Baifern jadi beringas dengan melakukan berbagai adegan stunt sendiri dalam film My Dearest Assassins. Sayangnya film ini terjebak dalam melodrama mendayu-dayu ketimbang jadi film aksi slow burn yang penuh dengan koreografi nan brutal.
Sinopsis film My Dearest Assassins
Lhan (Baifern Pimchanok Luevisadpaibul) lahir dengan kelainan genetik yang membuatnya memiliki golongan darah yang langka. Ia pun dicari oleh berbagai organisasi kriminal yang tak segan-segan menghabisi keluarganya.
Hampir diculik, ia diselamatkan dan akhirnya dibawa oleh keluarga pembunuh bayaran yang dikenal dengan nama Rumah 89. Lhan kecil tumbuh besar bersama anak-anak di Rumah 89, yaitu Pran (Tor Thanapob Leeratanakachorn) dan M (Sivakorn Adulsuttikul).
Meski Pran sudah tumbuh dewasa, ayahnya belum memercayainya untuk ikut dalam misi. Hingga akhirnya kelompok lainnya menyerang mereka, emosi Lhan bercampuk aduk ketika melihat kembali orang-orang yang telah membunuh keluarganya.
Lebih melodrama ketimbang aksi
Taweewat Wantha yang sebelumnya menghadirkan horor bertemakan olahraga voli dan kisah sekolah berjudul Attack 13 (2025) bertindak sebagai sutradara. Sementara naskah oleh Watthana Veerayawatthana yang juga berkolaborasi dengan Baifern dalam serial aksi Thicha (2024).
Untuk urusan adegan baku hantam yang berdarah-darah, Tawewaat tak perlu diragukan lagi. Mengingat sutradara yang juga mantan aktor ini sudah lebih dulu dikenal dalam karya horor melalui dwilogi Death Whisperer tahun 2023 dan 2024.
Meski bercerita tentang keluarga pembunuh bayaran dan sebagian besar premisnya mengandung nuansa thriller aksi, sayangnya tak terasa dalam eksekusinya. Bahkan adegan aksi dan baku tembak yang ditawarkan bisa dibilang terasa ‘lemah’.
Dengan durasi hampir menyentuh 2 jam, alur ceritanya bergerak cukup pelan untuk sekelas film aksi. Bukan versi slow burn yang memang mengharuskan penonton untuk bersabar dengan cerita yang kompleks, tapi memang campur aduk genre yang tak menemukan pondasi pasti.
Ceritanya cenderung klise dan alurnya kayak film-film aksi pada umumnya. Awalnya dimulai layaknya thriller balas dendam, dipadukan dengan romansa dan trauma dari sudut pandang Lhan. Apa boleh buat, semakin ceritanya berjalan, melodramanya jauh lebih mendominasi.
Ada banyak karakter yang juga memperkeruh cerita. Subplot yang lemah dipenuhi dengan informasi-informasi baru yang tak mempengaruhi cerita dan akhirnya membuat ceritanya terasa bertele-tele.
Penonton yang jeli bisa menemukan beberapa logika film yang patut dipertanyakan. Memang tak sepenuhnya mengganggu, tapi cukup mengusik pengalaman menonton. Cuma sepertinya tak terlalu masalah bagi yang ingin menonton kisah thriller klasik berisikan pembunuhan dan baku tembak.
Lakukan aksi stunt sendiri
Baifern sejak dulu memang dikenal sebagai ratunya film komedi romantis. Paska AI Love You (2022) yang mempertemukannya kembali dengan Mario Maurer, ia lebih sering bermain dalam serial televisi.
Karakter Lhan yang diperankan Baifern punya banyak emosi yang saling bertabrakan. Takut, sedih, marah, dan putus asa terlihat dari karakternya. Namun naskahnya tak mampu menyampaikan dengan lugas seberapa dalamnya trauma yang dialami.
Padahal Baifern punya bekal kuat untuk tampil dalam film ini. Aktris berusia 33 tahun ini terlihat melakukan koreografi stunt-nya sendiri. Adegan-adegan seperti pertarungan tangan kosong bahkan dengan menggunakan pisau membuat karakternya lebih realistis.
Mengingat adegan pada ending film memungkinkan Lhan untuk kembali dengan cerita baru. Menarik untuk dilihat apakah Netflix akan meluncurkan sekuel dan membuat film ini jadi franchise aksi baru di masa depan. Â
My Dearest Assassin lebih cocok sebagai film melodrama aksi khas Hong Kong era 80-an hingga 90-an. Ceritanya klise dan lebih pelan ketimbang film aksi lainnya. Kerennya film ini tentunya melihat Baifern berperan sebagai pembunuh bayaran di tengah resume-nya di genre komedi romantis.