Film Drop hadir sebagai sebuah thriller yang cukup menjanjikan. Tak buang-buang waktu dengan menghadirkan ketegangan demi ketegangan serta twist yang menempel secara efektif, di tengah durasi yang tak terlalu lama buat penonton yang menginginkan cerita seru yang terasa kekinian.
Sinopsis film Drop
Violet Gates (Meghann Fahy) merupakan seorang terapis dan single mother yang baru saja menjanda. Berniat untuk memulai kembali kehidupannya, dia mencoba untuk membuka hati terhadap orang baru. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Henry (Brandon Sklenar).
Setelah mengantarkan anaknya, Toby (Jacob Robinson) untuk diasuh oleh adiknya, Jen (Violett Beane), dia lalu datang ke sebuah restoran untuk berkencan dengan Henry. Pertemuannya dengan Henry pun berlangsung menyenangkan, dimana ia merasa nyaman dengan kehadiran Henry.
Namun semua itu berubah ketika tiba-tiba ada pesan misterius dari Digidrop yang berisikan perintah dan ancaman. Violett disuruh melakukan perintah yang aneh dan makin lama makin berbahaya. Nyawa anak dan adiknya pun terancam jika dia tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh sosok misterius tersebut.
Thriller slow burn yang bikin penasaran
Sebagai sebuah thriller, film Drop memang bukan tontonan yang bikin kamu ketakutan atau membuat penonton tegang setiap saat. Landon yang sebelumnya menjadi penulis untuk Paranormal Activity memang sudah terbukti. Dan sebagai sutradara, Landon menghadirkan sebuah film yang efektif dan tanpa cerita yang bertele-tele. Bahkan durasinya hanya satu setengah jam.
Sama seperti thriller lainnya, film ini dibuka dengan sesuatu hal yang dianggap remeh, yaitu dimana Violet mendapatkan pesan dari orang yang tak dikenal tentang sebuah misi. Awalnya dianggap hanya gurauan belaka, tapi lama-kelamaan keisengan ini malah mengancam sang anak.
Walaupun dari segi cerita maupun premis, film ini belum menyajikan hal baru ketimbang deretan film thriller Hollywood lainnya. Namun penonton bakal disuguhkan dengan cerita yang mengalir dengan berliku dipenuhi misteri dan twist yang bikin penasaran sampai akhir.
Tak banyak adegan kejar-kejaran atau tembak-tembakan yang membabi-buta. Film ini adalah thriller slow burn dengan pace yang pelan, tapi menyerang pemikiran tentang hal-hal yang sudah dianggap biasa: bagaimana bisa kita meyakini bahwa orang yang baru ditemui itu baik dan tidak akan mencelakai kita?
Pertanyaan untuk pengguna dating apps
Sebagai sebuah naskah asli, bukan sekuel atau adaptasi, Drop memiliki premis yang menarik; gimana kalau kamu disuruh untuk membunuh teman kencan yang baru pertama kali bertemu oleh orang yang kamu ga tahu? Pasti bikin penasaran dan tentunya ga enak sepanjang cerita.
Disini Landon mengajak penonton untuk masuk ke dalam pikiran Violet demi bertahan hidup, bagaimana dia bereaksi terhadap hal-hal genting yang disuruh oleh orang tak dikenal tersebut. Apalagi dia melakukan hal tersebut untuk bisa menyelamatkan dirinya dan anaknya.
Menit demi menit, penonton akan dibawa untuk bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada Violet dan Henry, dilanjutkan dengan twist demi twist yang muncul beriringan dengan cerita. Apalagi penulis Jillian Jacobs dan Chris Roach menggunakan teknologi untuk membuat ceritanya terasa lebih fresh dan relate dengan masa kini.
Film ini menyoroti bagaimana online dating, dimana seseorang bertemu dengan orang lain tanpa tahu latar belakang bisa menjadi suatu hal yang berbahaya. Padahal aplikasi dating apps merupakan salah satu platform yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat modern saat ini.
Mungkin film Drop tak bisa disandingkan dengan thriller yang benar-benar membabi buta. Tapi film ini bisa jadi tontonan buat kamu yang pengen cerita yang ringan dan menegangkan, tapi tetap menyenangkan. Setidaknya di tengah gempuran film-film Indonesia di bioskop, film ini bisa jadi alternatif yang sangat menarik.