Categories
Review Serial TV

Review Serial Resident Evil: Infinite Darkness (2021): Nostalgia Bergaya CGI

Serial Resident Evil: Infinite Darkness merupakan adaptasi terbaru dari franchise horor milik Capcom setelah Resident Evil: Vendetta tahun 2017 silam. Mengangkat sutradara Eiichirō Hasumi, adaptasi ini merupakan yang pertama sebelum Netflix meluncurkan seri live-action yang masih dirahasiakan tanggal perilisannya.

Animasi ini menceritakan tentang Leon S. Kennedy (Nick Apostolides) yang kembali ke Gedung Putih setelah menyelamatkan putri Presiden di Spanyol (dalam game Resident Evil 4 tahun 2005). Bersama dengan agen Shen May (Jona Xiao) dan Jason (Ray Chase), mereka membunuh staf kepresidenan yang terjangkit virus T.

Leon dan Claire di Resident Evil
via Netflix

Setelah kejadian tersebut, ia bertemu dengan Claire (Stephanie Panisello) yang sedang mencari bantuan untuk pengungsi di Penamstan yang hancur setelah perang saudara. Bersama dengan Jason dan Shen May, Leon mencari tahu siapa di balik serangan virus tersebut. Dengan kejadian perang saudara di Penamstan sebagai petunjuk penting.

Kembalinya Claire dan Leon

Serial ini akhirnya mempertemukan kembali Claire dan Leon, meski keduanya menjalani sebagian besar cerita secara terpisah, layaknya Resident Evil 2 (1998). Leon yang telah bekerja untuk pemerintah setelah RE 2 dan menyelamatkan putri presiden di RE 4 semakin disegani di Gedung Putih. Sedangkan Claire bekerja di TerraSave untuk membantu pengungsi di Penamstan.

Leon S. Kennedy
via Netflix

Ceritanya fokus kepada Leon yang menyelidiki upaya peretasan dan kemunculan zombie di Gedung Putih. Sementara itu, Claire menemukan gambar dari pengungsi negara fiksi Penamstan yang menggambarkan serangan zombie. Kedua peristiwa tersebut saling berhubungan hingga nantinya menjadi benang merah yang mengikat seluruh episode Infinite Darkness. Formula yang sama dengan kebanyakan game Resident Evil.

Resident Evil: Infinite Darkness terjadi di antara peristiwa RE 4 dan RE 5 (2009) yang fokus terhadap genre aksi. Tapi serial animasi ini mengandalkan drama dan ketegangan tentang fakta zombie dan senjata kimia sepanjang empat episode. Tapi jangan salah, beberapa adegan gore penuh darah tersaji, termasuk tikus zombie yang sedikit menjijikkan!

BACA JUGA  Noob Expert: Warframe - Game Free to Play yang Wajib Anda Mainkan
review serial Resident Evil: Infinite Darkness
via Netflix

Harus diakui bagaimana plot diberikan dengan baik meski penuh dengan kompleksitas dan konspirasi yang menjadi inti dari seri Resident Evil. Terkesan lebih tertata dan menarik jika dibandingkan dengan beberapa adaptasi animasi maupun film Resident Evil sebelumnya.

Berbeda dibandingkan versi game, serial ini tak begitu menegangkan maupun menakutkan. Pace antar adegan yang cenderung lambat memang membantu meningkatkan ketegangan, tapi tak jarang membosankan. Sedikit terbantu alur konspirasi yang menarik, sayang krisisnya semakin menurun di episode akhir.

Mengulang ketenaran Resident Evil

Di akhir era 2000-an, franchise game Resident Evil sukses dengan keluarnya entry keempat yang lebih fokus pada genre aksi meski tanpa menghilangkan kesan seram. Tapi menurun ketika entry kelima diluncurkan tahun 2009. Mengingat kritikus terkesan tak senang dengan alur ‘pria kulit putih yang membasmi zombie berkulit hitam di Afrika’.

RE Infinite Darkness
via Netflix

Menghadirkan nostalgia bagi penggemar lama, namun tetap memberikan ruang bagi penonton baru, Infinite Darkness cukup menarik sebagai tontonan di waktu senggang. Empat episode dengan masing-masing berdurasi sekitar 25 menit dengan ringkas membawa berbagai plot: konspirasi pemerintah, terorisme dan senjata biologis, hingga perang di Timur Tengah.

Berbicara mengenai grafis, Netflix bekerja sama dengan Quebico untuk menghadirkan versi CGI dari franchise ini. Hanya saja sebagian gambar terlihat tak konsisten. Di satu sisi kamu bisa melihat kerutan di wajah presiden dengan jelas, namun lainnya seperti bagian dari cutscene game di adegan lain yang terlihat hampa.

Claire di serial Resident Evil: Infinite Darkness
via Netflix

Tapi tone yang gelap dan remang-remang masih tetap membawa kesan spooky layaknya versi game-nya. Walaupun masih terlihat karakter berbicara di tempat yang sepi dengan background yang terkesan sangat artificial, sepertinya untuk menghemat biaya dan pengerjaan serial ini.

BACA JUGA  PlayerUnkown Battlegound Dirilis dalam Mode Mobile untuk Android dan iOS

Serial Resident Evil: Infinite Darkness menjadi adaptasi baru yang lumayan menyenangkan bagi penonton baru, dan tentu saja menjadi ajang nostalgia penggemar lama yang ingin melihat Leon dan Claire dalam versi CGI. Membawa plot yang kompleks dalam 1 jam narasi; menghibur, walaupun tak bisa mempertahankan ketegangan hingga akhir cerita.

Genre: Horor, Aksi

Sutradara: Eiichiro Hasumi

Penulis: Hiroyuki Kobayashi

Pengisi Suara: Nick Apostolides, Stephanie Panisello, Jona Xiao, Ray Chase

Rekomendasi Serial TV
60%

Summary

Serial Resident Evil: Infinite Darkness menjadi adaptasi baru yang lumayan menyenangkan bagi penonton baru, serta menjadi ajang nostalgia penggemar lama yang ingin melihat Leon dan Claire dalam versi CGI. Membawa plot yang kompleks dalam 1 jam narasi; menghibur, walaupun tak bisa mempertahankan ketegangan hingga akhir cerita.

By Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Leave a Reply