Mengingat ada beberapa adegan yang terasa cukup graphic dan intens, termasuk momen ketika Denise menghadapi predator purba dengan senjata seadanya.

Yang paling kentara tentu saja chemistry antara Anne Hathaway dan Ewan McGregor yang harus berjibaku melawan musuh yang berkali-kali lipat mereka demi menjaga keluarganya. Terasa bagaimana kekuatan mereka berasal dari rasa sayang dan komitmen mereka untuk saling menjaga.
Masih dibebani plot hole
Di tengah era sekuel demi sekuel, reboot, dan remake, The End of Oak Street merupakan satu dari sedikit film orisinil tahun ini. Selain sebagai sutradara, filmmaker Amerika berusia 51 tahun ini juga bertindak sebagai penulis naskah.
Untuk sebuah tontonan bertemakan dinosarus, alur ceritanya cukup pas dengan jumpscare yang terbagi dengan apik. Memang ada plot hole serta world building yang tak semegah Jurassic Park. Tapi esensi survivalnya semakin kuat dengan adegan kejar-kejaran yang tetap seru untuk diikuti.

Tentu saja, jangan berharap kedalaman cerita ala Nolan. Mengingat kekuatan utama film ini memang ada di sensasi dan nostalgianya, bukan logika ceritanya yang rapi. Sempat pula beredar teori bahwa film ini terhubung dengan semesta Cloverfield, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Warner Bros.
The End of Oak Street membuktikan bahwa insting horor personal David Robert Mitchell tetap bisa diselipkan bahkan di tengah cerita survival bertemakan dinosaurus yang paling ramai diperbincangkan musim panas ini.
Kombinasi nostalgia era Amblin, ancaman purba yang tetap menegangkan, dan chemistry Hathaway-McGregor jadi alasan utama kekuatannya. Alur plotnya mungkin bisa diperdebatkan, tapi setidaknya masih menyenangkan untuk sekadar tontonan pelepas lelah.




