Review Serial Deadly Class (2019) – Melihat Moralitas dari Sisi yang Lebih Gelap

Remaja yang diperbolehkan membunuh akan jadi sangat berbahaya.

cover serial TV Deadly Class

SerialDeadly Class yang ditayangkan oleh SyFy diproduksi oleh Joe dan Anthony Russo (Avengers: Infinity War) dibuat berdasarkan seri buku komik karya Rick Remender.

Mengambil setting tahun 1987, Kings Dominion adalah sekolah dengan peraturan layaknya penjara. Pada dasarnya, anak-anak berperang satu dengan yang lainnya dengan perwakilan dari masing-masing kelompok ras yang dibuat berdasarkan stereotip dunia hitam mereka; yakuza, gangster kulit hitam, kartel Meksiko, hingga neo-Nazi.

Marcus Arguello adalah remaja yatim piatu yang dituduh membakar rumah penampungan. Karena reputasinya, ia bergabung dengan Kings Dominion, sebuah sekolah bagi anak-anak dengan reputasi pembunuh. Pemimpinnya, Master Lin (Benedict Wong) mengajar anak-anak tersebut untuk menjadi “pembunuh yang lebih baik”. Lin mendorong para remaja tersebut untuk menjadi Tuhan, memutuskan siapa yang hidup dan mati untuk membuat “dunia menjadi lebih baik”.

Bukan cerita ‘remaja dan sekolah’ biasa

Empat episode pertama penuh dengan darah, racun, sindiran seksual, dan para remaja yang harus berbaur untuk menyesuaikan diri layaknya SMA pada umumnya. Belum lagi episode berikutnya. Memang, serial ini ditujukan untuk 17 tahun ke atas. Cerita yang penuh darah, *a lot of* graphic image dan beberapa exposing scene tidak mudah ditonton bagi sebagian orang.

review serial Deadly Class
via SyFy

Membunuh dengan memotong leher menjadi hal yang biasa. Bahkan mengoyak perut hingga usus bertaburan. Deadly Class menghadirkan tempat untuk penceritaan moralitas dari sudut pandang yang lebih gelap. Seperti bagaimana membunuh diperbolehkan asalkan untuk ‘kebaikan lebih banyak orang’. Namun untuk sebagian orang, cerita yang disampaikan seringkali bertabrakan dengan moralitas yang dianut selama ini.

Representasi karakter yang luas

Serial ini memiliki karekter yang beragam. Remaja Rusia dengan logat Rusian yang kental dan suara super berat, Englishman punk-rocker, anak seorang Yakuza Jepang, dan anak kartel narkoba dari Meksiko? That’s one hell of a diverse cast, dude. Tidak hanya karakter yang beragam, namun dengan paket stereotip yang ada. Semuanya datang dengan masalah individu mereka sendiri.

karakter Saya, Maria, dan Arguello di Deadly Class
via SyFy

Sayangnya, penggambaran karakter menjelaskan ruang lingkup cerita. Bisa dilihat bagaimana setiap ras dan “latar belakang” masing-masing karakter mendefenisikan sifat serta membuat alur cerita menjadi mudah ditebak. Memang bukan alur cerita secara keseluruhan, karena plotnya masih bisa memberikan berbagai twist yang menarik. Tetapi dari awal, plot dan cerita diambil dari pengembangan karakteristik remaja dari berbagai latar belakang tersebut.

Sebagian besar dari murid yang masuk ke dalam King Dominions dibesarkan dari lingkungan yang salah. Sebagian lainnya merupakan pribadi “baik” namun kejadian yang tak terduga mengubah mereka. But deep inside, they’re just kids growing up in the wrong situation trying to fit in. Ditambah dengan hormon yang berkembang serta masa puberitas, serial ini menyajikan dimensi karakter yang luas.

Tema dan cerita yang dalam

Bukan hanya Deadly Class menunjukan cerita sekolah yang tidak biasa, serial ini juga memberikan tema yang lebih dalam dibandingkan hanya cerita pemberontakan remaja. Latar belakang yang dalam dari masing-masing karakter dikembangkan menjadi plot untuk cerita. Dan tentu saja, stereotip karakter yang dikembangkan dalam latar tahun 80-an dibuat untuk memperkaya tema yang diberikan.

beberapa cast Deadly Class
via SyFy

Plot yang diberikan cukup menarik, namun terkadang kesalahan-kesalahan kecil yang seringkali tidak disadari membuat cerita menjadi sedikit ‘aneh’. Beberapa masalah terkadang bisa dipecahkan dengan cara lain, serta kejanggalan-kejanggalan atau plot hole bisa ditangkap oleh mereka yang tidak terlalu larut dalam cerita. Sebagian alur juga membutuhkan lebih banyak penjelasan. Namun sayang, cerita langsung dibawa berjalan tanpa adanya eksposisi yang membuatnya terkadang membingungkan.

Sinematografi keren

Yang unik dari serial ini adalah konsistensi untuk menggunakan tampilan animasi dalam setiap episode. Sedikit gaya baru untuk menjelaskan latar belakang karakter dengan memberikan sentuhan animasi. Sebuah hal baru dan unik, serta memangkas pekerjaan di balik layar dibandingkan harus mencari pemeran yang lebih muda. Who knows?

review Deadly Class bahasa indonesia
via SyFy

Tak hanya itu, semua adegan juga mendapatkan porsi sinematografi yang keren. Beberapa adegan yang ditampilkan cukup berhasil memanjakan mata. Terlebih mengingat serial ini menghadirkan tone yang gelap. Tetapi sekali lagi, adegan-adegan berdarah serta graphic scene menegaskan target penonton yang dituju: 17 tahun ke atas.

Tidak sempurna, tapi tetap menyenangkan

Masalahnya, tidak ada yang sempurna. Adegan perkelahian (atau bisa dibilang alur pertarungan) yang tidak sempurna hingga logika sederhana yang seringkali dilupakan untuk memberikan kesan dramatis malah jadi sangat mengganggu. Walaupun sebagian besar bisa diterima, tetapi tentu saja membuat kenikmatan menonton menjadi berkurang dengan pertanyaan-pertanyaan “mengapa begini, mengapa tidak begitu.”

review serial Deadly Class SyFy
via SyFy

Secara sederhana, serial Deadly Class bukan hanya menjelaskan tentang kisah remaja dan problematika masa muda. Dibuat dalam cerita yang berbeda namun tetap jika dilihat dari satu sisi memiliki inti yang sama. Meskipun cerita dan tema yang ditampilkan sangat dewasa; melihat sisi moralitas dari sudut pandang yang lebih gelap. Memang tidak dalam bentuk paling realistis, tetapi Deadly Class tetap menyenangkan untuk ditonton.

Rating: 3.5/5


Genre: Action, Crime, Drama

Kreator: Miles Orion FeldsottRick Remender

Jumlah episode: 10 Episode

Bintang: Benedict WongBenjamin WadsworthLana Condor, María Gabriela de Faría, Luke Tennie, Michel Duval, Liam James, Taylor Hickson,

Review
  • Cukup menyenangkan
3.5

Kesimpulan

Secara sederhana, Deadly Class bukan hanya menjelaskan tentang kisah remaja dan problematika masa muda. Dibuat dalam cerita yang berbeda namun tetap jika dilihat dari satu sisi memiliki inti yang sama. Meskipun cerita dan tema yang ditampilkan sangat dewasa; melihat sisi moralitas dalam sudut pandang yang lebih gelap. Memang tidak dalam bentuk paling realistis, tetapi Deadly Class tetap menyenangkan untuk ditonton.

Sending
User Review
( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.