Film Obsession menghadirkan kisah horor psikologis supranatural yang mengangkat kekerasan fisik dan emosi. Perasaan tak mengenakan dihadirkan bukan hanya dari ceritanya yang menegangkan, tapi juga hubungan antara dua karakter utama yang sama-sama menderita.
Sinopsis film Obsession
Baron atau dikenal dengan panggilan Bear (Michael Johnston) memendam perasaan suka kepada rekan kerjanya, Nikki (Inde Navarrette). Ia ingin mengungkapkan perasaannya, tapi ditahan oleh Ian, sahabatnya. Ia menjelaskan bahwa Bear tak perlu terburu-buru.
Saat akan bertemu untuk pesta bersama sahabatnya, Bear berencana memberi hadiah untuk Nikki. Di toko, ia menemukan sebuah barang unik, dedalu ajaib. Dikatakan bahwa permintaan apa pun yang diucapkan ketika mematahkan dedalu akan dikabulkan.
Ketika mengantarkan Nikki pulang, Nikki mengungkapkan bahwa menganggap Bear teman baiknya dan masuk ke dalam rumah. Merasa iba, ia akhirnya meminta agarNikki tidak mencintai siapa pun selain dirinya. Permintaannya ternyata menghasilkan konsekuensi yang tak disangka-sangka.
Horor bertemakan involuntary celibate
Pertama kali dirilis di Toronto International Film Festival tahun lalu, Obsession langsung jadi perbincangan. Tentu karena biaya produksinya yang jauh lebih rendah dari rata-rata film Hollywood, hanya $750.000 (sekitar Rp13 miliar). Selain itu, Curry Barker, sang sutradara, juga berumur masih 26 tahun.
Tapi minimnya budget dan pengalaman Curry sebagai sutradara tak membuat film ini kehilangan magisnya. Ceritanya yang solid dengan premis yang sederhana dengan effortless berhasil menyampaikan tema tentang involuntary celibate atau dikenal dengan incel.
Incel merujuk pada orang-orang (biasanya laki-laki) yang kesulitan mendapatkan pasangan. Bukannya intropeksi dan memantaskan diri, mereka sangat yakin bahwa kegagalan mereka dalam mendapatkan pasangan disebabkan oleh penolakan wanita.
Kisah Bear yang sebenarnya punya banyak red flag dijadikan sebagai awal dari cerita kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Lalu, ini dihubungkan dengan narasi supranatural tentang dedalu yang bisa mengabulkan semua permintaan.
Sedangkan horornya juga tak diciptakan melalui jumpscare. Ada kesan tak mengenakkan yang terasa sepanjang durasi bahkan ketika filmnya berakhir. Penggunaan lighting dan musiknya berdampak besar pada perasaan tersebut.
Plotnya dibuat sesederhana mungkin tapi semakin gelap dari waktu ke waktu. Barker mengarahkan emosi penonton terhadap apa yang terjadi pada Bear dan Nikki, termasuk keadaan Nikki yang terjebak di dalam tubuhnya sendiri.
Selain itu, pengaturan timing pun patut diacungi jempol dengan set up yang brilian. Barker memberikan kesempatan bagi penonton untuk berada dalam keadaan tak mengenakan, sampai akhirnya memberikan rasa lega atau malah membuat mereka lebih tegang dengan segala adegan kekerasannya.
Bukan cerita cegil
Film ini membuat seakan Nikki merupakan wanita gila atau cegil yang berbahaya. Tak heran jika banyak penonton yang merasa kalau ini merupakan kisah horor seseorang yang berada di bawah tekanan/obsesi pasangannya.
Salah kalau mengira Bear yang kejebak sama Nikki. Nikki-lah yang terperangkap karena sihir, atau bisa dibilang pelet (?), dari keinginan Bear. Padahal Nikki dari awal sudah menganggap Bear saudaranya sendiri. Dan bagian awal film juga memberikan clue red flag Bear yang cukup kentara kepada penonton.
Bear tergesa-gesa mengungkapkan perasaannya walaupun sudah ditahan oleh temannya. Ia tak langsung berbicara, tapi maju-mundur dalam perasaannya menegaskan bahwa ia adalah orang yang plin-plan dan tak tegas. Dan ia juga mengungkit kembali panggilan Freaky Nikki, padahal ia tahu kalau itu hal yang membuat Nikki trauma.
Dan Nikki, dia hanya korban. Karena bukan dia yang sebenarnya terobsesi dengan Bear. Dia berada di bawah pengaruh “pelet”. Dia sadar kalau sebenarnya dia tak secinta itu dengan Bear, tapi tak bisa bilang tidak. Dan akting Inde Navarrete mampu menyampaikan perasaan itu. Memang tak salah jika ia digadang-gadang masuk nominasi Oscar tahun depan!
Jika ingin mengerti lebih dalam tentang film ini, coba untuk melihat dari sudut pandang Nikki: wanita yang tak bisa menolak atas apa yang terjadi pada tubuhnya. Termasuk satu adegan ketika mereka berhubungan seksual yang malah terlihat seperti non-consensual sex yang mengarah ke pemerkosaan.
Keseluruhan tema dan eksekusinya membuat film Obsession merupakan salah satu horor yang ngilunya terasa hingga sampai akhir. Bukannya jumpscare, tapi lebih ke ranah horor psikologis. Tak perlu hantu untuk bikin sebuat cerita film horor.